Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 167 ~ Aku tidak mencintai siapapun


__ADS_3

Karena terlalu marah mengetahui istrinya jalan-jalan tanpa memakai b*ra, Sean berangkat kerja tanpa berpamitan pada siapapun. Keanehan Sean tidak luput dari perhatian Arya sejak tadi.


"Fokus ke depan!" perintah Sean saat sadar sejak tadi diperhatikan oleh asistennya.


Pria itu memijit pangkal hidungnya padahal tidak nyeri sama sekali.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan," batin Sean.


Dia mendongak menatap Arya. "Pulang, saya melupakan sesuatu!"


"Baik Tuan."


Arya langsung memutar balik mobilnya kembali kerumah.


***


"Ayah marah sama bunda padahal bunda tidak sengaja melakukan itu semua. Mana mungkin bunda mau keluar rumah tanpa br*a," lirih Alexa menjentik-jentik pipi Aiden yang menyu*su.


Alexa sedang berbaring di atas ranjang dengan ketiga anak-anaknya yang tampak sangat lucu.


"Berlebihan banget posesifnya." Alexa mencebik.


"Maafin ayah."


"Tidak, kalau ayah pulang tidak ada maaf baginya. Apa ayah pikir dia saja bisa marah, bunda juga bisa. Mentang-mentang ...."


"Maaf Sayang."


Alexa mengigit bibir bawahnya ketika merasakan kecupan di pipi. Wanita itu menarik semua kata-katanya tadi yang akan marah pada Sean, tadi dia hanya tidak sadar kalau yang mengajak bicara adalah suaminya.

__ADS_1


"Husbu pulang?" Alexa membalik tubuhnya setelah Aiden berhenti minum Asi.


"Maaf ya Sayang. Aku terlalu cemburu dan takut ada seseorang yang menikmatinya selain aku."


"Aku juga minta maaf." Alexa tersenyum. Dia mengira Sean benar-benar berangkat dalam keadaan marah.


***


"Bagaimana tentang pria itu?" tanya Sean yang kini duduk di kursi kebesarannya setelah berdamai dengan sang istri di rumah.


"Saya sudah mengirimnya ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik Tuan," jawab Arya.


"Siapa yang menyuruhnya?"


"Mantan suami Nona Delia, Tuan. Sepertinya dia tidak bisa menghancurkan Tuan Ricard begitu saja, itulah mengapa beralih pada anda."


Jalas-jelas Sean tidak ada sangkut pautnya dengan pria itu, malah dirinyalah yang diusik.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sean.


"Membalasnya dengan melakukan hal yang sama!"


Sean mengeleng tanda tidak setuju. "Terlalu pasaran dan menjij*ikkan, Arya."


"Lalu?" Arya mengerutkan keningnya, menunggu ide cemerlang yang selalu keluar dari mulut Sean.


"Cari dokter kencatikan yang benar-benar diakui publik, jangan lupa masukkan produk kita ke perusahaan periklanan yang pasarnya sudah go internasional. Membalas dengan kesuksesan adalal hal yang paling ampuh untuk menjatuhkan harga diri lawan."


"Baik Tuan." Arya mengangguk patuh dan segera meninggalkan ruangan Sean.

__ADS_1


Pria itu akan merealisasikan rencana Sean secepat mungkin agar masalah juga cepat selesai. Hanya diberitahukan ide tidak membuat Arya bingung sebab dia sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan selanjutnya.


Langkah Arya terhenti tepat di samping pintu mobil ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Senyuman pria itu mengembang mengetahui siapa sang pemanggil.


"Akhirnya kamu ada perubahan juga Ay, dulunya aku telpon saja tidak diangkat, sekarang malah menelpon lebih dulu. Kenapa?" tanya Arya setelah menjawab panggilan dari Ayra.


"Aku tidak mencitaimu maupun Arnold, jadi jangan terbebani dengan keberadaanku."


"Maksud kamu apa Ay? Arnod, kamu mengenalnya?" Kening Arya mengerut.


"Apapun itu, intinya aku tidak mencintai kalian berdua, aku sudah punya pacar dan akan menikah sebentar lagi."


Arya memandangi ponselnya bingung setelah sambungan telpon terputus begitu saja.


"Kenapa Ay tiba-tiba bersikap aneh? Apa tadi, akan menikah? Tidak."


Seakan melupakan tugasnya, Arya melajukan mobilnya menuju toko bunga dimana Ayra bekerja beberapa bulan ini. Pria itu harus memperjelas semuanya, kalaupun Ayra harus menikah dengan pria lain, setidaknya Arya harus memastikan pria yang akan dinikahi gadis yang dia cintai adalah orang baik-baik. Dengan begitu dia bisa tenang melepas tanggung jawabnya sebagai seorang sahabat.


"Ay!" panggil Arya setelah sampai di toko bunga. Namun, pria itu tidak menemukan siapapun, bahkan toko bunganya tutup.


"Ayra!"


"Arya!"


Arya membalik tubuhnya dan mendapati Arnold yang baru saja turun dari mobil.


"Kebetulan kita bertemu disini kak."


__ADS_1


__ADS_2