
Baru saja membuka mata, objek pertama yang dia lihat adalah Ziko yang kini berbaring di sampingnya. Pria yang sulit dia tampik bahwa sangat tampan.
Pria itu tengah menumpu kepalanya dengan sebelah tangan. Jangan lupakan senyum indah yang Ziko berikan.
"Pagi Sayang," sapa Ziko seperti tidak terjadi apa-apa.
Pria itu telah bertekad akan fokus merebut hati Alexa sebelum merencakan hal lainnya. Terlebih kini Ziko sangat susah bergerak karena semua langkahkan diawasi oleh Alexa.
"Bukannya aku tidur di sofa?" guman Alexa.
"Aku tidak tega melihatmu tidur dengan posisi tidak nyaman Sayang, jadi aku menbawamu ke ranjang."
Ziko menunduk hendak mengecup kening Alexa, tapi wanita itu lebih dulu bangun dan masuk ke kamar mandi. Kini Alexa telah terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaanya pada Ziko.
Tangan Ziko terkepal hebat. "Sial, aku mendapat penolakan," kesalnya.
Pria itu segera bangun dan menunggui Alexa keluar dari kamar mandi.
"Sayang, hari ini kita berangkat ke kantor bersama. Jadi tunggulah." Sapa Ziko setelah Alexa keluar dari kamar mandi. Dia mengecup pipi Alexa sekilas sebelum berlalu.
Sementara Alexa yang mendapat kecupan terlihat biasa-bisa saja.
__ADS_1
"Mari kita lihat sampai dimana kau akan bertahan dan sampai dimana usahamu Ziko." Alexa senyum licik.
Dia meninggalkan kamar setelah rapi dengan pakaian kerjanya. Berjalan menuju meja makan dimana Kania dan Ricard sudah ada di sana.
"Pagi Cantik," sapa Ricard.
"Tumben Bun, kak Ricard ramah gitu pagi-pagi," balas Alexa.
"Tau tuh, coba tanya kakak kamu, dia lagi kenapa?"
Alexa sontak melirik kakaknya. "Kenapa tuh?"
"Suami Delia selingkuh."
Memang jaman sekarang pria tidak dapat di percaya lagi. Bahkan pilihan orang tua yang sudah tentu benar malah selingkuh di saat istrinya tengah hamil besar.
"Kaget banget perasaan, bukannya bagus Lexa? Kakak punya kesempatan buat dapatin Delia lagi," ucap Ricard santai seraya mengunyah roti yang telah di lapisi selai oleh bunda Kania.
Alexa mengeleng tidak percaya mendengar respon kakaknya. Bisa-bisanya ada manusia modelan Ricard, dimana bahagia mendengar penderitaan orang lain.
"Ayolah kak, sadar dikit kenapa sih? Meski begitu kak Delia hamil anak ...."
__ADS_1
"Kakak bersedia jadi ayah sambung asal Delia balik sama kak Lexa. Kaka sudah berusaha mencari pengganti dia tapi tidak bisa." Ricard beranjak dari duduknya setelah menghabiskan segelas susu.
Benar-benar Ricard pria bucin berkepala batu. Cintanya terlalu tulus pada Delia hingga mau menerima wanita itu apa adanya, bahkan setelah akan menjadi janda.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan kakak kamu itu Nak. Kamu seperti tidak tahu dia saja."
"Tapi bunda ...." ucapan Alexa harus terjeda sebab sepotong roti telah berhasil membungkan mulutnya.
Mau tidak mau Alexa segera mengunyah roti tersebut.
"Lebih baik kamu fokus sama rumah tangga sendiri. Sekarang sedang marak perselingkuhan, awasi suami kamu baik-baik," nasehat Kania. "Bunda paling tidak mau mendengar hubungan anak-anak bunda hancur karena orang ketiga," lanjutnya.
"Bunda tenang saja, aku tidak akan membiarkan orang ketiga menghancurkan rumah tanggaku. Bukannya kata Bunda, kalau ada benang kusut sebaiknya berusaha untuk uraiakan agar bisa dipakai lagi, tapi ...."
"Kalau memang benangnya tidak bisa terurai, lebih baik diganti agar tidak menyusahkan diri," lanjut Kania.
Seketika tawa wanita cantik berbeda generasi itu pecah di meja makan. Bunda Kania memang mampu buat anak-anaknya tertawa dengan hal-hal sederhana.
"Tuh suami kamu sudah datang, bunda mau ke taman dulu." Pamit Kania setelah melihat Ziko mendekati meja makan.
Baik Kania maupun Ricard, tidak tahu bahwa makan malam yang direncanakan Ziko beberapa waktu lalu untuk mencelakai mereka. Jadi Kania bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi jika kabar ini bocor hingga ketelinga Ricard.