
“Kenapa kalian berterima kasih kepada murid Yao Jun itu tadi?” tanya salah seorang murid senior kepada murid yang lain karena mendengar beberapa dari mereka mengucapkan terima kasih dengan pelan ke arah Li Yuwen.
“Kau tidak mengetahui beritanya?”
Salah seorang murid yang mengetahui kejadian sebenarnya kemudian mulai menceritakan bahwa di hari kemarin Tang Lian baru saja di serang oleh seorang pembunuh yang berasal dari Organisasi Gunung 7 Dosa, dan aksi pembunuhan itu di gagalkan oleh Li Yuwen yang kebetulan sedang bersama Tang Lian karena latihan bersama. Murid itu juga menambahkan bahwa pembunuh yang menyusup itu tewas karena serangan kuat yang di lepaskan oleh Li Yuwen.
Karena mengetahui apa yang sudah terjadi, murid senior yang baru saja bertanya itu kemudian melirik ke arah Li Yuwen yang sedang berlari di depan bersama dengan Yao Jun.
‘Terima kasih!’ batin para murid senior itu juga para murid lain yang sudah mengetahui kebenarannya.
“Kemana tujuan kita guru?”
“Kita akan pergi menuju tiga kota yang ada, dan tujuan pertama kita adalah kota Zhao yang hanya berjarak tiga hari dari sekte.”
Mendengar nama Zhao keluar dari mulut Yao Jun mengingatkan Li Yuwen akan sebuah cerita di masa lalu.
‘Kalau tidak salah itu tempat dimana guru mulai bertarung sengit hingga terluka parah melawan seorang bandit yang memiliki julukan Mata Iblis, tetapi berita yang kudengar Mata Iblis berhasil kabur!’
“Ada apa Wen’er?” Yao Jun melihat wajah Li Yuwen yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Tidak apa-apa guru, aku hanya mengingat cerita di masa lalu.” Li Yuwen kemudian melanjutkan lamunannya, ‘Kali ini orang itu tidak bisa di biarkan kabur, karena dia menjadi salah satu pengacau berbahaya di masa depan.’
Diantara serangkaian ingatan yang mengingatkan Li Yuwen pada Mata Iblis, hanya ada satu yang paling dia ingat tentangnya, itu adalah tentang Mata Iblis yang menjadi salah satu akar masalah paling menyusahkan di kekaisaran karena dia sering membantai seisi kota dan hanya menyisakan wanitanya saja untuk di permainkan.
Para wanita dari sekte-sekte besar dan keluarga besar di kekaisaran pun tidak terkecuali, tetapi Mata Iblis beserta kelompok yang dia ikuti terbantai habis oleh suatu sekte aliran netral yang paling kuat karena mencoba menculik anggota sekte mereka.
Cerita pembantaian yang hanya terjadi dalam satu malam itu menyebar luas di dunia kultivasi Kekaisaran Tang dan sering disebut sebagai Malam Es Berdarah.
__ADS_1
Nama es sendiri tidak diambil tanpa alasan, karena memang seluruh area tempat para bandit yang di bantai itu penuh dengan es yang di warnai oleh darah juga mayat para bandit yang membeku di dalamnya.
‘Kudengar patriak sekte itu menjadi begitu haus darah karena cucu perempuannya di culik oleh orang yang tidak di ketahui.’
Karena tidak ingin termakan hal-hal di masa lalu, Li Yuwen mulai berhenti mengingat berbagai hal di masa lalu dan fokus berlari menuju kota Zhao yang akan menjadi area pertempuran mereka yang pertama.
**
Di tempat gunung yang mati, seorang pria muda memasuki ruangan yang di dalamnya berdiri seorang pria paruh baya dengan paras yang buruk rupa.
“Bagaimana? Apakah Tang Jianying mendapatkan kabar kematian putrinya?” Pria buruk rupa itu menyadari kedatangan pria muda itu.
“Tetua Zhong, misi yang anda berikan ... telah gagal di laksanakan.” Pria muda itu berbicara dengan nada sedikit ragu setelah memberi hormat.
Wajah Zhong Peng yang awalnya terlihat sedang tersenyum kini hilang dan berubah menjadi wajah dengan tatapan yang menusuk.
“Bukankah terakhir kali sudah ku katakan aku tidak ingin mendengar kegagalan lagi dari mulutmu itu?” Zhong Peng berbicara dengan nada dingin sekaligus mengeluarkan sedikit niat membunuhnya.
“T–tetua ke tujuh ... semua anggota tingkat fana kelas 3 yang menjalankan misi habis terbunuh, putri kaisar di lindungi oleh anggota pasukan emas darah.” Pria muda itu mulai berbicara ketakutan.
“Lalu bagaimana dengan tingkat raja kelas 1 yang khusus dalam membunuh langsung putri dari Tang Jianying?”
“Berita yang saya dengar putri di lindungi langsung oleh murid dari Giok Kematian, dan raja kelas 1 yang kita kirim tewas di tangannya ”
Kini tidak seperti sebelum-sebelumnya, Zhong Peng menghentakkan kakinya dengan kuat setelah mendengar berita itu, dan dari hentakan kakinya itu membuat retakan yang cukup luas di tempatnya berpijak, tembok bangunan pun runtuh hingga menampilkan pemandangan di luar bangunan, sedangkan pria muda yang terkena langsung efek dari hentakan kaki itu terpental mundur karena hembusan angin yang keluar dari hentakan kaki Zhong Peng.
Pria muda yang baru saja terpental itu kini bersujud ke arah Zhong Peng karena takut nyawanya tidak akan bertahan hari ini, tetapi berbeda dari yang dia pikirkan, dia melihat Zhong Peng hanya bergumam di tempatnya.
__ADS_1
“Giok Kematian, sudah berapa kali kau menunda rencana ku ... dan kini muridmu juga melakukan hal yang sama sepertimu.”
Setelah bergumam beberapa saat, Zhong Peng kini memerintahkan untuk menargetkan Li Yuwen dan Yao Jun, karena menurutnya kedua orang itu mungkin kedepan akan terus menghalangi rencana miliknya.
Tanpa pikir panjang pria muda yang sedang bersujud itu berlari keluar ruangan secepat yang dia bisa.
**
Terdengar suara yang cukup keras hingga terdengar di dalam sebuah ruangan yang di dalamnya sedang duduk dua orang pria dan seorang wanita yang mengenakan cadar di wajah. Salah satu dari dua pria itu berbadan tinggi dan besar, sedangkan pria yang lain memiliki tubuh yang tinggi dan kurus.
Dari suara keras itu mereka bertiga menggelengkan kepala.
“Orang jelek itu sepertinya menghancurkan tempat tinggalnya lagi.” Wanita yang mengenakan cadar membuka suara.
“Tetua ke keempat jangan seperti itu, walau sekarang dia jelek tetapi dulu dia cukup tampan, kau bahkan sempat menyukainya.” Pria tinggi kurus membalas.
“Itu dulu dan bukan sekarang, lagipula wanita yang jelek pun belum tentu mau menikahinya.”
Setelah wanita bercadar mengatakan hal itu, pria yang berbadan besar membuka suaranya.
“Hei nenek tua, sadarlah akan umurmu sendiri ... kau itu sudah hidup lebih dari setengah abad, bila tidak menggunakan pil kecantikan kau sendiri tidak bisa mempertahankan kulit muda dan wajah cantikmu itu.”
Karena merasa terhina, wanita bercadar itu mengeluarkan aura pembunuh miliknya dan menarik sebuah kipas tangan yang tergantung di pinggangnya.
“Kau ingin mati?”
“Itu pun kalau kau bisa melakukannya,” balas pria berbadan besar.
__ADS_1
Karena merasa tidak enak dengan keadaan, pria yang berbadan kurus melerai mereka berdua.