
Jam 10 malam, sudah terlalu malam jika hanya bertamu di rumah seseorang meski kediaman calon istri sendiri. Itulah mengapa Sean memutuskan untuk segera pulan.
Dia berjalan keluar dari rumah mewah tersebut setelah meminta izin pada pemiliknya di dampingin dengan Alexa di samping kiri.
Terjadi kecanggung sepanjang mereka berjalan. Terlebih pada diri Sean sendiri yang belum mampu mengontrol jantungnya yang sejak tadi berdetak tidak normal.
"Aku ...." ucapnya berberangan.
"Kamu dulu aja kalau gitu." Lagi keduanya serentak membuat Sean dan Alexa tertawa karena merasa konyol sendiri.
"Bicaralah!" perintah Sean.
"Hati-hati dijalan, masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan pernikahan, terlebih aku harus menunggu kak Ricard menikah dulu," ucap Alexa.
"Jangan lupa istirahat, kerjakan sesuatu secukupnya saja," ucap Sean. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala Alexa, tapi urung karena merasa ragu.
Meski sangat dekat, Sean tidak pernah melakukan kontak fisik terlalu berlebihan pada Alexa. Terlebih dia tidak bisa melupakan insiden yang sangat memalukan. Mungkin Alexa menanggapinya biasa saja, tapi tidak denganya.
"Dah," ucap Sean akhirnya setelah berada di dalam mobil. Membunyikan klakson sebelum benar-benar pergi. Dia senyum simpul melihat Alexa melambaikan tangannya.
"Baru kali ini aku merasa seperti orang gila," gumam Sean.
__ADS_1
***
Pria bertubuh kekar dengan tinggi 185 cm itu langsung mendudukkan diri di meja patri setelah berada di apartemennya. Di atas meja ada segelas susu yang selalu dia minum sebelum tidur.
Pria itu tidak lain adalah Sean, sangat cool dan terlihat wibawa di luar sana tapi tidak bisa tidur sebelum minum susu.
Perlahan-lahan dia meneguk susu tersebut hingga habis sepenuhnya.
"Sekarang kau harus bekerja lebih giat lagi Sean karena akan menikah," ucapnya pada diri sendiri.
Setelah dirasa telah menyelesaikan semua pekerjaan, barulah Sean menuju kamarnya untuk tidur. Saat akan memejamkan mata, bayangan ketika Alexa menerobos masuk ke kamarnya mulai terlintas.
Malam di mana dia baru saja bekerja sebagai asisten pribadi Ricard, Alexa datang bertamu jam 12 malam dalam keadaan mabuk berat.
Sean mengambil kesucian Alexa malam itu juga. Dia berniat bertanggung jawab tapi ditolak mentah-mentah oleh Alexa dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Di sanalah awal dia jatuh cinta kepada wanita yang ternyata bentuk reinkarnasi dari wanita yang dia cintai di kehidupan sebelumnya.
"Sialan kenapa aku harus teringat lagi?" gumam Sean. Dia merubah posisinya menjadi meringkuk dan memposisikan bantal di atas kepalanya.
Saat mata mulai terpejam, suara deringan telpon terdengar. Entah siapa yang menganggu jam 12 malam seperti ini, Sean berharap itu bukan Ricard yang memberinya pekerjaan. Dia adalah asisten pribadi yang harus siap 24 jam untuk bosnya.
__ADS_1
"Halo?"
"Kamu sudah tidur?"
Glek, kenapa harus bertepatan seperti ini? Di saat bayangan Alexa tidak bisa menghilang dari kepalanya, wanita itu malah menelpon.
"Belum, kenapa Lexa?" tanya Sean berusaha agar suaranya terdengar biasa saja. Gila bukan? Usianya 28 tahun dan sudah melalui berbagai kehidupan tapi dia bersikap seperti anak remaja baru jatuh cinta saat ini.
"Aku cuma mau memastikan sesuatu. Sean apa kau mau menikah karena mencintaiku? Apa wanita yang kau maksud itu adalah aku?"
"Apa aku harus memperjelas semuanya Lexa?" tanya balik Sean.
"Tidak, karena pertanyaanmu sudah menjawab rasa penasaranku. Selama tidur calon suami. Jangan terlalu terbebani dengan pernikahan kita."
Sean memandangi ponselnya setelah sambungan telpon terputus. Senyuman kembali terbit diwajahnya.
"Membahagiakanmu adalah tujuanku Lexa, dan tidak akan aku biarkan seseorang membuatmu menangis," gumam Sean.
Pria itu kali ini mematikan ponselnya agar bisa tidur dengan tenang setidaknya sampai jam 6 pagi
Besok adalah peluncuran produk baru di Jonshon group dan tentu saja itu akan menyibukkanya seharian hingga untuk bertemu Alexa saja tidak bisa.
__ADS_1
"Jangan terlalu bucin Sean karena itu akan membuatmu gila!"