Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 130 ~ Benar-benar pergi


__ADS_3

Langkah Serin berhenti karena tangannya ditarik oleh adik tirinya, dia menyentak dan menatap tajam gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.


"Kenapa kakak harus pergi? Aku senang kalau kakak di sini dan menjadi teman ...."


Ucapan gadis remaja itu terhenti setelah tangan lentik Serin mendarat begitu keras di pipinya. Gadis tersebut menyentuh pipinya yang memerah, tapi apa daya dia tidak punya kekuatan untuk melawan sebab harus menjadi gadis anggun dan baik hati seperti keinginan Jackson, jika tidak dia akan kehilangan segalanya.


"Kenapa kakak nampar aku? Apa segitu bencinya kakak ...."


"Berhenti mengoceh atau kurebok mulut busukmu itu!" imbuh Serin penuh tekanan dan segera meninggalkan rumah.


Langkahnya sempat berhenti saat berpapasan dengan Jackson di ambang pintu, tapi Serin tidak menolehkan kepalanya sama sekali. Berbeda dengan Jackson yang terang-terangan menatap putrinya.


Pria paruh baya itu tidak menyangka Serin akan berusah pikiran dalam waktu satu malam saja.


"Pastikan dia sampai dengan selamat dan tidak terluka!" ujar Jackson pada Arnold dan berlalu pergi.


Arnold mengangguk patuh dan segera mengejar Serin yang ternyata sudah lebih dulu berada di dalam mobil. Dia ikut masuk setelah memasukkan koper di dalam bagasi.


Pria itu melirik Serin sekilas sebelum melajukan mobil dengan kecepatan pelan. Andai saja Serin bisa menata hidupnya menjadi lebih baik dan tidak terobsesi akan cinta, mungkin wanita itu akan masuk nominasi putri perbisnis tercantik karena parasnya.


Atau mungkin saja hal itu pula yang membuat Serin begitu gila karena ditolak oleh seorang pria, padahal Visualnya sangatlah dinantikan banyak pria.

__ADS_1


"Berhenti menatapku!" tegur Serin.


"Maaf Nona, tapi ada sesuatu di kepala anda."


Serin melengos dan segera membuang sesuatu dari rambutnya. Ternyata daun kering yang kecil, mungkin itu terjatuh saat dia berdiri di bawah pohon halaman rumahnya yang asri.


Sepanjang jalan menuju bandara internasional, tidak ada yang membuka pembicaraan lagi antara Serin dan Arnold yang notabenya hanya seorang pengawal. Pria itu turun dan buru-buru membukakan pintu untuk Serin setelah sampai di bandara.


"Kau tidak perlu mengantar aku masuk!" cegah Serin menarik lengan Arnold agar berhenti menatir kopernya.


"Perintah tuan Jackson adalah hal yang harus saya patuhi. Mari Nona," sahut Arnold mengayungkan tangannya mempersilahkan Serin berjalan lebih dulu.


Karena terpaksa dan tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang sepertinya mulai mengenali dirinya, dia melangkahkan kaki mengikuti Arnold.


"Masuklah Nona!" perintah Arnold karena hanya bisa mengantar setengah jalan saja. "Tolong kabari saya jika Nona sudah sampai."


"Hm." Tanpa berpikir panjang, Serin mulai melangkah menjauhi Arnold.


***


"Katanya ibu hamil ya?" tanya gadis remaja mendekati Alexa yang tengah duduk di salah satu bangku kantin menikmati sekotak buah yang diberikan Sean tadi.

__ADS_1


"Dengar dari mana?" tanya Alexa.


"Angkatan saya sudah tahu semua bu. Awalnya kami sedih karena takut ibu nggak masuk ngajar lagi, tapi sekarang senang," cengir siswa tersebut.


"Pastikah ibu balik lagi, kaliankan anak-anak baik," sahut Alexa dengan senyumnya.


Lama kelamaan, kursi yang di tempati Alexa semakin ramai oleh siswa kelas XI, mungkin karena Alexa tipe guru yang bisa menjadi seorang teman.


"Oh ibu Lexaku sayang!"


Sontak semua remaja yang ada di bangku itu termasuk Alexa, menoleh ke sumber suara. Ternyata ada siswa laki-laki yang tengah membawa gitar bersama teman-temannya.


Empat laki-laki itu langsung bergabung tanpa izin lebih dulu.


"Awas suaminya bu Lexa marah!" ujar siswa lain memperingatkan.


"Nggak takut gue," imbuh siswa yang memegang gitar.


Laki-laki itu kembali memetik tali gitarnya dan melantungkan pantun gombalan pada Alexa.


Sementara Alexa hanya bisa tersenyum menanggapi candaan siswa-siswanya. Sangat jarang memang menemukan momen dimana guru dan Siswa berteman baik. Maka dari itu mereka sangat bersyukur bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Berbeda dengan guru tetap yang sedang berdiri di ambang pintu kantin yang menatap tidak suka pada Alexa, sebab bisa mendapatkan hati siswa dengan mudahnya.


__ADS_2