
Yao Jun yang merasa apa yang akan mereka bahas nanti terasa berat, dia setuju dengan apa yang Jendral Liong katakan, dan Yao Jun meminta Li Yuwen untuk berlatih bersama dengan Tang Lian, karena ini juga kesempatan yang bagus menurutnya untuk saling bertukar petunjuk tentang bela diri, mengingat Li Yuwen juga di kalahkan oleh Tang Lian.
“Baiklah aku mengerti guru ... tuan putri, mari?” ucap Li Yuwen.
Tang Lian yang mendengar ajakan dari Li Yuwen hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar bersama dengan kepala menunduk, Tang Lian tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdegup dengan kencang itu.
Mereka berdua pun berjalan menuju area khusus tempat berlatih yang tidak terlalu jauh dari kediaman patriak dan mulai berlatih bersama.
“Jadi, ada apa hingga patriak memanggilku?”
“Itu akan kita bahas bersama dengan Jendral Liong.”
Jendral Liong kemudian menjelaskan situasi yang sedang kekaisaran hadapi pada Yao Jun, dan maksud dari kedatangannya kesini untuk meminta bantuan.
“Seperti itulah Jun’er, karena hanya kau saat ini satu-satunya tetua sekte yang sedang tidak menjalankan misi, aku ingin menanyakan apakah kau mau menjalankan misi yang di perintahkan langsung oleh kaisar ini?”
“Itu....” Yao Jun memikirkan sejenak sebelum menyetujui permintaan itu, di satu sisi misi itu adalah hal penting yang harus dilakukan karena pasti banyak yang menderita karena peperangan itu, namun disisi lain dia harus mengajari Li Yuwen berbagai hal karena dia hanya mengajarkan sedikit ilmunya padanya, dan itu pun tidak cukup di sebut mengajarkan karena kebanyakan hal-hal umumlah yang dia ajarkan pada Li Yuwen.
“Patriak ... begini.” Yao Jun mencoba menjelaskan apa yang sedang dia pikirkan dan itu membuat mereka berdua termenung sejenak.
“Bagaimana bila kau ajak saja muridmu pergi bersamamu?” ucap Jendral Liong.
Ucapan Jendral Liong itu tentu membuat Xiang Yong dan Yao Jun terkejut, “Apakah kau bercanda jendral? Itu terlalu berbahaya bagi Wen’er....” ucap Yao Jun.
“Tapi itu ada benarnya juga Jun’er, muridmu bisa belajar bertarung yang sesungguhnya bila ikut berperang bersamamu....” Xiang Yong menambahkan.
“Tetapi patriak, Wen’er masih muda ... tidak mungkin aku membiarkan dia mengambil nyawa di usianya yang begitu muda, aku tidak ingin dia menjadi haus darah sepertiku....”
__ADS_1
“Ini ... cukup susah, bagaimana bila kita meminta langsung kepada muridmu itu? Mari kita dengar apakah dia setuju atau tidak.”
Karena permasalahan itu menyangkut muridnya juga, Yao Jun tidak memiliki pilihan lain karena mungkin Li Yuwen akan setuju untuk mengikutinya berperang.
Tidak berselang lama, Li Yuwen dan Tang Lian tiba dan memasuki ruangan.
“Ada apa guru memanggilku?” Tanya Li Yuwen.
Yao Jun pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Li Yuwen dan bertanya apakah dia akan ikut atau tidak, namun Yao Jun juga menambahkan dia boleh tidak ikut karena bisa saja itu akan membahayakan nyawanya.
Namun jawaban yang di berikan Li Yuwen cukup mengejutkan, “Aku akan ikut guru ... tidak apa-apa bila itu berbahaya karena cepat atau lambat pasti aku akan menghadapi hal serupa juga di masa depan.”
Yao Jun menjadi bangga kepada muridnya itu karena memiliki pandangan jauh kedepan yang bahkan tidak terpikirkan sama sekali olehnya, kemudian Yao Jun kembali berbicara kepada kedua pria sepuh di hadapannya.
“Karena Wen’er setuju, maka aku akan menerima misi itu dan membantu dalam perang ini, tetapi aku tidak bisa jalan sekarang karena harus mempersiapkan diri lebih dulu.”
“Kalau begitu aku permisi....”
Yao Jun kemudian berjalan kembali menuju kediaman bersama Li Yuwen.
“Terima kasih karena sudah mau membantu patriak Xiang,” ucap Jendral Liong sambil memberikan hormatnya.
“Tidak apa-apa Jendral, kami bahkan belum membantu ... lagi pula apa yang aliran hitam dan para kelompok bandit ini lakukan tidak bisa hanya di lihat saja.”
Di tengah-tengah percakapan mereka, Jendral Liong melihat raut wajah Tang Lian yang terlihat sedikit sedih, karena merasa tidak tahan dengan itu Jendral Liong mencoba menggoda Tang Lian.
“Tuan putri, apakah anda sedih karena kepergian pemuda bertopeng itu?”
__ADS_1
Wajah Tang Lian kemudian memerah seperti tomat karena perkataan Jendral Liong itu, “Jendral ... aku membencimu,” ucap Tang Lian sebelum beranjak pergi kembali berlatih di tempat sebelumnya dia bersama Li Yuwen.
“Eh....” Jendral Liong kemudian merasa bersalah dengan perkataannya, sedangkan Xiang Yong menertawakan dirinya.
Di kediaman, Yao Jun dan Li Yuwen terlihat sedang mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa di dalam perjalanan, dan di tengah mengemasi barang itu Yao Jun bertanya kepada Li Yuwen.
“Wen’er, apakah kau yakin ingin mengikuti ku di peperangan ini? Kau mungkin akan melihat banyak nyawa yang akan melayang, aku takut itu akan mengingatkan mu akan kematian orang tuamu dulu.”
“Tidak apa-apa guru, cepat atau lambat aku pasti akan melihat darah di sepanjang jalan kultivasi ku ... bukankah akan lebih bagus bila aku memiliki pengalaman secepatnya?”
Yao Jun menghembuskan napasnya, “Baiklah gurumu mengerti, tapi berusahalah agar tidak membunuh manusia ... aku tidak ingin kau menjadi sama seperti gurumu ini.”
“Murid akan mengingatnya, namun bila situasi tidak mendukung mungkin murid akan terpaksa mengambil nyawa.”
Yao Jun kemudian terbatuk mendengar itu, dia sedikit bingung dengan muridnya itu yang selalu saja bisa membuatnya mati kata dengan pemikirannya yang padahal baru berusia 15 tahun, dia merasa seperti berbicara dengan seorang pria yang umurnya lebih dari satu abad, tebakan itu tidak salah mengingat umur sebelumnya Li Yuwen di kehidupan pertamanya adalah genap 200 tahun.
Walaupun tubuhnya masih muda, tetapi berbeda dengan jiwanya yang sekarang berumur 203 tahun, tentu pemikirannya lebih luas dari kebanyakan orang yang ada.
Disaat selesai berkemas, dua orang mendatangi kediaman mereka, yang pertama adalah seorang pria muda dan yang satunya adalah seorang gadis.
“Li Yuwen! Aku keluarlah!” teriak pria muda itu.
Li Yuwen yang mendengar namanya di panggil kemudian segera keluar untuk melihat siapa yang sedang menggilanya.
“Zhang Hao ... dan?” ucap Li Yuwen, kemudian dia melirik ke sebelah Zhang Hao dan menemukan seorang gadis yang di kenalnya juga, “Nona Qiao!”
Zhang Hao menjelaskan maksud kedatangan mereka adalah untuk bertarung dan bertukar petunjuk dengan Li Yuwen, walaupun niat sebenarnya Zhang Hao ingin mengalahkan Li Yuwen.
__ADS_1
Li Yuwen kemudian menjelaskan dia sedang sibuk namun Zhang Hao tidak mendengarkan, kemudian Li Yuwen menghembuskan napasnya heran dengan kelakuan Zhang Hao itu.