Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 181 ~ Selalu ada


__ADS_3

Arnold melangkahkan kaki lebarnya memasuki rumah mewah milik Jackson yang kini jatuh ketangan Serin sepenuhnya. Bahkan ibu dan saudara tiri Serin telah diusir oleh Griya setelah Jackson meninggal dunia.


Duri dalam rumah mewah tersebut telah hilang, digantikan dengan kebahagiaan rumah tangga Serin juga Arnold meski dibangun tanpa cinta.


"Arnold!"


Langkah Arnold berhenti di anak tangga ketika seseorang memanggil namanya, dia berbalik.


"Iya Bunda?"


"Kalian bertengkar Nak? Pulang-pulang mata Serin memerah dan sampai sekarang belum keluar kamar juga."


Arnold terdiam, pikiran pria itu langsung tertuju pada pembicaraanya di dalam kamar bersama mamanya. Menantu manapun yang mendengar tentu saja akan sedih dan kecewa mendengar perkataan mertuannya.


"Bunda cuma mua bilang, kamu harus perbanyak sabar yang menghadapi mood Serin. Maafin Bunda juga minta kamu nikah sama anak bunda."


"Tidak apa-apa Bunda, Aku mengerti kok. Kalau begitu aku ke kamar dulu."


Mendapat anggukan kepala dari Griya, Arnold segera melangkahkan kaki panjangnya menuju kamar. Membuka pintu secara perlahan dan mendapati Serin duduk memeluk lututnya di atas sofa.


"Kenapa pulang lebih dulu? Bunda juga sepertinya tidak menyuruh kamu pulang," tanya Arnold duduk di samping Serin.


"Tidak ada."


"Kamu dengar semua perkataan Mama?"


"Kalau iya kenapa?" tanya balik Serin.

__ADS_1


Arnold mengelengkan kepalanya, tanpa izin pria itu langsung memeluk tubuh Serin sambil mengelus lengannya.


"Maafin Mama ya."


"Aku memang tidak pantas untuk siapapun, seharusnya kamu tidak menerima permintaan bunda untuk menikahiku. Bahkan di hari pernikahan kita, mama kamu tidak hadir karena tidak merestui pernikahan kita."


"Serin, berhenti memikirkan omongan orang lain. Hiduplah sesuai keinginan kamu sendiri, itu lebih baik." Arnold melerai pelukannya, menatap manik Serin yang kembali berembun entah karena apa, Arnold tidak tahu penyebabnya.


Tangan Arnold bergerak dan menangkup kedua pipi istrinya sambil tersenyum. "Karena aku memilihmu artinya aku siap menerima kelebihan dan kekurangan kamu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan membuatmu senang, aku akan selalu berada di sampingmu dan mengenggam tangan mungilmu ini."


"Terimakasih Arnold."


"Sama-sama istriku," bisik Arnold kembali memeluk istrinya.


Cinta datang karena terbiasa, itulah yang selalu Arnold tanamkan dalam hatinya, sehingga pria itu selalu mendekatkan diri dan membiasakan selalu berada di samping Serin.


"Lelah banget pasti, sini aku pijitin."


Sean yang baru saja dari luar langsung duduk di samping istrinya. Menarik kaki wanita itu agar berada di paha lalu memijitnya secara perlahan.


Lari-lari sore bersama triple A membuat tubuh Alexa terasa sangat remuk, tapi apa boleh buat. Menolak keinginan tiga anaknya sama saja mengibarkan genderang perang di dalam rumah.


"Ada bayaran tidak?"


"Pastilah, memangnya ada yang gratis di dunia ini?" Sean senyum smirk, awalnya pria itu tulus ingin memijat kaki istrinya, tapi terbesit ide jahil yang sangat menguntung bagi Sean.


"Ya sudah tidak perlu, aku juga tidak terlalu ...."

__ADS_1


"Ssstttttt ... diam dan nikmati Sayang."


Sean kembali fokus memijat kaki istrinya yang terlihat memerah. Sesekali pria itu menerima suapan ciki dari Alexa.


"Anak-anak ...."


"Ayah!"


Belum juga Alexa selesai bicara, ketiga anak-anaknya sudah berada di dalam kamar bersimbah keringat. Entah darimana Triple A sehingga ngos-ngosan seperti itu.


"Habis dari mana?" tanya Alexa.


"Habis ngitung lantai Bunda," sahut Aiden masih mengatur nafasnya yang memburu.


"Sudah tahu jumblahnya berapa?" Kini Sean yang bertanya.


Lantas Triple A mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ai tuh, Yah. Kan Idan nyuruh Ai ngitung eh dia malah lupa!"


"Kok Ai? Ai kan nggak sengaja lupa. Harusnya kak Idan sama Iden itung juga tadi!" Sanggah Aily tidak terima disalahkan oleh siapapun.


"Benar-benar ya anak-anak bunda, bukannya belajar malah keliling rumah." Alexa dan Sean tertawa melihat anak-anaknya yang masih saja mengatur nafas.


Apapun alasaanya dan apapun yang Triple A kerjakan, yang menjadi biang masalah tentu saja Aily.


Terlepas manja dan cerewet, Aily selalu ingin menang sendiri tanpa tahu perjuangan kakak-kakaknya yang lain.

__ADS_1



__ADS_2