
Alexa membuka matanya perlahan saat merasakan elusan di kepalanya yang begitu lembut. Dia tersenyum melihat sang suami berdiri dengan gagahnya. Belum lagi rambut basah acak-acakan membuat Sean terlihat sangat tampan.
"Husbu?" gumam Alexa mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya pria yang semalam masih koma kini terlihat baik-baik saja.
"Ayo bangun Sayang! Aku sudah siapkan sarapan untuk kamu dan baby kita," ajak Sean.
Alexa mengangukkan kepalanya antusias dan segera turun dari ranjang, mengikut langkah lebar Sean keluar dari kamar. Langkah Alexa terhenti setelah sampai di dapur, di sana tidak ada seseorang bahkan makananpun tidak tersedia di atas meja.
"Husbu?" gumam Alexa. Wanita itu membalik tubuhnya dan mendapati Sean berdiri di sisi jendela. Tubuh pria itu perlahan-lahan menyatu dengan sinar matahari. Alexa berlari mendekat, tapi belum sempat mengapai tubuh Sean, pria itu menghilang bersama cahaya.
"Sean!" teriak Alexa dengan nafas memburu, setitik air mata mengalir dari sudut mata indahnya hingga membasahi telapak tangan yang sejak semalam dia jadikan bantal.
Alexa mengangkat kepalanya meski terasa berat juga pusing, memandangi wajah damai Sean yang ternyata masih tertidur di atas brangkar.
"Ternyata aku bermimpi," lirih Alexa tersenyum tipis. "Sepertinya aku terlalu merindukanmu," lanjut Alexa mengusap kening suaminya.
"Tidak Lexa, kau tidak boleh menangis lagi, atau Sean akan benar-benar meninggalkan kamu karena cengeng." Alexa mengelengkan kepalanya berusaha menghalau air mata yang hampir keluar dari manik indahnya.
__ADS_1
Alexa langsung membekap mulutnya ketika merasakan mual yang sangat hebat, dia berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan sesuatu di dalam perutnya.
Sejak kemarin, morning sickness Alexa rasakan dan itu sangat menyiksa di pagi hari, untung saja hanya berlangsung sampai jam 9 pagi, jadi dia tidak terlalu kelelahan.
Alexa membilas mulutnya setelah meredakan rasa mual di dalam kamar mandi, dia mengambil tisu untuk mengeringkan tangan dan kembali menemui sang suami yang masih tertidur.
Wanita itu melirik Monitor dan tersenyum. Detak jantung dan alat vital lainnya berjalan normal itu berarti suaminya baik-baik saja. Tapi pertanyaanya, kenapa Sean masih belum bangun?
"Husbu menangis?" tanya Alexa ketika melihat tetesan bening keluar dari sudut mata Sean.
Dia langsung mengambil tisu untuk menghapus air mata suaminya.
Atensi Alexa teralihkan pada daun pintu ketika mendengarnya berdecit. Dia melempar senyum pada bundanya yang baru saja datang membawa kotak makan.
"Sarapanlah dulu Nak, setelah itu pulang untuk istirahat! Biarkan bunda yang menjaga suami kamu," imbuh Kania meletakkan kotak makan di atas meja dan menghampiri Alexa.
Sementara Alexa masih sibuk dengan Sean. "Aku akan sarapan Bunda, tapi tidak untuk pulang. Aku akan menjaga suamiku sampai benar-benar sembuh."
__ADS_1
Alexa meletakkan tisu di atas meja lalu duduk di sofa diikuti Kania.
"Masakan bunda selalu terlihat lezat," puji Alexa.
"Khusus buat ibu hamil bunda." Kania mengusap pundak Alexa yang mulai menyantap sarapannya.
"Aku tidak akan pulang Bunda, jadi tolong bawakan baju ganti untukku."
"Lexa, rumah sakit tidak baik untuk kesehatan kamu juga kandunganmu Nak."
Alexa mengelengkan kepala tanda tidak setuju, dia pernah tinggal di rumah sakit hampir satu bulan lamanya karena seseorang yang sangat dia sayangi.
"Dulu aku juga pernah bermalam di rumah sakit. Lexa sudah terlatih jadi Bunda tidak perlu khawatirkan apapun. Lexa sayang sama Sean juga calon bayi Lexa, jadi tidak mungkin aku membahayakan mereka." Alexa tersenyum tulus pada bundanya.
Dokter pernah mengatakan orang yang koma sebenarnya bisa mendengar sekitar meski tidak terlalu jelas. Orang yang koma akan berusaha bangun jika mendengar atau merasakan keberadaan orang yang dicintainya.
Itulah mengapa Alexa ingin tinggal, sebab dia yakin Sean sangat mencintainya. Dengan dia ada diruangan ini itu bisa memicu kesadaran Sean lebih cepat.
__ADS_1
Mungkin ....