
Karena tidak ingin terlibat lebih jauh dan tertimpa hal yang buruk, pria muda itu segera berlari keluar ruangan untuk melaksanakan yang di perintahkan padanya.
Sedangkan pria paruh baya buruk rupa itu tersenyum di ruangannya.
“Tang Jianying ... setelah semua rencanaku selesai, di pertemuan kita yang selanjutnya kau akan kubuat menyesal karena telah membuatku menjadi seperti ini.”
Pria paruh baya itu mulai tertawa penuh makna memikirkan rencana yang dia miliki hingga membuat suara tawanya menggema diseluruh ruangan, kemudian terdengar suara ketukan pintu yang memecah tawanya.
“Siapa?” tanya pria paruh baya itu dari dalam ruangan.
“Tetua ketujuh, keenam tetua yang lain sudah menunggu anda di ruang pertemuan ... anda diminta untuk hadir sekarang.”
“Baiklah, tunggu aku....”
Di saat yang sama, terlihat Tang Jianying bersama kasim pribadinya sedang berdiri di balkon kediaman kaisar dan sedang memikirkan putrinya yang sedang melakukan perjalanan.
“Kasim ... kira-kira apakah Lian’er sudah sampai di Sekte Pedang Kilat?”
Kasim yang mendengar itu terbatuk pelan kemudian menjawab, “Kaisar ... putri Tang Lian bahkan belum sehari sejak kepergiannya dari istana, tentu saja putri belum sampai kaisar.”
Tang Jianying yang mendengar itu menjadi semakin khawatir dengan apa yang akan terjadi pada putri kesayangannya itu.
Dan mulai menyesalkan pilihannya untuk membiarkan putrinya pergi menuju Sekte Pedang Kilat.
“Yang mulia kaisar tenang saja, putri Tang Lian tidak sendirian ... dia bersama Jendral Liong yang berada di tingkatan Bumi kelas 1 juga 10 anggota pasukan Emas Darah berada
di tingkat Raja yang kaisar pilih sendiri untuk menjaga putri.”
Mendengar yang dikatakan oleh kasimnya membuat Tang Jianying menjadi sedikit lebih lega, tetapi kelegaannya hancur ketika seorang wanita mendatanginya yang sedang berada di balkon kediaman kaisar.
Wanita itu cukup cantik dengan rambutnya yang hitam dan kulitnya yang putih, tubuhnya juga ramping dan dibalut dengan sebuah gaun berwarna merah yang memiliki motif berbentuk bunga serta terbuat dari emas.
Terlihat juga sebuah mahkota kecil yang menghiasi bagian atas kepala wanita yang baru datang itu, melihat itu sontak membuat Tang Jianying juga kasim pribadinya merespon dengan cepat.
__ADS_1
“Salam kepada permaisuri,” Kasim pribadi Tang Jianying memberi hormat.
“Jing–Jing’er? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Tang Jianying gugup.
Melihat ada keanehan dari wajah Tang Jianying membuat Liu Jingmi curiga pada suaminya itu dan mulai berbicara.
“Aku kesini karena tidak melihat Lian’er di tempat biasa dia berlatih ... dan juga, kenapa kau menjadi begitu gugup karena kedatangku?”
“I–itu ... bukan apa-apa,” jawab Tang Jianying gugup.
Di istana kekaisaran Liu Jingmi terkenal dengan kekejamannya terhadap suaminya, jika suaminya membuat kesalahan maka akan terdengar suara jeritan juga cambuk dari dalam kamar tidur kaisar juga permaisuri.
Bahkan para dayang juga kasim di istana tau akan kekejaman permaisuri mereka terhadap kaisar, dan itu membuat mereka takut karenanya.
Walaupun begitu Liu Jingmi sangat mencintai Tang Jianying, banyak hal tidak terduga dalam perjalanan cinta mereka berdua sebelum memulai pernikahan.
Begitu juga sebaliknya, walaupun Tang Jianying bisa lepas dengan mudah dari siksaan istrinya karena tingkat praktik miliknya lebih tinggi darinya, tetapi dia tidak melakukannya karena memang pantas menerimanya sekaligus tidak ingin membuat istri tercintanya itu menjadi sedih.
Liu Jingmi menjadi kejam seperti itu sejak dia melahirkan Tang Lian, terlalu banyak kesalahan yang Tang Jianying buat dalam mengurus putri tercintanya itu. Bahkan di masa lalu Tang Jianying pernah tidak sengaja membiarkan Tang Lian yang berumur 5 tahun hampir terjatuh ke jurang yang cukup tinggi.
Karena melihat kegugupan di wajah Tang Jianying membuat Liu Jingmi bertanya.
“Dimana Lian’er?”
Tang Jianying yang mendengar itu bagikan petir menyambar di telinganya, dan dia mulai mengerti kenapa dia menjadi begitu gugup sejak kepergian Tang Lian dari istana.
“Lian–Lian’er sedang jalan-jalan bersama Jendral Liong di kota, ka–kau tidak perlu khawatir Jing’er.” Tang Jianying menjawab ketakutan.
Liu Jingmi menyadari mungkin ada sesuatu yang di sembunyikan Tang Jianying darinya, dan mulai menanyakan hal yang sama kepadanya tetapi kali ini nadanya begitu dingin.
“Dimana Lian’er?”
Tang Jianying menjadi semakin takut, kemudian dia menolehkan pandangannya ke arah kasim pribadinya bermaksud meminta bantuan kepadanya, tetapi kasim itu hanya menggelengkan kepalanya cepat dan mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Tang Jianying menjadi kesal karenanya kemudian kembali menaruh perhatiannya kepada Liu Jingmi dan mulai berbicara yang sebenarnya terjadi.
Setelah selesai bercerita, terlihat wajah Liu Jingmi yang sebelumnya senyum, menjadi hilang dan terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
‘Mati aku!’ batin Tang Jianying.
Tang Jianying kemudian berniat untuk lari tetapi sebuah tali yang cukup keras mengkait kakinya dan membuatnya terjatuh.
Dan sebuah tangan memegang salah satu kakinya kemudian menyeretnya ke arah kamar, itu adalah Liu Jingmi.
“Tidak Istriku, kumohon ampuni aku.” Tang Jianying memohon ampunan tetapi tidak dibalas.
Kemudian Tang Jianying kembali menoleh ke arah kasim pribadinya dan berteriak meminta bantuan.
“Kasim tolong aku!”
Namun yang dilihatnya tidak sesuai harapannya, kasim yang sudah di urusnya selama 10 tahun lebih malah menunjukkan sebuah penghormatan yang di tujukan kepada orang yang meninggal.
Tang Jianying pun mengumpati kasim pribadinya itu dalam hati sekaligus memohon ampun kepada istrinya walaupun tidak dijawab.
Dan tak lama setelahnya terdengar suara jeritan yang sangat keras keluar dari kediaman kaisar, dayang dan kasim yang mendengar itu kemudian mendoakan keselamatan kaisar malang mereka.
Jeritan itu terus berlangsung hingga menjelang malam tiba.
***
Yao Jun dan Li Yuwen memutuskan untuk berhenti setelah berlari selama beberapa jam tanpa henti karena hari mulai gelap, Yao Jun memutuskan untuk menyiapkan makan malam mereka sedangkan Li Yuwen mencari kayu untuk di jadikan penerangan mereka di malam hari.
Mereka pun mulai menghabiskan makan malam setelah api penerangannya dihidupkan.
Yao Jun melihat ke arah Li Yuwen dan mulai mengingat bantuan yang diberikan Li Yuwen saat dia sedang bertarung dengan tiga orang tingkat Raja kelas 2 dari organisasi Gunung 7 Dosa.
“Wen’er, gurumu ini berterima kasih karena bantuan yang kau berikan saat kita bertarung siang tadi.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa guru, itu memang sudah kewajibanku untuk membantu bila guru dalam kesusahan,” jawab Li Yuwen penuh makna.
Mendengar itu membuat Yao Jun merasa bangga karena merasa beruntung telah mengangkat seorang murid yang begitu berbakti kepada gurunya, juga memiliki pemikiran yang dewasa serta memiliki bakat yang tinggi.