Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 14 - Kota Kecil


__ADS_3

dua jam lagi berlalu saat Yao Jun dan Li Yuwen kembali berlari keluar dari Hutan Seribu Monster, dan mereka tiba di desa yang sebelumnya telah di binasakan warganya oleh Monster Iblis Serigala Malam.


“Apa yang terjadi disini guru?” tanya Li Yuwen walau dia sudah mengetahuinya.


“Sekitar 4 hari yang lalu terjadi pembantaian di desa ini yang di lakukan oleh Monster Iblis Serigala Malam, aku pergi kesini karena misi untuk membasminya juga mengambil Inti Monsternya,” jawab Yao Jun sambil mengeluarkan Inti Monster dari balik jubahnya.


Yao Jun kemudian meminta Li Yuwen untuk membantu membuatkan kuburan massal bersama dengannya, karena terlihat semakin buruk bila mayat orang-orang tidak bersalah seperti mereka di biarkan begitu saja.


Usai memakamkan semua mayat warga yang ada mereka berdoa sebelum akhirnya pergi kembali melanjutkan perjalanan.


Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka berdua tiba di kota kecil yang kemarin di singgahi oleh Yao Jun, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari makan juga pakaian baru dan topeng untuk Li Yuwen.


Pakaian di butuhkan karena yang Li Yuwen gunakan sudah terlihat lusuh dan terdapat beberapa bagian yang tersobek.


Dan untuk topeng sendiri agar menutupi wajah tampan Li Yuwen yang cukup membuat mereka terganggu seperti yang terjadi saat mereka di periksa di gerbang kota, banyak gadis-gadis muda yang mengerumuni mereka berdua hanya untuk menggoda Li Yuwen.


Paras Li Yuwen sendiri terbilang sangat tampan, bahkan melebihi gurunya sendiri yang dianggap sebagai pria tertampan di kekaisaran.


“Selamat datang ... apakah ada yang kalian cari di toko kami yang sederhana ini?” ucap seorang pria pekerja toko pakaian.


“Aku ingin mencari beberapa pakaian untuk muridku ini, juga sebuah topeng untuk menutupi wajahnya.”


“Baiklah mohon ditunggu.” balas pria itu setelah mengukur tubuh Li Yuwen.


Beberapa saat berlalu pria itu kembali dengan membawa beberapa setel pakaian dan sebuah topeng yang seukuran dengan Li Yuwen.


Tampilan Li Yuwen menjadi lebih baik dari sebelumnya, dia seperti mengeluarkan aura yang beribawa bagaikan tuan muda dari keluarga bangsawan walaupun sudah menutup wajahnya dengan topeng.


Yao Jun membayar semua itu kemudian mereka pergi mencari makan untuk perbekalan di jalan menuju Sekte Pedang Kilat.


***


“Tuan kumohon tenang dan jangan membuat keributan seperti ini,” ucap seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti pelayan.

__ADS_1


“Hmph ... kau memintaku untuk tenang setelah menyajikan arak yang terasa seperti kencing kuda? Jangan bercanda!” balas seorang pria paruh baya dengan tubuh yang besar dan wajah marah.


Tidak ada satupun orang yang berada di ruangan membela sang pelayan wanita, karena mereka sendiri tidak berani untuk menyinggung pria yang sedang marah itu.


“Tapi tuan....”


Perkataan pelayan wanita itu terhenti setelah melihat dua orang pria memasuki kedai, tetapi pria paruh baya yang sedang marah itu tidak memperdulikannya.


“Aku ingin mendapatkan sebuah kompensasi, berikan aku seribu koin emas dan aku akan pergi.”


“Tuan ... itu terlalu banyak, penghasilan pertahun kedai kami bahkan hanya mencapai kurang dari seratus koin emas.”


“Baiklah, aku tidak akan meminta seribu koin emas kepada kalian.”


“Terima kasih tua—” Perkataan pelayan itu dipotong.


“Sebagai gantinya kau harus menjadi budakku,” ucap pria itu dengan menjilati bibirnya sambil menatap tubuh pelayan di depannya.


Pelayan wanita itu mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar ketakutan dengan permintaan pria di depannya.


“Permisi pelayan, aku ingin memesan beberapa arak juga makanan,” ucap salah satu pria yang baru memasuki kedai.


Pria yang sedang marah itu sontak mencari orang yang sedang menentangnya dan menemukan dua orang pria sedang duduk di meja yang berada di pojok ruangan.


Karena merasa dihina, dia pun mendatangi kedua pria itu tanpa pikir panjang dan mengeluarkan tekanan aura dari tubuhnya, bermaksud membuat orang yang menentangnya takut.


Orang lain yang berada di ruangan menjadi tertekan akibat aura yang di keluarkan, bahkan beberapa diantaranya ada yang pingsan juga berlari keluar karena tidak kuat menahannya.


Namun belum sempat dia mencapai meja yang di tujunya, aura yang sebelumnya dia keluarkan menghilang dan di ganti dengan aura yang beberapa kali lipat lebih besar dari miliknya dan terfokus ke arahnya.


Karena tekanan yang mereka rasakan sebelumnya sudah menghilang, mereka bergegas meninggalkan kedai dan tidak ingin terlibat lebih jauh.


Namun berbeda dengan pria paruh baya itu, seluruh tubuhnya menjadi berat hingga berjongkok dan mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


“Se-senior ... mo-mohon senior u-untuk memaafkan junior, ju-junior sudah buta dan ti-tidak melihat kekuatan senior,” ucap pria itu terbata-bata dan terlihat air membasahi celananya.


“Kau sudah menyinggungku, dan hatiku terluka karena itu ... sekarang bagimana kau akan membayarnya?”


“I-itu ... senior kumohon jangan mengambil nyawaku.” Pria itu kemudian bersujud berkali-kali memohon ampunan.


Pria lain yang duduk di meja tertawa kecil melihat yang baru saja terjadi di depannya, “Guru, sepertinya kau sedikit berlebihan.”


“Benarkah? Baiklah aku akan berhenti,” jawab pria yang lain.


“Muridku meminta ku untuk berhenti, sekarang pergilah dari kota ini dan jangan pernah kembali, kalau tidak....”


Belum sempat Yao Jun menyelesaikan kata-katanya tetapi pria yang sedang bersujud itu dengan cepat berlari keluar kedai dan meninggalkan kota.


Yao Jun tertawa melihat tingkah orang itu dan kemudian kembali memanggil pelayan wanita yang ketakutan tadi untuk memesan arak dan makanan.


Pria paruh baya itu berlari keluar kota sejauh yang dia bisa, dan saat di rasa sudah cukup jauh juga tidak ada yang mengikuti, dia menghentikan langkahnya dan mengatur napasnya.


“Sial! Sial! ... kenapa bisa ada kultivator tingkat tinggi di tempat kecil seperti itu,” kata pria paruh baya itu sambil memukul pohon yang ada disampingnya, membuat pohon itu tumbang.


“Aku yang masih berada di tingkat Fana kelas 3 beruntung masih di biarkan hidup oleh senior itu yang di tingkat Raja kelas 3.”


Pria itu menghela napas kemudian muncul tiga orang pria berjubah merah dengan lambang tiga gunung serta topeng di wajah.


“Siapa kalian?” tanya pria paruh baya itu ketakutan karena tiga orang pria di depannya memiliki tingkatan lebih tinggi darinya.


“Jangan takut, kami hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” jawab salah satu dari orang di depannya.


–––



ilustrasi dari Li Yuwen yang matanya sudah di edit karena tidak menemukan yang cocok.

__ADS_1


*ilustrasi dari Pinterest*.


__ADS_2