Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 57 ~ Hanya ingin kau tahu


__ADS_3

Sean menundukkan kepalanya tanpa ada bantahan atau membela diri sekalipun di depan Ricard, sebab dia sadar telah salah.


"Kau ingin dipecat dan menjadi adik ipar saya?" Suara Ricard kembali mengintrupsi, kali ini berhasil menganggat kepala Sean yang tertunduk.


Sean bingung sendiri melihat senyuman tulus Ricard, padahal tadi sangat suram dan menakutkan.


"Sepertinya kau sangat mencintai Alexa hingga rela meluangkan waktu untuk bertemu padahal jadwal sangat padat," ucap Ricard.


"Maaf Tuan, tidak seharusnya ...."


"Jika kau serius pada Alexa, maka segeralah datang kerumah untuk melamarnya!"


"Tuan, sebentar lagi presentasi produk baru akan segera dimulai, sebaiknya kita segera bergegas," ucap Sean mengalihkan pembicaraaan dan meninggalkan ruangan Ricard.


***


Satu bulan bukan waktu singkat untuk Alexa lewati. Namun, waktu itu telah dia lewati dengan hidup penuh warna, terlebih dia telah resmi menjadi seorang guru di SMK Angkasa meski hanya honor saja.


Itu semua tidak masalah untuk Alexa, karena yang wanita itu ingingkan sebuah kegiatan bukan gaji semata.


Wanita bermata indah itu menenteng tasnya keluar dari ruang guru setelah jadwal mata pelajarannya telah selesai. Seseorang sudah lama menunggunya di pagar sekolah untuk pulang bersama, itulah mengapa dia begitu terburu-buru.

__ADS_1


Alexa langsung masuk ke mobil setelah berada di depan pagar yang dipenuhi oleh para siswa yang menunggu jemputan masing-masing.


"Kenapa kau mengabari setelah tiba? Bagaimana kalau aku masih ada kelas?" tanya Alexa merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Aku bisa menunggu," jawab Sean. Pria itu mulai melajukan mobil secara perlahan meninggalkan area sekolah.


"Si paling setia menunggu," cibir Alexa melirik Sean. "Apa kita akan langsung ke pengadilan?"


"Tidak perlu, aku sudah membawanya. Sekarang kamu telah resmi berpisah dengan Ziko tanpa membagi harta apapun."


"Kamu memang sangat hendal, Sean." Alexa memberi dua jempol pada Sean.


Semakin hari, hubungannya dengan Sean semakin dekat. Namun, sampai sekarang pria di sampingnya tidak pernah memberi kepastian apapun. Entah menyatakan perasaanya atau sekedar melamar.


Mata indahnya perlahan-lahan terpejam karena sangat mengantuk dan begitu frustasi menghadapi anak-anak disekolah. Namun, disisi lain dia sangat senang karena bisa mengenang masa mudanya.


Alexa membuka mata ketika merasakan sentuhan di pundaknya.


"Sudah sampai."


"Ah ya, aku ketiduran," sahut Alexa langsung melepas sabuk pengaman. "Terimakasih atas tumpangan dan surat certai ini," ucap Alexa. Dia hendak turun tapi tanganya dicegah oleh Sean. Entahlah, sikap pria dihadapannya sangat sulit ditebak. Kadang perhatian kadang cuek.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sangat lelah, istirahatlah yang cukup."


"Hanya itu?" tanya Alexa. Bukankah mengatakan hal seperti itu tidak harus memegang tangan? Alexa mengira Sean akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat jantungnya berdebar tidak normal.


"Aku tahu," sahut Alexa dan turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Sean. Sepertinya pria itu sangat terburu-buru sampai tidak mengantarnya masuk hingga di depan rumah.


"Alexa!"


Alexa yang hendak memasuki pagar rumahnya berbalik dan mendapati Ziko berdiri tidak jauh darinya. Pria yang sangat jauh berbeda dengan pria satu bulan yang lalu.


Tidak ada lagi jas mewah yang melekat di tubuh Ziko, hanya kemeja dan celana kain seadaanya dan tidak terlalu bermerek seperti masih menjadi suaminya.


"Kenapa lagi?" tanya Alexa.


"Aku hanya ingin bertemu karena merindukanmu juga mengucapkan kata perpisahan," ucap Ziko terlihat sangat tulus.


"Sekarang kita sudah bertemu jadi aku harap rasa rindumu itu telah menghilang" balas Alexa. Dia hendak melangkah tapi tangannya ditarik oleh Ziko.


"Maaf karena pernah mengecewakan kamu dan membuat kamu memendam rasa sakit saat masih bersama. Satu bulan ini aku berharap masih ada kesempatan kedua untukku, nyatanya tidak. Yang kau kirimkan hanya surat percerain resmi kita."


"Alexa, aku mencintamu meski tahu cinta itu tidak lagi berguna untukmu. Tapi aku cuma mau kamu tahu perasaan aku yang sebenarnya." Ziko tersenyum dengan wajah pucatnya. Tangan pria itu tidak lagi dibungkus kain khusus.

__ADS_1


"Semoga bahagia dengan pilihanmu nanti."


__ADS_2