
Alexa berjalan perlahan mengikuti langkah suaminya yang terbilang sangat cepat. Sebenarnya wanita itu ingin membela diri tapi urung melihat raut wajah tidak bersahabat Sean.
"Maaf, harusnya saat tahu ada pria lain aku langsung pulang, bukan malah tinggal dan membuat Husbu cemburu," lirih Alexa setelah berada di depan pintu kamarnya.
Langkah Sean berhenti, pria itu membalik tubuhnya lalu memeluk Alexa cukup erat. "Aku juga minta maaf karena terlalu mengekang kamu, Lexa. Aku hanya tidak suka kalau kamu dekat-dekat dengan pria manapun, hati aku sakit."
"Maaf Husbu."
"Maaf juga karena terlalu emosi dan tidak mengajakmu bicara saat perjalanan pulang," balas Sean.
Alexa mengeleng dalam pelukan hangat suaminya. "Tidak apa-apa namanya juga orang cemburu." Wanita itu tersenyum setelah melerai pelukannya.
Ini yang Alexa sukai dari suaminya, pria itu jika marah hanya diam saja dan setelah perasaanya telah tenang akan meminta maaf sambil memeluk dirinya.
Hal tersebut membuat hubungan Alexa dan Sean baik-baik saja. Tidak ada adu mulut berlebihan sampai menyakiti satu sama lain tanpa sadar.
"Ayo waktunya tidur!" Ajak Sean membuka pintu kamar dan terganga melihat tiga bocah berbaring di atas ranjang.
"Yang sabar Ayah, sekarang harus berlajar berbagi sama anak-anak." Alexa mengulum senyum melihat wajah murung suaminya padahal tadi baru saja tersenyum.
__ADS_1
Namun, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin bukan Alexa mengusir anak-anaknya keluar dari kamar? Yang ada tiga bocah cilik itu semakin menjadi menjahili ayah mereka.
"Bisa di kamar tamu," bisik Alexa.
"Janji ya? Aku sikat gigit dulu." Senyuman Sean kembali terlihat. Pria itu buru-buru masuk ke kamar mandi, sementara Alexa menghampiri anak-anaknya yang telah terlelap di atas ranjang.
Entah sejak kapan tiga bocoh cilik itu berpindah tempat tidur, padahal sebelum pergi mereka berada di dalam kamar masing-masing.
"Seharian ini kita tidak ada waktu banyak ya Nak? Maafin bunda karena terlalu sibuk ya. Besok bunda tidak ada kelas jadi bisa temenin kalian dirumah saja," gumam Alexa mengusap kening anak-anaknya secara bergantian.
Alexa tidak pernah menyangka putra dan putrinya begitu cepat tumbuh. Tinggal beberapa bulan lagi ketiga anak-anaknya akan masuk Sd.
"Itu tandanya mereka pengen dedek Sayang," celetuk Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Anak-anak apa Ayah yang mau dedek? Tiga aja ya? Tapi buatnya setiap hari tidak apa-apa," bujuk Alexa berdiri untuk merapikan rambut suaminya yang sedikit berantakan.
"Ai nggak mau dedek," lirih Aily membuka matanya.
"Kenapa tidak mau?" Sean berjongkok untuk mengecup pipi putrinya yang baru saja bangun.
__ADS_1
Aily mengelengkan kepala dengan mata sayunya.
"Nanti Ayah sama Bunda nggak sayang sama Ai lagi. Nanti kak Idan dan kak Iden nggak mau main sama Ai lagi."
"Ai tidak akan punya dedek lagi jadi jangan cemberut dong. Ayo Ai bobo, sudah tengah malam!"
"Ayah sama Bunda?" tanya Aily.
Alexa dan Sean lantas saling melempar senyum. Keduanya baru saja membuat janji akan tidur di kamar tamu karena Sean sudah lama tidak bermanja-manja. Tapi jika begini alasan apa yang akan Alexa berikan pada Aily?
"Ayah sama bunda masih ada pekerjaan, jadi Ai bobo duluan ya," bujuk Sean.
Seperti mantra, Aily kembali memejamkan matanya. Melihat hal tersebut Sean langsung menarik istrinya keluar dari kamar.
Seakan tidak sabar, Sean mengendong Alexa menuju lantai bawah untuk bebuka puasa sepuas mungkin tanpa diganggu oleh siapapun.
"Akhirnya buka puasa juga." Sean menyengir tanpa dosa setelah membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, pria itu tidak lupa mengunci pintu kamar tamu serapat mungkin.
"Tidak sabaran banget sih suami aku, hm?" Mengalungkan tangannya di leher sang suami.
__ADS_1
"Bagaimana bisa sabar jika istriku secantik ini hm?" Sean menundukkan kepalanya untuk mengecup bibir Alexa yang sangat menggoda.