
“Pedang Angin Pemusnah!”
Zhu Rong mengarahkan kedua tangannya jauh ke atas kepala Li Yuwen, dan dari sana muncul sebuah lingkaran sihir yang terlentang cukup lebar.
Tidak membutuhkan waktu yang lama setelah lingkaran itu muncul, dari sisi bagian bawah lingkaran sihir itu muncul sebuah pedang yang turun ke bawah secara perlahan, pedang itu adalah kumpulan angin yang cukup padat juga ukurannya yang sebanding dengan pohon besar.
“Matilah!” Zhu Rong mengayunkan kedua tangannya ke arah dimana Li Yuwen berdiri, dan setelah melakukannya pedang angin itu turun ke arah Li Yuwen dengan kecepatan tinggi.
“Hanya seperti ini?” Li Yuwen mengejek sebelum menyarungkan pedangnya.
Li Yuwen setelahnya membentuk kuda-kuda sama seperti saat dia melakukan teknik tapak air mengalir, namun kali ini posturnya lebih menonjolkan kedua kakinya.
Dari pijakannya itu kemudian membuat sebuah retak kecil, dan di saat bersamaan pedang angin besar itu sudah hampir mengenai Li Yuwen, merasa sudah cukup Li Yuwen kemudian mengayunkan kaki kirinya ke arah pedang di atas kepalanya lalu menendang bagian ujung mata pedang angin itu secara halus.
“Teknik Tendangan Air Mengalir.” Kini kaki Li Yuwen lurus sejajar dengan kaki kirinya berada lurus ke atas.
Merasa perbuatan yang di lakukan oleh Li Yuwen cukup konyol, Zhu Rong menertawainya. Namun siapa sangka pedang angin miliknya itu terhenti secara tiba-tiba.
“Apa!?” Zhu Rong terkejut.
Tidak sampai disana, pedang angin besar itu tiba-tiba retak seperti pedang besi dan mulai menghembuskan angin besar ke sekitar dengan kuat, hembusan itu di ikuti dengan lenyapnya pedang angin milik Zhu Rong itu.
Tidak sedikit orang yang ada di sekitar Li Yuwen terhempas jauh karena tidak kuat menahan hembusan angin yang kuat itu, tetapi berbeda dengan Li Yuwen yang masih berdiri tegak dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
“Bagaimana itu mungkin!?” Zhu Rong mengulangi kalimat itu terus menerus sebelum akhirnya mencabut pedangnya dari tanah dan berlari maju ke arah Li Yuwen dengan nafsu membunuh yang kuat.
“Kau terlalu berisik.” Li Yuwen bergumam sebelum menghentakkan kaki kirinya ke tanah dengan kuat, dan dari hentakan itu menimbulkan sebuah retakan serta guncangan besar di area sekitar.
Zhu Rong yang kaget karena pijakannya tiba-tiba hancur menjadi kesusahan menyeimbangkan dirinya, namun belum sempat memperbaiki pijakannya, Li Yuwen terlihat sedang menyeret kaki kanannya.
“Tendangan Kapak Pembelah.” Li Yuwen bergumam dengan pelan sebelum dia mengayunkan kaki kanannya dengan kuat ke depan.
__ADS_1
Kini kaki kanannya yang sekarang lurus di atas, dan dari ayunannya itu muncul sebuah hembusan angin tajam yang tinggi dan lebar ke arah tempat dimana Zhu Rong berada.
“Ini–” Zhu Rong ingin menyelesaikan kalimatnya, namun sayang tubuhnya tiba-tiba hancur lebur menjadi serpihan kecil dan tidak terbentuk.
Hembusan angin itu kemudian terhenti beberapa meter di belakang Zhu Rong sebelumnya berdiri, dan dari hembusan angin itu juga menciptakan sebuah parit yang cukup dalam sepanjang angin itu berlalu.
“Tuan Zhu Rong!”
Setiap anggota bandit tengkorak hitam yang menyaksikan bagaimana Zhu Rong terbunuh begitu terkejut bukan main, namun hanya dalam waktu singkat rasa keterkejutan itu berubah menjadi sebuah ketakutan yang sangat dalam setelah mereka menyadari bahwa Li Yuwen sedang menatap mereka.
Bahkan tanpa perlu di tutup menggunakan topeng sekalipun mereka mengetahui bahwa wajah di balik topeng itu sedang tersenyum ke arah mereka.
“Giliran kalian.” Li Yuwen berbicara pelan.
Namun walau pun Li Yuwen berbicara pelan, setiap bandit tengkorak hitam yang ada disana bisa mendengarnya dengan jelas, dan dari sana mereka mulai gemetar ketakutan, bahkan ada yang mulai berlari tanpa pikir panjang meninggalkan medan pertempuran karena takut dia akan menjadi sasaran Li Yuwen berikutnya.
Rasa takut itu tidak hanya di rasakan para bandit semata, pasukan Zhao Lang dan para murid sekte juga merinding di buatnya.
“Kita harus mengingatkan yang lain saat kita kembali nanti untuk tidak mengusik murid tetua Yao.”
Para murid Sekte Pedang Kilat mulai berbisik satu sama lain sambil meneguk air liur.
Setelahnya, mereka semua sudah tahu apa yang akan Li Yuwen lakukan selanjutnya, tanpa merasa kelelahan sedikitpun Li Yuwen berlari menghampiri setiap bandit tengkorak hitam yang dia lihat kemudian membunuhnya tanpa pikir panjang, bahkan yang sebelumnya mencoba berlari sekalipun tidak terkecuali.
**
“Hari ini akan menjadi hari terkahir bagimu untuk hidup!” Mata Iblis tertawa lantang.
Yao Jun berdecak kesal karena memang apa yang di katakan oleh Mata Iblis menggambarkan apa yang sedang dia alami, cukup menyulitkan baginya untuk bertarung setelah baru saja tiba di kota Zhao tanpa beristirahat sedikitpun.
Karena tidak terlalu fokus, Yao Jun membuat sebuah celah, dan tanpa melewatkan kesempatan itu Mata Iblis segera menyerang Yao Jun dengan segenap kekuatannya.
__ADS_1
“Terima Ini!” Mata Iblis tertawa jahat.
Namun belum sempat palu miliknya menyentuh tubuh Yao Jun, Mata Iblis terkena sebuah hembusan angin yang cukup deras, hal itu membuat serangannya meleset.
“Angin apa ini?” Mata Iblis kebingungan.
Melihat sebuah kesempatan untuk menjaga jarak, Yao Jun segera melompat mundur sejauh yang dia bisa, membuat Mata Iblis kesal.
Yao Jun dan Mata Iblis kemudian melirik ke satu arah yang sama, namun tidak mereka sangka bahwa arah hembusan angin itu berasal dari orang yang mereka kenal.
“Zhu Rong!”
“Wen’er!”
Mereka berdua menyaksikan pertempuran antara Li Yuwen dengan Zhu Rong dengan seksama, dan sedikit mengejutkan karena kedua orang ini mengabaikan pertarungan sengit mereka tadi.
Hanya beberapa saat setelahnya, mereka berdua akhirnya melihat akhir dari pertempuran itu, sontak Mata Iblis kaget bukan main.
“Zhu Rong!” Mata Iblis merasakan sebuah pukulan di hatinya melihat anggotanya itu terbunuh dengan begitu mengerikan.
Bagaimana Mata Iblis tidak sedih melihat itu, karena memang Zhu Rong merupakan bawahannya yang paling setia, juga merupakan anggota pertama setelah Tengkorak Hitam di bentuk.
“Kurang ajar!” Mata Iblis kini tersulut emosi.
Disisi lain, Yao Jun menggelengkan kepala melihat muridnya baru saja kembali membunuh manusia, bahkan kali ini pembunuhan yang di lakukan oleh muridnya itu menjadi lebih kejam.
‘Dari mana Wen’er belajar membunuh begitu kejamnya?’ batin Yao Jun.
Merasa begitu kesal dengan kematian anggota kepercayaannya, Mata Iblis kembali mengalihkan perhatiannya kepada Yao Jun.
“Bukankah anak bertopeng itu muridmu? Hari ini akan ku buat kau juga murid mu itu menyesal bahwa sudah terlahir di dunia ini!”
__ADS_1
Mata Iblis kemudian melompat maju ke arah Yao Jun, pertarungan antara mereka berdua pun kembali terjadi.