
Suara kehebohan menggema di seluruh ruangan karena mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Li Yuwen dan Zhang Hao adalah serangan terakhir sekaligus serangan terkuat yang mereka bisa lakukan saat ini, tentu tidak ada siapapun yang ingin mengalihkan pandangan mereka dari akhir pertarungan yang menegangkan itu.
Tang Lian sendiri menggenggam kain pakaian miliknya dengan kuat karena juga terbawa oleh ketegangan pertarungan antara mereka berdua.
“Terima ini!” teriak Zhang Hao keras.
Dia kemudian berlari maju kedepan menuju Li Yuwen yang sedang memasang kuda-kuda teknik miliknya, sedangkan Li Yuwen yang melihat Zhang Hao berlari ke arahnya kemudian menarik napasnya dalam-dalam dan menenangkan pikirannya hingga ke enam indra miliknya tidak bisa merasakan apapun, pikirannya pun kosong bagaikan air yang tenang.
Zhang Hao yang sedang berlari kemudian menghentikan kakinya saat jarak antara dirinya dengan Li Yuwen tidak jauh dari tiga langkah, “Tebasan Pedang Vertikal!” ucap Zhang Hao sebelum dia melakukan tebasan dari atas kepala Li Yuwen.
Namun sebelum pedang Zhang Hao menyentuh kepala Li Yuwen, Li Yuwen membuka matanya, kemudian waktu terasa beberapa kali lebih lambat di matanya. Dan saat itu juga Li Yuwen menghembuskan napasnya yang juga terlihat sebuah sedikit asap keluar mengikuti hembusan napasnya itu.
“Teknik Tapak Air Mengalir!” ucap Li Yuwen.
Di saat mengatakan itu waktu kembali normal di matanya, setelahnya Li Yuwen menepis pedang Zhang Hao yang ada di atas kepalanya dengan cepat menggunakan tangan kirinya, gerakan itu begitu halus hingga mematahkan pedang Zhang Hao.
Tidak sampai disana, Li Yuwen kemudian membentuk sebuah tapak di tangan kanannya lalu menyentuhkan tapak itu ke arah perut Zhang Hao, dan disaat itu juga arena yang mereka pijak memunculkan sebuah retakan yang cukup besar di sertai terpentalnya tubuh Zhang Hao hingga menghantam tembok bangunan yang jauh berada di belakangnya.
Kemudian terlihat Zhang Hao sangat kesakitan, dan tidak lama setelah itu dia memuntahkan darah segar sembari menatap Li Yuwen dengan tatapan tidak percaya pada apa yang baru saja dia lakukan padanya.
Semua orang terdiam setelah melihat sebuah retakan besar yang muncul pada arena pertandingan juga keberadaan Zhang Hao yang tersandar di tembok bangunan yang jauh berada di belakangnya.
“Apa yang terjadi!” Zhang Wu bangkit dari duduknya.
Tetua kedua kemudian memanggil tabib sekte yang sudah di siapkan sebelumnya untuk segera mengobati Zhang Hao yang terluka cukup parah.
__ADS_1
“Hao!” Selain tabib sekte, Qiao Wei juga berlari ke arah Zhang Hao karena khawatir dengan apa yang terjadi padanya.
Tabib itu kemudian segera mengecek nadi Zhang Hao untuk memeriksa keadaanya, kemudian dia bernapas lega karena tidak ada luka yang cukup parah pada tubuh Zhang Hao, dan tidak pikir panjang dia segera meracik obat untuknya.
“Minumlah ini.” Tabib itu menyerahkan sebuah cairan berwarna hitam pada Zhang Hao kemudian di minum olehnya tanpa pikir panjang.
Tidak lama setelahnya Zhang Hao merasa lebih baik dari sebelumnya, rasa sakit yang dia rasakan tadi juga mengurang, namun wajahnya menunjukkan ekspresi datar seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
“Apa kau tidak apa-apa Hao?” tanya Qiao Wei.
Zhang Hao yang mendengar pertanyaan itu kemudian mengucapkan sesuatu, “Weiwei ... apakah aku lemah? Apakah aku baru saja di kalahkan?”
“Iya kau lemah, dan kau baru saja di kalahkan....”
Zhang Hao kemudian merapatkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan kuat, “Aku adalah orang yang jenius ... semua orang memujiku, tapi kenapa aku bisa kalah darinya yang bahkan hanya memiliki tulang tembaga?”
“Kau bodoh, salahkanlah dirimu sendiri ... kau sudah berubah menjadi begitu sombong hanya karena pujian-pujian itu, itu juga yang menyebabkan perkembanganmu terhambat!”
Zhang Hao yang mendengar itu bagaikan petir menyambar di telinganya, seketika itu juga dia merenungkan semua kesalahan miliknya juga mulai mengingat tujuan sebenarnya dia menjadi seorang kultivator.
“Mari kita pergi dari sini, kau perlu beristirahat di aula medis dan mendapatkan obat yang lebih baik,” ucap tabib yang ada di dekatnya.
Sebelum pergi Zhang Hao kembali melihat ke arah Li Yuwen, “Aku terima kekalahan ku, namun lain kali aku lah yang akan menang!”
“Aku akan menunggu hari itu tiba,” balas Li Yuwen.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu suara sorakan terdengar mengisi seluruh ruangan, banyak yang menjadi lega karena ketegangan yang mereka rasakan sebelumnya kini menghilang, bahkan Tang Lian sudah melepaskan genggamannya dari baju yang ia kenakan.
“Tebakan tuan putri ternyata benar, murid tetua Yao yang menjadi pemenangnya!” seru Jendral Liong
Namun berbeda dari yang lain, semua tetua tanpa terkecuali hanya terdiam melihat apa yang baru saja terjadi disaat-saat terakhir dari serangan yang Li Yuwen lepaskan.
“Patriak ... apakah kau melihat itu?” tanya tetua Qiao.
“Iya aku melihatnya ... disaat-saat terakhir murid dari Jun’er itu memindahkan aliran serangan miliknya ke arah tempat yang dia pijak, jika saja dia tidak melakukannya mungkin tubuh Hao’er akan hancur berkeping-keping.”
“Tapi teknik apa itu? Aku saja tidak yakin tidak akan mendapatkan luka kecil dari serangan seperti itu walaupun memiliki tingkat bumi kelas 3!”
“Aku ... aku juga tidak tahu, kenapa murid ini begitu banyak memiliki rahasia....”
Disisi lain Zhang Wu yang juga melihat apa yang baru saja Li Yuwen lakukan kemudian tersadar dari lamunannya dan segera berlari mengikuti tabib yang sedang membawa cucunya pergi.
“Cucuku!” ucap Zhang Wu sebelum mulai berlari mengejar.
Sedangkan Yao Jun sendiri juga kaget melihat teknik yang di lepaskan oleh muridnya itu, dia bahkan tidak mengingat pernah mengajarkan teknik semacam itu atau bahkan mengetahui teknik apa yang Li Yuwen gunakan.
“Tetua Yao ... apakah kau yang mengajarkannya?” tanya Fang Yin.
Pertanyaan itu juga mulai keluar dari tetua-tetua yang lain karena juga penasaran dengan hal itu, menurut mereka itu adalah sebuah teknik yang bagus bila di pelajari di sekte.
Namun Yao Jun hanya menjawab tidak mengetahuinya, ‘Aku harus menanyakan ini kepada Wen’er,’ batin Yao Jun.
__ADS_1
Karena masih memiliki satu tanggung jawab yang tersisa pada ujian penerimaan murid, tetua kedua mencoba mengabaikan apa yang baru saja terjadi dan mulai berbicara, “Ujian penerimaan murid sudah selesai, namun sama seperti ujian-ujian sebelumnya ... bagi siapapun yang ingin menantangnya dan mendapatkan posisi peringkat pertama silahkan maju kedepan.”
Tentu tidak ada yang berani melakukannya, namun seorang gadis datang membuka suara.