
Pagi hari, suara bersin terus saja terdengar di dalam apartemen, belum lagi tingkah manja yang membuat Sean tidak bisa berangkat ke kantor.
Sejak pagi, Alexa tidak ingin beranjak dari ranjang, juga tidak membiarkan Sean pergi kemanapun meski hanya ke kamar mandi.
"Kita ke dokter ya Sayang? Atau dokter yang kunjungi kita," bujuk Sean mengelus kepala Alexa.
Suhu tubuh Alexa cukup tinggi, belum lagi hidung tersumbat juga kepala sangat pening.
"Afek minum alkohol terlalu banyak."
"Bukan Husbu, tapi memang mau sakit." Alexa terus saja mencari pembelaan karena Sean terus menyalahkannya yang minum dengan orang lain.
"Itu kenyataanya."
"Ya sudahlah, Husbu berangkat kerja saja. Tinggal dirumah bukannya membantu malah buat semakin sakit kepala." Alexa melepaskan pelukannya dan tidur membelakangi Sean.
Sebenarnya Alexa sangat senang karena bangun-bangun telah demam, dengan begitu dia tidak mendapat marah dari suami tercintainya. Senyuman wanita itu mengembang sempurna saat merasakan tangan dingin Sean menyentuh perutnya.
"Baiklah aku yang salah karena gagal menjaga kamu," bisik Sean. "Tunggu di sini, biar aku buatkan sesuatu untukmu," bisik Sean. Pria itu mengecup bibir pucat Alexa dan turun dari ranjang.
Cuci piring menumpuk, Eca dan Eri belum mandi maupun makan. Sungguh pagi ini Sean akan sedikit repot mengurus rumah. Biasanya dia dan Alexa akan membagi tugas, tapi sekarang istrinya sedang sakit.
__ADS_1
"Halo anak manis. Bunda kalian lagi sakit, jadi mandinya sama ayah dulu," sapa Sean pada dua kucing kesayangannya.
"Meong." Eca mengesek-ngesekkan kepalanya di tangan Sean, begitupun dengan Eri.
Di tengah-tengah Sean memberi makan makan kucing kesayangannya, tidak lupa dia menghubungi Kania untuk meminta bantuan.
"Apa Bunda sibuk?" tanya Sean di seberang telpon.
"Sibuk sama cucu, kenapa Nak?"
"Lexa demam dan ingin makan masakan Bunda. Apa Bunda bisa menyiapkannya? Sean akan kesana setengah jam lagi."
Sean hanya bisa meringis mendengar omelan mertuanya, buru-buru dia mengucapkan kalimat perpisahan dan menutup telpon.
Satu yang membuat Sean lega saat ini, Kania akan berkunjung bersama Delia. Itu artinya hubungan menantu dan mertua baik-baik saja.
"Eca-Eri ayo ke kamar bunda," ajak Sean.
Dua ekor kucing tersebut langsung saja mengikuti langkah Sean menuju kamar sebelah setelah dibukakan pintu lebar-lebar. Sementara yang diikuti sibuk menghubungi seseorang.
"Jangan berikan informasi apapun pada istri saya hari ini!" perintah Sean pada orang suruhannya di seberang telpon. Sean tidak ingin Alexa bertindak padahal fisiknya masih lemah.
__ADS_1
Mendengar suara bel berbunyi, Sean mengurungkan niatnya memasuki kamar, berbeda dengan Eca dan Eri yang telah berada di atas ranjang menemani babu mereka.
"Silahkan masuk dokter," ucap Sean membuka pintu apartemennya untuk mempersilahkan dokter masuk. Untung saja Sean telah berhasil membersihkan kekacauan dirumah sebelum kedatangan tamu.
***
Alexa menatap Sean dengan tatapan sulit di artikan, belum lagi bibir manyun wanita itu perlihatkan sebab kesal pada sang suami.
Alexa paling tidak suka jika harus minum obat, dan bertemu dengan dokter tentu saja akan mendapatkan obat.
"Apa keluhan Nona?" tanya sang dokter.
"Sejak bangun tidur suhu tubuhnya sudah tinggi dokter, belum lagi dia flu juga sakit kepala lumayan berat. Ah iya istri saya sering kali ingin muntah tapi tidak jadi," imbuh Sean mendahului Alexa bicara.
Dokter tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya dan mulai memeriksa kondisi Alexa. Senyuman dokter umum itu mengembang saat mendapatkan sesuatu yang aneh dalam tubuh wanita yang dia periksa.
"Kapan Nona terakhir datang bulan?"
"Sejak kita menikah, belum pernah dok. Usia pernikahan kami menginjak tiga minggu." lagi, Sean manjawab pertanyaan yang seharusnya untuk Alexa, hal itu membuat dokter tersenyum.
Dari cara menjawab saja semua orang bisa menebak betapa cinta dan siaganya Sean pada Alexa.
__ADS_1