
"Pulang jam berapa hari ini?" tanya Sean pada sang kekasih di seberang telpon.
"Kayaknya setelah makan siang aku sudah pulang Sean, soalnya mau kerumah sakit dulu."
Alis Sean saling bertaut curiga. "Rumah sakit? Untuk apa Lexa, kamu sakit?" tanya Sean dengan raut wajah khawatirnya.
Mungkin jika Alexa ada di hadapan Sean, pria itu sudah membaliknya sana-sini untuk memeriksa dimana letak luka yang diderita calon istrinya.
"Aku tidak sakit, hanya mengurus sesuatu. Kau tidak perlu ...."
"Aku tidak sibuk sama sekali jadi tunggulah sampai aku datang!" titah Sean tentu saja berbohong.
Tumpukan dukumen dari Ricard sangatlah banyak di dalam ruangannya, tapi tidak masalah, Sean bisa lembur untuk menyelesaiakan semuanya. Alexa adalah yang utama untuk Sean sekarang.
"Sean, kau mau kemana?" tanya Ricard ketika melihat Sean melintas di depan ruangannya yang berinding kaca.
Sean berhenti melangkah. "Menemui Lexa Tuan," jawabnya.
"Apa kau sudah menyelesaiakan semua yang saya perintahkan?"
"Sudah untuk hari ini Tuan, saya juga sudah mengurus jadwal Tuan sampai besok."
"Bagus, selama menjalin hubungan dengan adikku kau menjadi sangat rajin," puji Ricard.
Sean hanya tersenyum menanggapi pujian Ricard. Memang Sean lebih rajin karena mengerjakan sesuatu tanpa di perintah lebih dulu, tapi semua itu karena satu dua hal.
__ADS_1
Pertama, agar Ricard tidak menentang hubunganya dengan Alexa. Kedua, agar bisa menemui Alexa lebih cepat jika pekerjaan telah selesai dan tidak merepotkan siapapun.
Sean merapikan jasnya sebelum turun dari mobil setelah sampai di depan SMK Angkasa. Diperhatikannya para siswa yang berlalu lalang di dalam pagar sekolah.
"Om, nyari siapa?" tanya salah satu siswa.
"Nyari anaknya ya Om? Belum pulang lah, orang siswa pulang jam 3," celetuk teman-teman cowok lainnya.
Sean menipiskan bibirnya karena senyum sinis. "Menunggu calon istri!" balas Sean dengan wajah datarnya.
Senyuman Sean baru terlihat ketika mendapati wanita sangat cantik berjalan keluar dari pagar.
"Itu calon istri saya, awas jika kalian menggodanya!" ancam Sean.
"Sean jangan bertingkah konyol, banyak anak-anak yang melihat kita," bisik Alexa.
"Aku hanya ingin memperlihatkan pada mereka bahwa kau kekasihku, apa salah?" balas Sean berbisik.
"Tidak salah tapi ... Sean!" peringatan Alexa melayangkan tatapan tajamnya.
"Baiklah," pasrah Sean. Dia melepaskan amitannya dan beralih membukakan pintu untuk Alexa.
"Bu Lexa, itu beneran calon suaminya?"
"Hm, saya pergi dulu anak-anak. Jangan ada yang bolos!" peringatan Alexa.
__ADS_1
"Bu, calon suaminya jelek!" teriak salah satu cowok berhasil membuat Sean terganggu.
"Sudahlah Sean, ayo masuk!" Alexa menarik tangan Sean agar segera masuk dan tidak perlu meladeni siswanya yang memang sedikit menjengkelkan bagi sebagian orang. Terlebih untuk kelas XI.
"Aku sungguh tidak menyukai mereka Lexa. Apa mereka juga yang sering mengirim pesan padamu?"
"Bukan Sayang, ayolah jangan marah-marah seperti ini." Alexa beralih mengelus punggung tangan Sean. "Mau seberapa besar godaan diluar sana kalau hatiku cuma buat kamu, mereka bisa apa hah?"
Glek, tengorokan Sean langsung mengering mendengar gombalan kekasihnya. Pria itu menarik tangannya dari elusan Alexa hanya untuk mengusap lehernya.
"Kenapa hm?" tanya Alexa.
"Ti-tidak ada aku cuma haus Lexa, tolong ...."
"Ini Sayang." Alexa memberikan botol minummya pada Sean.
Pria itu langsung saja meneguk isi dari botol minum tersebut hingga tandas untuk menghilangkan rasa gerah yang tiba-tiba melanda.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Sean tanpa ingin menatap Alexa yang masih tersenyum menggoda.
Ayolah bagaimana Sean akan marah jika seperti ini? Sungguh calon istrinya sangat mengemaskan dan cantik. Akan sia-sia jika diabaikan begitu saja.
"Mendadak amnesia? Aku kan tadi bilang kerumah sakit, Sean."
"Ah iya aku hanya pura-pura bertanya," gumam Sean membanting setir kemudi untuk putar arah dan belok kiri di perpatan. Itu adalah jalan yang aman dan terihindar dari macet.
__ADS_1