
Alexa merengangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur beberapa jam. Wanita itu mengerjapkan matanya perlahan saat silaunya sinar matahari mulai menganggu penglihatannya.
Tatapan wanita itu tertuju pada sosok pria yang rambutnya tampak berantakan di atas sofa. Lingkaran mata menghitam menandankan suaminya kurang tidur. Dia menghampiri Sean yang tampak terlelap meski dalam posisi tidak nyaman.
"Maaf, harusnya aku tidak marah-marah pada Aily semalam," lirih Alexa merasa bersalah pada suaminya.
Wanita itu bergerak mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuh Sean, lalu memperhatikan kamarnya yang tampak berantakan tentu saja ulah suaminya. Namun, Alexa tidak marah sama sekali.
Dia menghampiri box bayi di sisi ranjang, memperhatikan anak-anaknya yang terlelap.
"Maafin bunda ya Ai sudah bentak kamu semalam." Alexa mengelus pipi Aily, setelahnya masuk ke kamar mandi untuk cuci muka lalu membereskan kamar yang tampak berantakan.
"Bibi!" panggil Alexa setelah sampai di lantai bawah.
"Iya Nyonya?"
"Tolong buat sarapan untuk suami saya ya!"
"Baik Nyonya."
Usai memerintahkan sesuatu pada asisten rumah tangga yang bertugas memasak juga membereskan rumah selain kamar, Alexa lantas menghubungi Arya untuk berjaga-jaga jangan sampai menganggu tidur suaminya di pagi hari.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" sapa Arya di seberang telpon yang telah siap dengan setelan jasnya dan akan berangkat ke rumah bosnya.
"Apa ada jadwal penting hari ini?"
__ADS_1
"Ada, tapi jam 2 siang."
"Oke, kalau begitu jangan hubungi Sean sampai jadwal penting itu tiba!"
Alexa langsung mematikan sambungan telpon lalu kembali ke kamar. Senyumnya merekah melihat tangan putranya bergerak melalui celah yang mudah dilihat siapapun.
"Akhirnya anak bunda bangun juga, haus ya nak? Kita minum dulu ya sebelum jalan-jalan pagi," kata Alexa mengajak Aidan bicara yang lebih dulu bangun.
Dengan telaten Alexa menyu*sui putranya, tidak lupa mengganti pempres meski tidak full karena takut terjadi iritasi pada kulit mulus bayi tersebut.
Setelah selesai dan semua anak-anaknya terbangun, Alexa membawanya pergi menggunakam troli untuk tiga bayi tanpa membagungkan Sean.
Dia hanya berjalan-jalan di sekitar rumah sambil berjemur sedikit demi sedikit sebelum mandi.
"Istri saya dimana?" tanya Sean setelah sampai di lantai bawah dan bertemu pelayan yang sedang membereskan rumah.
"Di depan Tuan, sedang jalan-jalan bersama. Oh iya, nyonya berpesan .... Sebelum melakukan sesuatu, sebaiknya Tuan sarapan dulu."
"Tidak, terimakasih!"
Sean berlalu begitu saja untuk mencari keberadaan istrinya, bertepatan Alexa memasuki rumah bersama anak-anaknya.
"Tuh benaran kan Ayah sudah bangun."
"Jangan pergi terlalu jauh Sayang." Sean mengambil alih troli dan mengamit pinggang Alexa.
__ADS_1
"Hanya di depan Husbu, sebaiknya Husbu sarapan dulu dan istirahat. Semalam kurang tidur gara-gara mood aku yang ...."
Alexa tidak dapat melajutkan kalimatnya karena mendapatkan kecupan di bibir. "Sudah tanggung jawab aku sebagai seorang ayah."
"Makin cinta!" teriak Alexa.
Sean yang sudah menjauh dari istrinya segera menoleh sambil meletakkan jari teluncuk di bibir. Menyuruh agar Alexa tidak berteriak sebab si pemalas Aidan dan Aiden tertidur kembali, tidak seperti Aily masih setia menge*mut jari-jari mungilnya setelah berhasil melepas kaus tangan sendiri.
"Kelepasan." Cengir Alexa ikut duduk di samping Suaminya yang duduk di meja makan.
Karena belum sarapan, akhirnya Alexa ikut sarapan bersama suami tercinta yang hanya ada satu di dunia, yaitu suaminya saja-Sean Varos Grady.
Tatapan Sean memicing saat menyadari sesuatu dari tubuh istrinya.
"Lexa, kamu tidak pakai br*a jalan-jalan? Kamu gila?" Menatap Alexa tajam.
"Hah?" Alexa menunduk bahkan memegang buah dadanya untuk memastikan sehingga setitik asi keluar. Benar saja dia lupa pakai pengaman. "Ak-aku lupa beneran Husbu, aku terbiasa tidak pakai selama anak kita lahir makanya ...."
"Makanlah!" potong Sean.
"Husbu, jangan marah. Aku tidak sengaja, lagian tidak ada siapa-siapa diluar. Hanya ada satpam, itupun jauh di depan pagar."
"Makanlah, Lexa!"
__ADS_1