
Jam 4 sore, barulah Sean meninggalkan perusahaan karena memang sudah waktunya pulang kerja. Sepanjang jalan, pria itu menikmati kesuyian bersama radio yang sedang bercerita tentang asmara, sehinga dia sadar akan sesuatu.
Sean menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika melihat toko bunga, dia turun dari mobil dan mengunjungi toko bunga tersebut.
"Bahkan bunga-bunga ini tidak bisa mengalahkan kecantikan istriku," gumam Sean terus memperhatikan bunga yang dikemas secantik mungkin.
Tatapan Sean tertuju pada bunga Lili berwarna kuning di pojok ruangan.
"Butuh bunga apa Tuan?" tanya sang penjaga toko bunga.
"Saya menginginkan bunga Lily itu, tolong kemas secantik mungkin. Harus cantik ya, soalnya ini untuk istri tercinta saya!"
"Baik Tuan."
Diam-diam penjaga toko itu tersebut karena salah tingkah. Entahlah, dia hanya penjual tapi salah tingkah, bagaimana dengan istri pria itu?
"Beruntung sekali perempuan yang menjadi istri pria itu," lirih sang penjaga toko sambil mengunting beberapa bunga Lily untuk dia jadikan buket bunga yang indah.
Sementara di sisi lain, Sean sedang menikmati angin sore di depan toko sambil memainkan ponselnya. Pria itu saling berkirim pesan bersama Alexa.
"Jangan pulang malam, anak-anak kangen sama Husbu!" Isi pesan Alexa.
Sean mengulum senyum.
"Anak-anak kita, apa bundanya?"
__ADS_1
"Anak-anak, aku mana kangen sama kamu."
"Sepertinya malam ini aku lembur Sayang, jadi tidak bisa pulang cepat."
"Baiklah."
"Gemas banget sih istri aku," gumam Sean meremas ponselnya. Mungkin jika Alexa ada di hadapannya, dia sudah menerkam detik itu juga.
"Tuan, bunganya sudah selesai."
"Terimakasih." Sean lantas berdiri lalu mengambil buket bunga di tangan penjaga toko. "Saya minta kertas note, boleh?"
"Boleh Tuan, tunggu sebentar." Gadis itu segera berlari menuju meja kasir untuk mengambil kerta note dan memberikan pada Sean. Dia terus saja memandangi Sean yang telah melajukan mobilnya dan menghilang dari jangkauan.
"Semoga suatu hari nanti aku menemukan pria seperti Tuan itu," gumamnya.
"Kamu jauh dari kriteria aku!" Bukannya menyambut, Ayra berjalan menuju kasir, lantas membuat Arya-pria yang baru saja datang mengikuti Ayra.
"Kenapa kau tidak mau menerimaku Ay?"
"Ay-ay, panggil lengkap! aku tidak mau tahu!"
Arya menghela nafas panjang melihat sikap sahabatnya yang sangat keras kepala. "Ayra, kurang aku apa?"
"Kurang kamu tidak ada, tapi kamu itu sahabat aku Arya," sahutnya mulai menyibukkan diri dengan uang hasil penjualan hari ini.
__ADS_1
"Justru sahabatlah seseorang paling tepat untuk dijadikan pendamping hidup, karena seorang sahabat bisa mengerti semua yang kamu inginkan dan selalu bisa mengimbangi ...."
"Cukup! Sekarang kamu pergi dari toko ini!"
Arya menghela nafas panjang dan segera meninggalkan Ayra seorang diri. Entah sampai kapan pria itu akan menjomblo hanya untuk menunggu kesiapan Ayra untuk menikah.
"Maaf Arya, aku tidak mau merusak persaudaraan kalian," lirih Ayra memandangi kepergian mobil Arya dengan tatapan sendu.
Sebenarnya Ayra juga mencintai Arya, hanya saja Arnold mengejar-ngejar dirinya. Menerima salah satu dari mereka hanya akan memperkeruh suasana.
"Melamun saja, lagi liatin apa sih?"
"Arnold?" Ayra membulatkan matanya tidak percaya melihat Arnold tiba-tiba ada di depannya. Semoga pria itu tidak mendengar pembicaraanya dengan Arya tadi.
"Hm, aku bawa makanan buat kamu. Makan bareng boleh kan? Aku lapar tapi belum makan apapun." Arnold memperlihatkan kresek berisi dua kotak nasi goreng di dalamnya.
Tidak enak menolak, akhirnya Ayra menganggukkan kepala dan mempersilahkan Arnold masuk.
"Duduk di sini, aku akan membuat es teh dulu."
Arnold mengangguk, pria itu mulai mengeluarkan dua kotak nasi goreng dan menyajikanya di atas meja. Dia tidak akan menyerah dengan mudah untuk mendapatkan hati gadis yang sering kali berkunjung kerumah karena berteman dekat dengan Arya.
"Tadi aku melihat Arya mampir."
"Ah iya dia mampir seperti biasa." Cengir Ayra berusaha menutupi kegugupan.
__ADS_1