Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 193 ~ Tidak kunjung pulang


__ADS_3

Setelah kedatangan Alexa di bandara beberapa hari yang lalu, akhirnya Serin tidak jadi meninggalkan Indonesia. Wanita itu memilih tinggal di tanah kelahirannya bersama bunda dan ibu mertua yang sangat menyanyanginya.


Kebahagian mulai menghampiri Serin maupun Alexa seiring berjalannya waktu, terlebih keduanya sudah akur layaknya keluarga pada umumnya.


Namun, beberapa hari ini Alexa tidak pernah bertemu dengan Serin karena sibuk di sekolah menjelang ujian akhir bagi anak didiknya. Belum lagi wanita itu harus merangkum nilai-nilai para siswa yang menbuat sakit kepala dan dilanda kebimbangan. Bagaimana tidak, Alexa tidak tega memberi nilah KKN untuk anak walinya, tapi menaikkanpun rasanya sangat sulit dilihat dari kehadiran dan kegiatan di sekolah.


"Sudahlah!" pasrah Alexa menutup laptopnya.


Wanita itu memilih pulang kerumah, terlebih jarum jam sudah menunjukkan angka 2 siang, dia tidak punya kelas lagi.


Alexa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Memarkirkan mobil secara aman setelah sampai di rumahnya.


"Sayang?"


Alexa membuka pintu rumah dan mencari keberadaan anak-anaknya yang tentu saja sudah pulang sekolah. Namun, rumah tampak sunyi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


"Ai?"


"Idan!"


"Iden."


Alexa terus saja berteriak sambil berjalan menuju kamar, tapi hasilnya sama saja.


"Ck, kemana sih kurcaci aku?"


Wanita itu duduk di sisi ranjang setelah sampai di kamar. Mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami. Hanya dengan satu deringan, panggilannya sudah dijawab oleh Sean.


"Husbu, anak-anak kemana?"


"Anak-anak sama aku Sayang. Kita lagi jalan-jalan dan belanja banyak hal."

__ADS_1


"Kenapa tidak mengajak aku? Husbu sengaja tidak mau jalan sama aku juga?" Alexa mengembungkan pipinya padahal Sean tidak akan melihat.


"Aku lupa Sayang, anak-anak tadi merengek ingin jalan-jalan."


"Sudahlah, awas saja Husbu jajannya sembarangan sama anak-anak. Tidak ada pelukan ataupun kecupan nanti malam!"


Usai memberikan ancaman, Alexa lantas memastikan sambungan telponnya lalu membaringkan diri dengan kaki menjuntai ke lantai.


Niat hati pulang untuk menenangkan diri bersama anak-anaknya, dia malah merasa kesepian karena ulah sang suami.


"Bisa-bisanya pergi tanpa mengajak aku, apa mereka sudah tidak butuh?" Alexa mulai mengerutu tidak jelas.


Karena mengantuk, wanita itu bersiap-siap untuk tidur, tapi urung ketika ponselnya kembali berdering dengan pemanggil yang berbeda.


Alexa mengerutkan keningnya mengetahui siapa yang menelpon di jam-jam seperti ini. Karena penasaran akan topik yang akan dibahas, Alexa lantas menjawabnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Ricky?" tanya Alexa setelah sambungan terhubung.


Ricky mengelengkan kepalanya di seberang telpon. Pria itu hanya iseng menghubungi Alexa.


"Ulang tahun?" batin Alexa.


Wanita itu kembali mengingat-ingat tanggal berapa sekarang. Dia menepuk keningnya saat sadar hari ini adalah hari lahirnya.


"Bisa-bisanya aku lupa sama tanggal lahir sendiri," gumam Alexa.


"Bu Lexa bicara sesuatu?"


"Tidak ada. Terimakasih pak Ricky ucapannya."


"Sama-sama, apa malam ini Bu Lexa ada waktu? Bagaimana jika makam malam bersama untuk merayakan ulang tahunnya, sepertinya menyenangkan." Ajak Ricky.

__ADS_1


"Maaf pak Ricky, tapi saya akan makan malam bersama suami saya. Sudah dulu ya!"


Alexa langsung memutuskan sambungan telpon sepihak, lalu menghubungi kembali suaminya.


"Husbu!"


"Iya Sayang?" sahut Sean di seberang telpon.


"Husbu ingat ini hari apa?"


"Jum'at."


"Bukan itu."


"Terus apa Sayang? Jangan ganggu dulu lah, aku sama anak-anak lagi sibuk belanja ini. Dah."


"Husbu ...."


Alexa menghela nafas panjang ketika Sean memutuskan sambungan telpon begitu saja. Pria itu benar-benar telah menguji kesabaraanya hari ini.


"Sudah pergi bawa anak-anak aku, sekarang malah lupa sama tanggal lahir istri sendiri. Ternyata benar, semakin tua usia pernikahan keromantisan suamipun semakin menipis," gerutu Alexa.


Karena kesal, wanita itu memutuskan untuk memejamkan matanya, berharap saat bangun nanti, kejutan sudah menanti.


***


Menghela nafas berulang kali, itulah yang Alexa lakukakan ketika anak dan suaminya tidak kunjung pulang padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam.


"Entah kemana Sean membawa anak-anakku sehingga sampai sekarang belum pulang juga." Kini bukan lagi rasa kesal yang Alexa alami, melainkan rasa khawatir di hatinya.


7 tahun yang lalu, tepat di hari ulang tahunnya. Sean kecelakaan dan koma beberapa hari, bagaimana jika tragedi itu terulang lagi?

__ADS_1


"Tidak-tidak mereka pasti baik-baik saja." Alexa berusaha mengusir prasangka-prasangka buruk di pikiranya, tapi sulit. Pikiran itu malah semakin menjadi, terlebih ponsel Sean tidak bisa dihubungi.


"Kalian di mana sih? Perginya dari tadi siang, tapi sekarang belum pulang juga. Apa aku harus mencarinya sekarang?"


__ADS_2