Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 158 ~ 3 hari


__ADS_3

"Sebenarnya terapi hanya untuk tulang kaki Tuan yang patah, bukan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita. Hemiparesis tidak bisa disembuhkan dengan terapi, tetapi operasi. Terlebih penyebabkan adalah pendarahan otak akibat kecelakaan."


"Mungkin saya bisa memberi waktu 7-8 bulan, tapi apa tubuh Tuan bisa. Penyakit yang Tuan derita menyerang secara perlahan, jika tidak segera diobati, bukan hanya kelumpuhan pada kaki saja. Tapi seluruh bagian sisi kiri akan terasa mati rasa."


Sean semakin menundukkan kepalanya ketika ucapan dokter Harun kembali melintas di kepala secara tiba-tiba. Sampai sekarang pria itu sedang mempertimbangkan apa yang akan menjadi keputusannya.


Menjalani operasi dia akan kehilangan masa-masa kehamilan Alexa, tidak menjalani operasi dia akan kehilangan sebagian fungsi tubuhnya.


"Bukan hanya kebahagiaan yang harus dibagi dengan orang tercinta, masalah juga bisa untuk meringankan beban pikiran."


Sean lantas mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara seseorang. Pria itu tersenyum pada ibu mertuanya yang ternyata berada di halaman samping rumah.


"Bunda?"


"Sudah gelap, sebaiknya kamu kekamar untuk menemui istrimu!" perintah Kania dengan senyum tulusnya.


Sean menganggukkan kepalanya dan segera menjalankan kursi roda menuju lift yang akan membawanya ke kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Sean mendapati susu coklat hangat di atas meja. Tatapan pria itu beralih pada Alexa yang tengah berbaring membelakanginya.

__ADS_1


"Tidur lebih cepat hanya akan membuatmu mimpi buruk Lexa, bangunlah Sayang!" pinta Sean dengan suara lembutnya. Pria itu mendekati istrinya, tapi Alexa malah merubah posisi agar tidak menghadap Sean yang berada tepat di sisi ranjang.


"Lexa, kamu kenapa hm? Kenapa sikap ...."


"Sikap aku tergantung seseorang Husbu. Buat apa aku bersikap baik pada pria yang ternyata tidak mempercayaiku untuk merawat dirinya? Alih-alih berbagi masalah, dia menyembunyikannya sendiri!"


"Lexa, aku ...."


"Kau bisa segalanya kan? Maka berdiri dan persiapkan sebuah kebutuhanmu sendiri, tidak perlu mengurus aku dan anak kita!"


"Lexa!" suara Sean naik satu oktaf, membuaf Alexa segera bangun dan menatap suaminya dengan mata memerah, belum lagi bekas air mata yang berada di pipi wanita itu.


Wanita itu baru saja mengetahui penyakit Sean dari Arya bermodalkan ancaman yang tidak berani dibayangkan oleh siapapun.


Hati Alexa bagai disayat-sayat pisau berkarat setelah mendengar penjesalan dari Arya.


"Hemiparesis," desis Alexa.


Sean tersentak kaget, pria itu tidak menyangka Alexa akan mengetahuinya secepat ini padahal dia masih bimbang dengan keputusannya.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak berniat menyembunyikan apapun darimu. Hanya saja aku tidak ingin kamu kepikiran karena itu akan mempengaruhi ...."


"Berhenti membuat alasan yang hanya akan membuatku semakin marah Sean! Piliha saja aku atau kegoisanmu itu!" bentak Alexa di akhir kalimat.


Sean lantas mengelengkan kepalanya. "Aku butuh dua-duanya Lexa," imbuh Sean. Pria itu susah payah meraih tangan Alexa untuk dia genggam.


"Aku akan melalukan operasi tapi tidak sekarang ...."


"Kapan? Setelah seluruh bagian tubuh sisi kiri Husbu berhenti berfungsi?" Sean mengelengkan kepalanya. Tidak terasa air mata ikut mengalir begitu saja seperti Alexa.


"Aku juga butuh dimanja, aku ingin seperti ibu hamil lainnya yang ngidam tanpa menahan sesuatu yang aku suka karena tahu suamiku tidak mampu melakukannya," lirih Alexa menghapus air matanya kasar.


"Husbu mengatakan tidak ingin membuatmu menderita, tapi sekarang ...." Alexa semakin terisak, apalagi saat Sean memeluknya.


"Maaf, tapi beri aku waktu untuk berpikir Lexa. Aku takut akan kembali terbaring dan tidak bisa melihatmu dan anak-anak kita," bisik Sean.


Alexa mengelengkan kepalanya dalam pelukan Sean. "Jangan pikirkan sesuatu yang belum terjadi Husbu, aku yakin kamu bisa bertahan untuk anak-anak kita nantinya. Kumohon setujui saran dokter Harun," pinta Alexa.


"Satu minggu, beri aku waktu selama itu untuk membereskan semua urusan pekerjaan dan memanjakan dirimu Lexa. Setelahnya aku akan ...."

__ADS_1


"Tiga hari!" potong Alexa tidak terbantahkan. "Jika dalam tiga hari Husbu tidak melalukan operasi, artinya hubungan kita berakhir."


__ADS_2