Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 148 ~ Bahagiamu adalah bahagiaku


__ADS_3

Sean tersenyum menanggapi ucapan Alexa, pria itu merentangkan tangannya menunggu sang istri untuk memeluknya.


Melihat itu, Alexa langsung saja masuk kepelukan Sean yang tengah duduk berselonjor di atas brangkar.


"Kenapa menangis hanya karena hal sepele, hm? Hanya patah tulang. Di luar sana banyak orang yang masih hidup tanpa kaki," bisik Sean berusaha menguatkan istrinya. Padahal yang seharusnya dikuatkan adalah Sean sendiri.


"Aku takut Husbu sendih," lirih Alexa.


"Aku sedih kalau yang hilang kepala." Sean tertawa berbeda dengan Alexa yang masih sibuk mengatur nafasnya yang mula tidak stabil sebab hidung tersumbat.


Jika boleh jujur Sean sedih dan kaget mendengar kenyataan bahwa dia tidak bisa berjalan dengan normal seperti dulu, tapi pria itu tidak memperlihatkannya karena tidak ingin Alexa bersedih.


Sean mengusap rambut Alexa. "Kok acem sih istri aku, belum mandi berapa hari?" canda Sean menjawil hidung Alexa yang tersumbat.


"Aku setiap hari mandi kok, yang bau itu Husbu, hampir seminggu tidak mandi," balas Alexa dengan wajah cemberut.


Sejenak wanita itu melupakan bahwa dirinya baru saja bersedih dengan kondisi Sean.


Alexa buru-buru turun dari ranjang saat mendengar pintu berdecit. Wanita itu memperhatikan perawat yang baru saja masuk ke ruang perawatan Sean membawa nampang berisi sarapan pagi.


Nampang berisi susu juga buah dan sebotol air mineral.


"Terimakasih suster," ucap Alexa sopan.

__ADS_1


Suster tersebut mengangguk dan segera meninggalkan ruang perawatan, saat itulah Alexa kembali mendekati suaminya.


"Waktunya sarapan Sayang," cetus Alexa mengambil buah apel di atas nampang yang telah di iris-iris.


"Jangan pedulikan aku Lexa, makanlah juga sesuatu agar anak kita tidak kelaparan. Sekarang kamu harus banyak-banyak makan soalnya ada tiga nyawa di dalam perut kamu," ungkap Sean sambil menerima suapan buah dari Alexa.


"Masih perkiraan dokter Husbu. Kemarin pas aku diperiksa ada tiga katanya, tapi belum pasti karena usia kandungan baru 10 minggu."


"Oh berarti masih ada kemungkinan lima?"


"Kok ngebet mau punya anak lima?"


"Soalnya aku mau, salah minta sama istri sendiri?" tanya balik Sean.


Alexa mengelengkan kepalanya sambil tersenyum malu-malu. Akhirnya setelah menderita berhari-hari cahaya dalam hidupnya kembali lagi.


"Bunda!" Alexa menyambut kedatangan bundanya juga Ricard yang baru saja datang setelah mendengar kabar bahwa Sean telah siuman dan baik-baik saja.


Kania mengulum senyun melihat pancaran bahagia dari manik indah Alexa. "Lihatlah Ricard bagaimana manisnya senyum adik kamu hari ini," celetuk Kania membuat Alexa tersipu.


Ricard tertawa meledek sambil menghampiri Sean yang setengah berbaring. "Hampir saja aku menjodohkan Alexa dengan pria lain karena kamu sudah tidak berguna," canda Ricard.


"Sudah kuduga, makanya aku bangun lebih awal." Sean menyahuti candaan Ricard membuat Kania dan Alexa tertawa.

__ADS_1


Ruang rawat yang semula hanya diisi tangisan oleh seorang wanita kini dihiasi tawa dan senyuman bahagia.


"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Ricard.


"Sangat baik dan akan berguna. Jadi jangan jodohkan istriku pada pria manapun!" jawab Sean mendelik.


"Ah sial padahal aku sangat ingin menjadikan Ziko adik iparku lagi."


"Ricard!"


Ricard menyengir tanpa ada rasa bersalah meski sudah ditegur oleh tiga orang di hadapannya.


"Tenang Bunda, Ziko sudah ada di kantor polisi kok." Ricard mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Ziko?" tanya Sean tidak mengerti.


"Hm, mantan suami istri kamu. Dia kerjasama dengan Serin, itulah kenapa sekarang kau berada dirumah sakit," sahut Ricard.


Pria itu menepuk pundak adik iparnya. "Cepatlah sembuh, aku muak mengerjakan urusan perusahaan. Lagipula aku bukan presdir lagi," omel Ricard.


Pria itu menghampiri bundanya kemudian mencium pipi Kania dan Alexa secara bergantian.


"Aku masih ada urusan," imbuh Rircard dan meninggalkan ruang perawatan.

__ADS_1


Sekarang di dalam sana sisa Kania, Alexa dan Sean saja yang saling bertukar cerita satu sama lain. Tatapan Sean tidak pernah lepas dari Alexa yang sedang menikmati makanan yang dibawa bundanya.


Dia tersenyum. "Jika menyembunyikan rasa sakitku akan membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya Lexa," bantin Sean.


__ADS_2