Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 16 - Yao Jun vs 3 Raja II


__ADS_3

Dua orang yang tersisa menaruh dendam pada Li Yuwen karena mengakibatkan kematian rekan mereka dan mulai maju bermaksud membalasnya.


Namun belum sempat mereka bergerak ke arah Li Yuwen, sebilah pedang tajam melesat cepat mengarah ke leher mereka, tetapi mereka berhasil menghindarinya walaupun sedikit kesusahan.


“Apakah kalian tidak diajarkan untuk tidak mengalihkan perhatian saat bertarung?” Yao Jun mengejek.


Mendengar itu membuat mereka mengumpat keras dalam hati dan menatap Li Yuwen dengan nafsu darah sebelum kembali fokus ke arah Yao Jun.


“Kita abaikan saja dulu bocah itu, sebaiknya kita habisi dulu orang ini agar misi kita cepat selesai.”


Mereka berdua pun kembali memfokuskan diri ke arah Yao Jun dan sesekali mengawasi sekitar karena takutnya Li Yuwen akan kembali menggangu mereka bertarung.


Dan benar saja, Li Yuwen kembali melempari mereka menggunakan batu, dan kali ini jumlah yang di lempar membuat mereka terkejut karena lebih dari sepuluh batu yang dilempar dengan cepat.


‘Kurang ajar, bagaimana bisa bocah tanpa Qi sama sekali di tubuhnya bisa melempar batu sekuat dan secepat ini?’ batin salah satu dari mereka.


Walaupun tidak melukai mereka, tetapi batu itu cukup memberikan sedikit rasa sakit karena kualitas tulang yang di miliki Li Yuwen, juga berguna untuk memecah konsentrasi mereka sembari bertarung dengan Yao Jun.


Batu demi batu terlempar ke arah mereka berdua, butuh banyak usaha untuk menghindari serangan batu-batu itu sekaligus menghindari serangan Yao Jun yang bisa mengambil nyawa keduanya kapan saja.


Sebenarnya walau tanpa bantuan Li Yuwen sekalipun Yao Jun masih bisa mengalahkan mereka berdua, tetapi itu akan menguras tenaga juga Qi yang cukup banyak, terlebih kondisinya sedang tidak berada di puncaknya akibat belum cukup beristirahat.


Hal yang sama terjadi secara terus menerus hingga lebih dari 30 menit berlalu, terlihat sayatan demi sayatan pedang mulai terlihat di tubuh kelompok Gunung 7 Dosa dari jubahnya.


Merasa posisi mereka semakin tidak menguntungkan, mereka pun memutuskan untuk mundur, namun sialnya konsentrasi salah dari dari dua orang itu terpecah dan tidak fokus ke arah batu yang Li Yuwen lempar.


Sebuah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa pun mendarat di antara kedua matanya.


“Apa....” ucap orang itu kaget.


Yao Jun yang melihat kesempatan itu juga tidak menyianyiakannya, dan mulai menyerang ke arahnya.

__ADS_1


Temannya pun menjadi panik dan takut akan kehilangan satu lagi nyawa rekannya, dan memutuskan untuk menyerangnya agar terhindar dari pedang Yao Jun.


Orang itu mulai membentuk segel tangan dengan cepat kemudian mengarahkannya ke rekannya, dan dari tangannya itu keluar sebuah hembusan angin yang cukup deras hingga membuat rekannya terpental.


Walaupun temannya sudah berhasil di selamatkan, namun terlihat sebuah tangan tergeletak di tempat sebelum ia terpental.


Orang itu pun menjerit kesakitan dan mulai mengalirkan Qi miliknya untuk mengurangi rasa sakit juga menghentikan pendarahan di tangannya.


Melihat tangannya yang hilang amarahnya semakin menjadi, dan mulai menatap tajam ke arah Li Yuwen padahal Yao Jun lah yang memotong tangannya.


Rekannya yang lain juga tidak tahan dengan yang Li Yuwen lakukan dan merasa ingin mencabik-cabik tubuh Li Yuwen hingga kebagian terkecil.


“Kau urus bocah itu saja ... Giok Kematian akan kutahan selama mungkin, dan setelahnya kita mundur seusai kau menghabisi bocah itu.”


Mendengar itu membuat hatinya berbunga, karena dia sudah tidak sabar untuk menghabisi Li Yuwen yang menyebabkan kematian rekannya juga terpotongnya tangan miliknya.


“Tamatlah riwayat mu bocah pengganggu.” Terlihat senyum lebar di balik topengnya.


Namun Li Yuwen berhasil menghindari setiap serangan yang mengarah ke tubuhnya, walaupun membutuhkan usaha yang keras untuk melakukannya.


Orang yang menyerang Li Yuwen menjadi semakin kesal karena Li Yuwen yang terus menerus berhasil menghindari serangannya, dan dia pun mulai menyerang secara membabi buta karenanya.


Li Yuwen yang melihat itu tersenyum tipis dari balik topengnya kemudian mengatakan, “Guru! Sekarang!”


Karena kaget mendengar kata-kata yang baru saja Li Yuwen katakan membuat dia menjadi panik dan segera melihat kebelakangnya, namun yang dia lihat adalah rekannya yang sedang bertukar serang dengan Yao Jun.


Melihat itu dia merasa sudah di tipu dan kembali melirik ke arah Li Yuwen, namun bersamaan menolehkan pandangannya ke arah Li Yuwen, sebuah pasir yang cukup banyak mendarat di kedua matanya.


Dia pun menjerit kesakitan akibat jumlah pasir yang masuk kedalam matanya dan saling bergesekan.


Rekannya yang sedang bertarung denngan Yao Jun menjadi panik karena mendengar jeritan temannya, dan refleks mengalihkan pandangan ke arah temannya yang sedang menjerit.

__ADS_1


Dan dalam waktu singkat dia menyadari kesalahan besar yang baru saja dia buat.


“10 Tebasan Kilat,” gumam Yao Jun sembari memberikan sembilan tebasan dengan cepat ke arah tubuh orang di depannya dan satu serangan terakhir yang di fokuskan ke arah leher.


“Sial....” Orang itu pun menghembuskan napas terakhirnya setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya.


Yao Jun setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah satu orang tersisa yang sedang memegangi kedua matanya, dan mulai berlari ke arahnya kemudian memberikan tebasan yang membuat kepalanya juga terpisah seperti kedua rekannya.


Pria malang yang sedang kesakitan itu pun menghembuskan napas terakhirnya.


Yao Jun merasa mungkin akan ada lagi kultivator dari Gunung 7 Dosa yang akan mengampiri mereka, dia pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu bersama Li Yuwen dan mulai melanjutkan perjalanan mereka tanpa beristirahat sejenak.


***


Terdengar suara ketukan pintu di ikuti masuknya seorang pria muda.


“Apa yang terjadi? Apakah Inti Monster di tangan Giok Kematian sudah di ambil?” tanya seorang pria paruh baya dengan rupa yang buruk.


“Itu ... saya memiliki dua laporan tetua.”


Pria muda itu kemudian memberikan laporan yang dia terima tentang tewasnya tiga kultivator tingkat Raja kelas 2 yang di kirim untuk mengambil Inti Monster dari tangan Yao Jun.


Mendengar itu membuat tetua di depannya melepaskan niat membunuh ke arahnya, sontak membuatnya merinding ketakutan.


“Apa laporan yang kedua?” tanya tetua itu dengan nada dingin.


Pria muda itu menenangkan diri dan mulai mengatakannya, laporan kedua yang dia terima adalah munculnya Serigala Malam yang lain dan tak jauh dari tempat mereka berada.


Mendengar itu tentu membuat tetua di depannya menjadi senang dan memerintahkan untuk segera mengambilnya.


“Kirim sebanyak mungkin orang kesana, aku tidak ingin mendengar berita kegagalan yang lainnya keluar dari mulutmu itu.”

__ADS_1


“Baik!” jawabnya singkat.


__ADS_2