
Sean menghentikan mobilnya setelah sampai di gedung apartemen tempat Jesika tinggal. Turun dan menglilingi mobil hanya untuk membukakan pintu untuk wanita itu.
"Makasih sudah mengantar saya pulang," ucap Jesika merapikan tasnya.
"Sama-sama dan sampai jumpa di lain waktu," balas Sean mengedipkan matanya sebelum masuk ke mobil.
Membunyikan klakson beberapa kali sebelum meninggalkan Jesika yang diam membisu karena sikapnya. Setelah jauh dari gedung apartemen, Sean tertawa sangat puas, merasa konyol dengan sikapnya baru saja.
"Ah sial, karena Alexa aku harus melakukan hal konyol seperti ini." Sean memukul setir kemudi setelah berhenti di suatu tempat.
Apapun akan Sean lakukan untuk melancarkan rencana wanita yang dia cintai. Sebenarnya Sean punya banyak kesempatan untuk mengungkapkan perasaanya. Namun, Sean tidak melakukan hal tersebut sebab takut Alexa akan menjauhinya.
Itulah mengapa Sean lebih memilih menjadi teman dekat dibanding seorang kekasih.
Sean meraih ponselnya yang tergeletak di dasbor mobil. Mendial nama kontak agar tehubung dengan seseorang di seberang telpon.
"Akhirnya kamu menelpon juga," celetuk Alexa di seberang telpon.
"Nona mencari saya?" tanya Sean.
"Kata pelayan, tadi kamu datang kerumah untuk bertemu. Kenapa memangnya?"
"Tidak ada Nona."
"Kau bertemu Jesika dijalan?"
"Hm, saya menggodanya."
"Sean, apa kau gila hah? Saya tidak rela kalau kau pacaran sama wanita modelan dirinya!" Alexa berteriak di seberang telpon, membuat Sean buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Hanya menggoda, bukan pacaran Nona. Saya mempunyai selera tinggi tentang wanita."
"Saya lupa tentang itu," ucap Alexa tertawa yang berhasil membuat Sean juga tertawa.
"Berhati-hatilah Nona. Jesika dan Ziko berencana menyingkirkan anda."
__ADS_1
"Saya tahu Sean, kau tidak perlu khawatir. Sampai jumpa di kantor."
***
Alexa meletakkan ponselnya di atas nakas setelah sambungannya dengan Sean terputus. Dia melirik keluar balkon dan tidak mendapati Ziko di sana.
Dia keluar kamar untuk mencari suaminya dan ternyata pria itu ada di pinggir kolam tengan menerima telpon dari seseorang.
"Sayang, berhentilah marah-marah seperti itu. Aku tidak mungkin beralih hati," bujuk Ziko.
"...."
"Bagaimana mungkin aku bisa menjauh kalau tujuanku adalah membuat Alexa jatuh cinta."
Alexa senyum sinis mendengar pembicaraan Ziko bersama wanita yang dia yakini adalah Jesika.
"Baiklah hari ini aku bakal berhenti mencintaimu Ziko, tapi aku akan membuatmu jatuh cinta. Agar kau tahu cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan," Alexa senyum simpul.
Baru saja akan melangkah, tangannya ditarik oleh pria hingga tubuhnya tersudut ke tembok.
"Delia," lirih Ricard memeluk Alexa sangat erat.
Alexa menghela nafas panjang, dia mendorong tubuh kakaknya agar menyingkir sebelum membimbing menuju kamar.
Setelah berhasil membawa Ricard ke kamar, Alexa membaringkan tubuh Ricard di atas ranjang.
"Ck, bisa-bisanya mabuk lagi. Apa kak Ricard tidak belajar dari pengalaman hm?" omel Alexa.
Jika mabuk seperti ini, maka Ricard akan lebih terlihat seperti adik bagi Alexa.
"Kakak merindukan Delia, Lexa."
"Ayolah kak lupakan dia. Kenapa kakak harus menderita hanya karena manusia?"
"Cinta Lexa!" sahut Ricard mulai merancau setelah miras menguasai tubuhnya.
__ADS_1
Ricard tidak sengaja bertemu Delia dan suaminya tadi, itulah mengapa hati Ricard kembali sakit hingga memutuskan untuk melampiaskannya pada minuman.
"Bucin terus! Lama-lama aku buka biro jodoh buat kakak!" kesal Alexa.
Wanita bermata indah itu melepas sepatuh Ricard sebelum membungkusnya dengan selimut tebal.
"Tidur yang nyenyak kak, dan jangan mengulangi kesalahan yang sama, seperti kakak aku di kehihudapan sebelumnya," lirih Alexa.
Dia meninggalkan kamar Ricard dengan persaan sedih.
"Aku harus mencegah sesuatu terjadi pada kak Ricard. Dikehidupan sebelumnya dia meninggal karena kecelakaan saat mabuk," gumam Alexa terus berjalan menuju kamarnya.
"Darimana hm?"
Alexa tersentak saat tubuhnya di peluk dari samping. Dia tersenyum pada Ziko. "Kak Ricard, kamu dari mana?" tanya balik Alexa.
"Habis bicara sama Clien."
"Sepertinya kamu lebih sibuk dari aku," sindir Alexa.
"Itu karena aku terlalu semangat mengembangkan perusahaan Sayang, juga tidak ingin membuat kamu terbebani."
"Aku terharu mendengarnya."
"Aku mencintamu sungguh," bisik Ziko mengigit kecil telinga Alexa. Entah kenapa setiap di dekat wanita bermata indah itu, rasa nyaman dan tentram tiba-tiba hadirnya di hatinya.
Tidak seperti saat bersama Jesika, setiap saat hanya bertengkar dan bertengkar. Apalagi setelah dia menikah dengan Alexa.
"Ah iya aku baru ingat sesuatu."
"Apa?" Alexa mendongak untuk menatap Ziko.
"Kamu mengatakan sebentar lagi akan ada suara tangisan bayi di rumah ini. Kamu hamil Sayang?"
"Belum, tapi segera kalau kita membuatnya setiap malam," balas Alexa membisik.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku akan hamil anakmu Ziko, sementara sekarang rasa benci perlahan-lahan hadir ketika kau berusaha melenyapkan keluargaku," batin Alexa.