
Jika dulunya meja makan akan terasa sangat canggung karena keberadaan Ziko, maka kali ini telah berbeda. Ricard tidak lagi meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menghabiskan sarapan lebih dulu.
Pembicaraanpun mengalir layaknya air sungai.
"Aku mau mengundurkan diri dari perusahaan Kak, tujuanku sudah terpenuhi," celetuk Alexa mengutaran keputusannya.
Ricard melirik Alexa. "Begitukah? Apa tidak bisa dipikirkan lagi?"
"Sejak dulu aku malas berurusan dengan dunia bisnis kak. Aku mau menjadi guru saja."
"Ck," decak Ricard. "Sebentar lagi ada peluncuran produk kecantikan terbaru Lexa, apa tidak bisa kamu mendalami bisnis lebih dalam lagi? Perusahaan baru-baru saja menobatkan kamu, Sayang," bujuk Ricard.
"Ricard, jangan paksa adik kamu melakukan hal yang tidak dia sukai," timpal Kania.
"Tuh bunda saja setuju kak." Alexa senyum penuh kemenangan.
"Baiklah, kakak akan mengambil posisi semula tanpa mengeser posisimu. Biarkan orang mengenal kamu sebagai presdir," pasrah Ricard. Dia meneguk segelas air setelah berhasil menghabiskan sarapannya.
Sepertinya dia akan kembali sibuk lagi dan tidak punya cukup waktu menemani Delia, terlebih produk baru akan segera diluncurkan. Dimana perusahaan Jonshon Group akan sangat sibuk.
__ADS_1
"Makasih kak, aku sayang sama kak Ricard," ucapnya penuh senyuman. Alexa mungkin sesekali akan berkunjung ke perusaaan tapi tidak ingin berurusan lagi. Cita-citanya sejak awal adalah menjadi guru agar bisa dekat dengan anak-anak.
"Pagi Nyonya, Tuan, Nona," sapa Sean yang baru saja datang sebab jarum jam sudah menunjukkan angka 8. Ya setertib itulah pria satu ini.
"Kebetulan kamu datang pagi, ayo sarapan sama kami dulu!" ajak Kania menarik kursi tepat di samping Alexa.
"Terimakasih Nyonya," sahut Sean memilih duduk di samping Ricard.
"Hari ini kamu kembali menjadi asisten saya Sean, karena presdirmu mengundurkan diri." Ricard terkekeh seperti mengejek Alexa membuat Alexa marengut kesal.
"Tentu Tuan," sahut Sean yang terlihat jauh berbeda hari ini.
Laju mobil hitam dengan kecepatan sederhana mengusai jalan raya yang tidak terlalu padat. Pemiliknya tengah menyetir dengan sebelah tangan sebab tangan lainnya masih cedera dan dibungkus sebuah kain khusus.
Pria itu tidak lain adalah Ziko, dia menginap di atas mobilnya semalaman karena tidak menemukan tempat tinggal. Tujuan Ziko kali ini adalah kantor polisi untuk menjenguk Jesika.
Setelah memarkirkan mobil dengan aman, Ziko melangkah memasuki kantor polisi dengan wajah tidak bersalah. Mengatakan tujuannya pada petugas hingga kini dia telah bertemu dengan Jesika.
"Bagaimana kabar kamu Jesika?" tanya Ziko penuh senyuman.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa melihatnya hah? Dasar pria tidak tahu diri! Harusnya saat kecelakaan itu kau mati saja!" maki Jesika yang terlanjur membenci Ziko. Karena pria itu, kini dia mendekam dipenjara.
"Maafkan aku Jes, aku ditipu oleh Alexa. Dia telah mempermainkan aku. Aku akan setia menunggumu sampai keluar dari penjara, jadi izinkan aku tinggal di ...."
"Enyah dari hadapan aku sekarang juga!" perintah Jesika dengan tatapan kebencian.
Ziko mengelengkan kepalanya, hanya Jesika harapannya saat ini sebelum tangannya sembuh dan mendapatkan pekerjaan.
"Jesija, kumohon ...."
Jesika senyum sinis. "Haruskah aku memberimu kesempatan lagi? Ternyata benar kata Sean, kau adalah penipu yang sangat handal, aku menyesal telah mengenalmu Ziko. Cinta tulus yang aku berikan kau jadikan sebuah tameng untuk memanfaatkan diriku!" bentak Jesika denga mata memerah.
Wanita dengan pakaian tahanan itu berdiri dari duduknya. "Bawa saya pergi pak, saya tidak ingin melihat wajahnya lagi," ucap Jesika dan meninggalkan Ziko.
Kebencian wanita itu semakin menjadi sebab dihasut oleh Sean kemarin.
"Aku harus kemana sakarang," gumam Ziko.
Pria itu langsung meninggalkan kantor polisi dengan tangan kosong, satu-satunya cara agar tetap hidup hanya menjual mobil saja.
__ADS_1
Keinginan Ziko untuk berubah dikalahkan dengan keadan dirinya hingga memikirkan untuk menipu wanita lain diluar sana. Namun, apa mungkin bisa dengan kondisi Ziko saat ini? Bahkan menganti baju saja sangat sulit baginya.