Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 11 - Pertemuan Kembali


__ADS_3

Bila Melihat Kesalahan dalam tulisan baik berupa dialog ataupun narasi, silahkan tulis di kolom komentar dan author akan memperbaikinya.


Dan jika terdapat beberapa masukan ataupun saran baik itu berupa gaya bahasa, tanda baca, dan lain-lain. Kalian juga bisa menyampaikannya di kolom komentar agar author bisa membuat chapter kedepan menjadi lebih baik.


Terima Kasih. (^ω^ )


***


‘Murid? Sejak kapan Giok Kematian memiliki murid?’ batin ketua kelompok anggota Gunung 7 Dosa.


Ketua kelompok itu kebingungan dengan apa yang baru saja Li Yuwen katakan namun dengan cepat ia menghilangkan kebingungan yang dia pikirkan.


“Bila memang benar kau adalah muridnya atau bukan, itu bukan urusanku.”


Kemudian dia melepaskan Aura Pembunuh miliknya untuk menahan tekanan Aura Pembunuh Li Yuwen.


Dia sedikit terkejut karena baru pertama kali ia melihat seorang pemuda yang baru berusia 15 tahun tetapi memiliki Aura Pembunuh yang begitu pekat.


Li Yuwen yang sedari tadi hanya diam saja kemudian mulai bergerak dan berlari cepat ke arah ketua kelompok di depannya.


“Hmph ... seseorang yang tak memiliki Qi ingin melawanku yang berada di Raja kelas 2? Jangan mimpi?”


Dia kemudian mengeluarkan serangan tapak miliknya ke arah Li Yuwen, berharapa agar Li Yuwen sadar akan kemampuannya.


Namun dugaannya tidak terjadi, dia hanya melihat senyum tipis di tepi bibir Li Yuwen, membuat dia sedikit merinding.


“Hanya serangan tapak biasa tanpa Qi? Jangan bercanda.” Li Yuwen juga balas melontarkan tapak miliknya, membuat tapak mereka berdua bertemu.


Hal yang terjadi selanjutnya sedikit mengejutkan, orang yang awalnya membanggakan tingkat praktiknya malah terpental jauh ke belakang hingga menghempas pohon di belakangnya.


Terlihat ketua kelompok itu memuntahkan darah dari mulutnya.


“Ini? Bagaimana bisa ini terjadi?” ucap ketua kelompok itu kebingungan.


Wajar saja, hasil pelatihan yang di lakukan oleh Li Yuwen selama tiga tahun sangat membuahkan hasil.


Kualitas tulang miliknya sekarang adalah Tulang Emas, dan 4 Fondasi miliknya juga sudah sempurna.

__ADS_1


Walaupun begitu Li Yuwen juga tidak hanya duduk diam bermeditasi selama tiga tahun, ia juga melakukan banyak pelatihan tubuh serta bertarung dengan binatang buas yang ada di hutan.


Mengangkat batu besar yang beratnya lebih dari 70 kg, melawan binatang buas seperti Kera Baja yang ukurannya dua kali lipat manusia dewasa di sertai kekuatan yang setara dua harimau dewasa, dan itu semua dilakukan olehnya setiap hari.


Bahkan Li Yuwen juga mencoba melawan beberapa Monster Iblis di tingkat Fana kelas 3, tidak tanggung-tanggung ia juga melawan Monster Iblis di tingkat Raja kelas 1 walaupun pulang tanpa hasil serta menderita luka yang tak sedikit di tubuhnya.


Sedangkan orang yang ada di depannya adalah kultivator yang berada di tingkatan Raja kelas 2 tanpa memiliki Qi yang tersisa di tubuhnya, tentu akan menjadi pertarungan yang mudah baginya.


‘Sial, aku harus pergi dari pemuda ini ... kekuatan fisiknya sungguh besar, aku tidak akan selamat bila melanjutkan pertarungan yang tidak menguntungkanku.’


Ketua kelompok mulai bersiap untuk lari menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya namun tanpa dia duga, sebuah batu yang seukuran kepalan tangan orang dewasa mendarat di kepalanya dengan keras.


“I-ini ... mus-tahil,” ucap ketua kelompok yang di ikuti dengan hilangnya kesadaran miliknya.


‘Ini cukup mudah ... andai saja dia masih memiliki lima atau sepuluh persen Qi di tubuhnya, mungkin mustahil untukku menang,’ batin Li Yuwen.


Usai pertarungan Li Yuwen mendekati tubuh ketua kelompok kemudian mengikatnya dan menyeretnya di tanah, Li Yuwen selanjutnya mendatangi tubuh Yao Jun yang pingsan kemudian menggendongnya di pundak dan mulai berjalan ke arah danau tempat dia beristirahat.


***


Yao Jun lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk kemudian melihat tempatnya berada membuatnya terkejut.


Yao Jun heran kenapa ia bisa berada di bawah pohon dengan danau di dekatnya juga melihat beberapa tanaman herbal menempel di tubuhnya yang terluka.


“Ah ... ternyata anda sudah siuman,” ucap seorang pria dengan suara yang terdengar masih muda.


Yao Jun refleks melihat ke arah sumber suara dan melihat siapa yang berbicara ke arahnya, Yao Jun pikir dia telah di tangkap oleh ketua kelompok yang baru saja dia lawan.


Namun orang yang dia lihat bukanlah orang yang di pikirkannya, hanya seorang pria muda yang terlihat oleh matanya.


Yao Jun menjadi waspada dengan pemuda di depannya dan mulai bertanya


“Anak muda ... apakah kau yang membawaku ke sini? Ada dimana ini? Juga kenapa kau membantuku?” tanya Yao Jun bertubi-tubi.


“Eh ... tenang tuan, aku tidak bisa menjawab semuanya sekaligus,” jawab pemuda itu kaget.


“Aku memang orang yang membawa tuan kesini setelah melihat anda terluka, dan tempat ini adalah tempat tinggalku ... kita berada di danau yang ada di pusat Hutan Seribu Monster.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kau membantuku?”


“Apakah ada alasan untuk menolong orang lain?” jawab pemuda itu heran.


Yao Jun yang mendengar itu kemudian terbatuk kaget, dia sedikit malu dengan pertanyaan yang baru saja ia tanyakan.


Yao Jun pun menurunkan kewaspadaannya kepada pemuda di depannya karena dia tidak melihat sedikit pun kebohongan yang terlihat


di matanya, dan mulai kembali bertanya.


“Jika aku boleh tau, siapa namamu anak muda?”


“Oh maaf, betapa memalukannya aku karena tidak memperkenalkan diri lebih dahulu, Nama margaku Li dan namaku adalah Yuwen.”


“Jadi nama mu adalah Li Yuwen, nama yang bagus,” balas Yao Jun memuji.


“Dan nama tuan adalah?”


“Nama margaku Yao dan namaku adalah Jun, kau bisa memanggilku senyaman yang kau mau.”


“Kalau begitu anda juga bisa memanggil saya senyaman yang anda inginkan.”


Setelah berkenalan mereka berdua berbincang tentang apa yang baru saja terjadi, namun Li Yuwen merasa senang sekaligus sedikit aneh berbicara dengan gurunya, seperti orang yang baru bertemu.


Di kehidupan pertama Li Yuwen gurunya tewas karena ingin melindunginya dari serangan kultivator aliran hitam, tentu saja dia merasa senang setelah puluhan tahun tidak bertemu.


Perbincangan mereka berdua mencapai akhir setelah Yao Jun menanyakan keadaan ketua kelompok yang dia lawan sebelum pingsan, Li Yuwen hanya menunjuk ke sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka berada untuk menjawab pertanyaan Yao Jun.


Di pohon yang di tunjukkan oleh Li Yuwen terlihat seorang pria paruh baya yang sedang di ikat di pohon tempat dia berada.


***


Mohon Maaf karena kemarin tidak update karena ada beberapa kesibukan yang harus di kerjakan oleh author dan tidak boleh di abaikan.


Mohon Pengertian kalian.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2