Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 15 - Yao Jun vs 3 Raja


__ADS_3

“Kami juga ingin membungkus makanan untuk beberapa hari kedepan.”


“Ah, baik ... mohon ditunggu.”


Yao Jun dan Li Yuwen sudah selesai menyantap hidangan mereka dan bersiap untuk pergi setelah makanan yang dibungkus datang.


Beberapa saat kemudian pelayan wanita itu kembali dengan membawa beberapa makanan yang sudah dibungkus menggunakan kain.


“Ini uangnya,” kata Yao Jun sembari memberikan satu koin emas.


“Tuan ... ini terlalu banyak,” balas pelayan wanita itu kaget.


“Tidak apa-apa, anggap saja sebagai biaya untuk kekacauan yang tadi saya buat.”


Pelayan itu kemudian membungkuk berterima kasih lalu menuntun Yao Jun juga Li Yuwen ke pintu keluar kedai.


Yao Jun dan Li Yuwen pun berjalan santai menuju gerbang kota.


***


“Lian’er berhati-hatilah.”


“Lian’er mengerti ayah, Lian’er akan berhati-hati dalam perjalanan menuju Sekte Pedang Kilat.”


Tang Jianying mengelus kepala Tang Lian walaupun sebenarnya dia tidak ingin putri semata wayangnya pergi dari istana, karena takut akan terjadi apa-apa padanya.


“Jendral Liong, jagalah Lian’er dengan baik ... bawalah juga 10 anggota pasukan Emas Darah bersamamu agar penjagaan Lian’er lebih terjamin.”


“Hamba mengerti yang mulia.”


Pasukan Emas Darah adalah pasukan khusus yang di bentuk sendiri oleh Tang Jianying untuk menjaga dirinya juga keluarganya, kekuatan pasukan ini sendiri terbilang cukup tinggi.


Rata-rata prajurit di dalamnya memiliki banyak tingkatan Fana kelas 3 hingga beberapa Raja kelas 2, dan ketua pasukannya adalah Jendral Liong sendiri yang berada di tingkatan Bumi kelas 1.


Tang Lian juga Jendral Liong pun pergi meningalkan istana menuju Sekte Pedang Kilat dan di ikuti dengan 10 orang dari pasukan Emas Darah yang mengintai dari jauh.


“Paman Liong, kira-kira akan memakan waktu berapa lama untuk sampai ke tempat tujuan kita?” tanya Tang Lian.


“Dulu aku pernah kesana sekali, dan kira-kira akan memakan waktu sekitar sepuluh hari bila tidak ada hambatan untuk sampai kesana putri Lian.”


“Baiklah aku mengerti.”

__ADS_1


***


Yao Jun dan Li Yuwen yang sudah di luar kota mulai berlari menuju sekte, namun saat jarak mereka tidak jauh dari kota, muncul tiga pria bertopeng juga seorang pria paruh baya yang ketakutan menghadang jalan mereka.


“Kebetulan sekali bisa bertemu denganmu Giok Kematian,” seru salah satu pria bertopeng.


Yao Jun dan Li Yuwen menaikkan kewaspadaannya karena tiga orang di depannya mengeluarkan niat membunuh.


Yao Jun mengalihkan pandangannya ke arah pria paruh baya yang bersama mereka dan mengenali wajahnya.


“Seharusnya aku tidak mengampunimu tadi, tapi tidak apa-apa karena kau sudah suka rela mengantarkan nyawamu sendiri,” ucap Yao Jun dengan senyum tipis di balik topengnya.


Pria paruh baya itu sontak merinding ketakutan dan memohon bantuan kepada tiga orang di depannya.


“Senior aku sudah membawa kalian kepadanya, tolong lindungi aku sebagai gantinya.” Pria paruh baya itu memohon.


“Tenang saja, kami tidak akan membiarkan Giok Kematian membunuhmu,” balas salah satu pria bertopeng.


Namun belum sempat pria paruh baya itu berterima kasih, kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.


“Hmph ... kau pikir kami penjagamu?” lanjut pria itu.


“Untuk orang yang sebentar lagi mati kau cukup banyak berbicara, bagaimana jika kita mulai saja?”


“Heh ... harusnya aku yang mengatakan itu pada kalian.”


Yao Jun kemudian menghunuskan pedang pusaka miliknya dan bersiap untuk maju, “Li Yuwen, lihat dan pelajarilah bagaimana caranya menghajar para domba seperti tiga orang di depan kita ini.”


Tiga orang di depannya tersulut emosi setelah dibandingkan dengan seekor domba dan mulai menarik pedang pusaka mereka masing-masing dan mulai maju menyerang Yao Jun.


Yao Jun juga maju untuk menyambut serangan mereka bertiga dan membuat deru suara yang keras di udara saat senjata mereka bertemu.


Hanya dalam waktu yang singkat mereka sudah bertukar puluhan hingga ratusan jurus, namun bisa dilihat Yao Jun lah yang sedang dalam posisi tidak menguntungkan.


‘Kekuatan penuhku masih belum pulih sempurna karena pertarungan kemarin terlalu memakan banyak Qi juga tenaga, aku harus menemukan celah,’ batin Yao Jun.


Namun ketiga orang di depannya tidak memberikan celah sama sekali untuk Yao Jun, dan itu mulai membuatnya kesal.


“10 Tebasan Kilat.”


Yao Jun dengan singkat melepaskan 10 tebasan pedang kearah tiga orang di depannya, tetapi dengan mudah dapat di tahan oleh ketiganya.

__ADS_1


“Sial!” Yao Jun mendengus kesal.


Pertarungan sengit kembali terjadi antara Yao Jun dengan tiga orang lainnya, dan tanpa terasa mereka sudah saling bertukar hingga seratus jurus.


Luka demi luka mulai terlihat di tubuh Yao Jun, dan bila dilanjutkan mungkin bisa mengancam nyawanya, Yao Jun kemudian melompat mundur dan menyarungkan pedangnya.


“Apa yang akan dia lakukan?”


“Kalian berdua tetap siaga!”


Yao Jun yang mundur kemudian mengalirkan cukup banyak Qi di kaki juga pedangnya yang sedang tersarung, bermaksud untuk mengambil nyawa orang-orang di depannya.


Namun dia masih belum melakukannya karena sedang mencari celah, sedangkan tiga orang di depannya sedang siaga untuk serangan yang mungkin akan datang secara tiba-tiba.


Sekarang seluruh perhatian ketiga pria itu terfokus ke arah Yao Jun, namun sialnya mereka karena tidak memperhatikan serangan yang mungkin akan datang dari luar.


Terlihat dua buah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa melesat cepat ke arah mereka yang sedang terfokus ke arah Yao Jun.


Dan salah satu dari mereka menyadari batu yang melesat cepat itu, “ Semuanya menghindar.”


Karena terkejut dengan perkataan temannya, dua orang yang lain dengan refleks melompat ke arah berlawanan untuk menghindari objek yang terarah ke mereka.


‘Ketemu,’ batin Yao Jun dengan senyum di balik topengnya.


Tiga orang itu kemudian melihat ke arah batu yang baru saja terarah ke mereka, dan terkejut saat melihatnya.


“Batu biasa?”


Mereka bertiga kebingungan sebelum akhirnya menyadari kesalahan mereka dan segera kembali memfokuskan diri ke arah Yao Jun, namun Yao Jun sudah menghilang dari tempat.


“Gawat! ... lindungi diri kalian dengan Qi—”


Salah satu dari mereka memperingatkan namun setelah itu kepalanya terpisah dari tubuhnya dengan Yao Jun berdiri dalam posisi menebas di depannya.


Yao Jun setelah itu melihat ke arah asal batu itu di lempar, dan menemukan Li Yuwen berdiri disana.


‘Kerja bagus muridku,’ batin Yao Jun dengan senyum bangga di wajahnya.


Dua orang yang tersisa hatinya tersulut emosi karena melihat kematian rekannya, dan cepat menoleh ke arah Li Yuwen yang melempar batu.


“Kau bocah pengganggu.”

__ADS_1


__ADS_2