Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 160 ~ Melahirkan


__ADS_3

6 bulan kemudian.


Perut yang semakin membuncit membuat Alexa kesulitan untuk berjalan, terlebih diperutnya ada tiga nyawa yang harus dia bawa kemana-mana. Wanita itu kini sedang duduk di atas ayunan seorang diri menikmati angin di sore hati.


Alexa tidak lagi tinggal dirumah orang tuanya ataupun di apartemen, melainkan rumah baru yang baru saja Sean beli untuknya beberapa bulan yang lalu.


Wanita itu menunduk untuk mengelus perutnya yang lumayan besar. Rasa sakit sedikit demi sedikit Alexa rasakan, tapi berusaha dia tahan karena sudah terbiasa sejak beberapa hari yang lalu. "Lama banget ya Ayah pulangnya? Padahal Bunda kesepian sejak siang." Alexa mulai mencebik tidak suka.


Biasanya jam 4 sore, Sean sudah pulang tapi hari ini pengeculian.


Alexa mendongakkan kepalanya saat ayunan yang semula berhenti kembali bergerak padahal kakinya tidak menyentuh tanah. Raut wajah kesal wanita itu seketika memudar tahu siapa yang mengerakkan ayunan.


"Akhirnya pulang juga."


"Maaf kau terjebak mecet Sayang." Sean mengecup bibir Alexa lalu memutari ayunan agar bisa duduk berdampingan dengan sang istri.


Jas juga dasi masih melekat dileher pria itu karena baru saja pulang kerja dan menemui istrinya di halaman samping rumah.


Sean menarik Alexa agar bersandar di dadanya, mengelus perut membuncit sang istri sehingga dapat merasakan denyutan demi denyutan di dalam sana.

__ADS_1


"Kayaknya baby kita bakal jago deh main bola, disentuh gini saja sudah nendang gimana dijenguk?" canda Sean mengelum senyum.


"Apansih Husbu, jangan mesum sehari saja bisa tidak?"


Sean mengelengkan kepalanya. "Tidak bisa Sayang, karena kamu nafas saja aku sudah ingin menerkam," bisik Sean menempelkan bibirnya tepat di daun telinga Sean.


"Husbu! Kamu itu bau dan jelek jadi jangan dekat-dekat!" sentak Alexa langsung turun dari ayunan dan berusaha menghindari Sean.


Wanita itu berjalan terburu-buru memasuki rumah. Namun, belum sempat mengapai pintu Alexa menjerit histeris.


"Husbu sakit, aaaakkkhhh!" teriak Alexa merosotkan tubuhnya diatas rumput saat merasakan sakit yang sangat hebat.


"Sayang, kamu kenapa hah? Kamu mau melahirkan?" panik Sean berlari mendekati Alexa. Pria itu berjongkok tepat di di samping Alexa.


"Sepertinya," lirih Alexa memejamkan matanya berusaha menahan sakit di pinggangnya yang seperti akan patah. Cengkrakaman Alexa di lengan Sean semakin keras, berusaha menyalurkan rasa sakit yang dia derita.


Sebenarnya Alexa sudah merasakan sakit sejak tiga hari yang lalu, tapi sakitnya kadang hilang kadang tidak. Barulah hari ini Alexa tidak bisa menahan kesakitan.


"Husbu, ak-aku mau buang air besar!" lirih Alexa dengan keringat mulai membanjiri tubuhnya.

__ADS_1


Sementara Sean yang dilanda rasa kegugupan berusaha mencerna keadaan yang dia alami. Pria itu baru tersadar saat mendengar jeritan disertai cairan bening keluar dari panggal paha Alexa.


"Ketuban aku sudah pecah Husbu, bawa aku kerumah sakit sekarang!" pinta Alexa berusaha tetap terjaga.


"Iya-iya Sayang, kita kerumah sakit sekarang. Arya siapakan mobil!" teriak Sean pada Arya yang entah masih ada dirumah atau tidak.


Pria itu langsung mengendong Alexa keluar dari rumah minimalis yang dia miliki. Air mata jatuh begitu saja membasahi pipi Sean sakin panik dan khawatirnya.


Sean sempat merasa linglung beberapa saat itulah mengapa terdiam tanpa bisa melakukan apapun.


***


Dengan setia Sean duduk di sisi brangkar sambil mengelus punggung tangan Alexa yang terpasang selang infus. Wanita itu belum sadar setelah menjalani operasi Caesar.


"Terimakasih Sayang sudah mempertaruhkan nyawa untuk tiga malaikat kecil kita," gumam Sean dengan senyum merekahnya. Pria itu belum sempat melihat putra dan putrinya karena tidak ingin meninggalkan Alexa sedirian di dalam ruang perawatan.


"Andai saja aku keras kepala, mungkin sekarang jadinya tidak akan seperti ini," gumam Sean.


Pria itu teringat dengan kejadian 6 bulan yang lalu saat dirinya tiba-tiba tidak ingin melakukan operasi karena tidak yakin pada dirinya sendiri. Namun, karena dukungan Alexa akhirnya Sean melakukan operasi pemasangan plant diotak sehingga bisa berjalan seperti orang normal lagi.

__ADS_1


Sean berharap suatu hari nanti tidak ada efek samping yang akan menuncul entah di tubuh maupun bagian kepala.


__ADS_2