
Pertarungan antara Yao Jun dan Mata Iblis kian memanas, tidak ada sedikitpun terlihat salah satu dari mereka yang menunjukkan celah barang sedikitpun.
Bahkan karena sengitnya pertarungan itu, berhasil membuat orang-orang yang sedang bertempur untuk berhenti sejenak dan menyaksikan siapakah yang akan menjadi pemenangnya.
“Apa yang kalian lihat! Jangan kehilangan konsentrasi!” Zhao Lang meneriaki para prajuritnya yang terlihat sedang menyaksikan pertarungan Yao Jun..
Walaupun begitu, Zhao Lang sendiri tidak naif karena dia sendiri sebenarnya juga ingin menyaksikan pertarungan hebat itu, namun Zhao Lang lebih memprioritaskan kewajiban yang harus di lakukannya.
Di tengah-tengah berpikir, Zhao Lang menjadi kehilangan fokus dan tidak menyadari sebuah tombak datang ke arahnya.
‘Gawat, tidak akan sempat,’ batin Zhao Lang yang telat menyadari serangan tombak ke arahnya.
Merasa mustahil untuk tidak terluka sama sekali dari tombak itu, Zhao Lang pasrah membiarkan sebelah tangannya untuk terkena serangan tombak itu, namun siapa sangka Li Yuwen datang dan menepis tombak itu.
“Anda sebaiknya fokus ketika bertarung.”
“Ah iya maafkan aku, dan terima kasih,” Zhao Lang menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
Mengerti akan kesalahannya, Zhao Lang sedikit sakit hati karena yang menyelamatkan dirinya adalah seseorang yang lebih muda darinya, dia merasa harga dirinya turun karena itu, bahkan yang menyelamatkannya tidak memiliki Qi sama sekali ditubuhnya.
“Aku akui anak bertopeng ini memiliki kemampuan hebat yang bahkan bisa mengalahkan kultivator raja kelas 2, aku tidak boleh kalah darinya ... terlebih ini adalah kota ku sendiri.” Zhao Lang bergumam kepada dirinya sendiri sebelum megikuti kemanapun Li Yuwen pergi
Tujuannya adalah agar dia bisa menunjukkan kemampuan miliknya bila saja Li Yuwen terkena masalah, sedangkan Li Yuwen sendiri hanya menghembuskan napas melihat tingkah Zhao Lang yang kekanakan.
“Pedang Kilat Penghancur!” Yao Jun mengeluarkan salah satu jurus miliknya.
Setelah mengatakan itu, di depan Yao Jun muncul tiga pedang yang terlihat merupakan hasil dari kilat yang memadat dan membentuk rupa pedang yang panjang dan besar.
Selanjutnya Yao Jun mengarahkan pedang-pedang itu ke arah dimana Mata Iblis berada.
__ADS_1
“Terima ini!” Tiga pedang itu melesat maju ke arah Mata Iblis dengan cepat.
Di lain sisi, Mata Iblis hanya memandangi pedang-pedang itu mendatangi dirinya. Namun sebelum pedang itu hanya berjarak beberapa meter saja di depannya, dia membentuk sebuah segel tangan dengan cepat.
“Tembok Batu!” Bebatuan yang ada di sekitar Mata Iblis kemudian menyatu dan berkumpul di depan dirinya.
Tidak lama setelah tembok batu itu terbentuk, pedang kilat yang baru saja di keluarkan oleh Yao Jun kemudian membentur tembok batu itu dan menciptakan ledakan kecil darinya.
Karena kuatnya tiga pedang kilat yang di keluarkan Yao Jun, membuat tembok yang baru saja terbentuk itu hancur berkeping-keping, begitu juga tiga pedang kilat yang tidak terlihat seperti memang tidak pernah ada sebelumnya.
Jurus yang baru saja di keluarkan oleh Yao Jun membuat Qi miliknya terkuras kembali, dan kini Qi yang dia miliki hanya kurang dari setengahnya.
“Jangan harap bisa beristirahat!” Mata Iblis berteriak sebelum maju menyerang Yao Jun.
Semakin lama pertarungan, semakin menipis juga Qi yang tersisa diantara keduanya, dan kini pertarungan itu mencapai puncaknya.
Karena merasa serangan selanjutnya akan menentukan kemenangan, Mata Iblis memberikan jarak untuk Yao Jun karena memang dia juga ingin mengeluarkan jurus terkuat miliknya, hal itu dia lakukan karena memang dia sendiri sudah tidak memiliki Qi yang cukup bila pertarungan terus di lanjutkan.
“Kau memahami diriku, selanjutnya juga akan menjadi serangan terkuat yang kumiliki sekarang!”
Secara bersamaan, mereka berdua mengeluarkan seluruh Qi yang mereka miliki untuk satu jurus terakhir yang akan mereka pakai dalam serangan terakhir.
Pertama Mata Iblis menggenggam palu besar miliknya itu menggunakan kedua tangannya dengan posisi palu yang menyamping, lalu Mata Iblis meluruskan kedua tangannya ke depan dada.
Kemudian dia mengalirkan seluruh Qi yang dia miliki ke dalamnya, hanya beberapa saat setelahnya palu itu bersinar dan terlihat seperti retak seperti telur yang akan menetas.
Disisi lain, Yao Jun menggunakan segel tangan yang sama seperti jurus Kilat Menyambar Bumi yang dulu dia pakai untuk menghadapi kepungan dari Gunung 7 Dosa di Hutan Seribu Monster.
Namun bedanya kali ini Yao Jun terlihat memfokuskan jurus itu untuk mengalir ke pedang miliknya, dengan cepat senjata pusaka Yao Jun bersinar terang berwarna biru sembari mengeluarkan kilat-kilat kecil di sekitarnya.
__ADS_1
Disaat yang sama, palu Mata Iblis yang bersinar tiba-tiba pecah dan terlihat memiliki bentuk baru, palunya kini terlihat seperti sebuah meriam kecil. Tidak sampai disana, dari mulut meriam itu kemudian mengeluarkan sebuah cahaya kecoklatan yang cukup terang dan di arahkan ke tempat Yao Jun berdiri.
“Matilah! Meriam Meteor!” Mata Iblis berteriak sebelum meriam itu menembakkan sebuah energi yang besar berwarna coklat ke arah Yao Jun.
Namun disaat bersamaan, Yao Jun juga melancarkan serangannya.
“Kilat Menyambar Bumi : Pedang Pemusnah!”
Yao Jun kemudian melakukan gerakan menusuk menggunakan pedang miliknya ke arah tembakan energi Mata Iblis yang sedang terarah kepada dirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi kedua tembakan energi kuat yang berisi Qi itu saling berbenturan satu sama lain, bahkan karena kuatnya kedua serangan itu, sampai-sampai menciptakan hembusan angin bagaikan badai yang kemudian menghembus jauh ke sekitar.
Hembusan angin itu juga yang kemudian membuat siapa saja yang terkena olehnya menjadi terhempas beberapa meter jauhnya.
“Ledakan energi yang sangat kuat!” Zhao Lang dan Zhao Xu bergumam.
Beberapa saat kemudian kedua tembakan energi yang saling berbenturan itu lalu meledak, membuat asap dan debu mengelilingi medan pertempuran.
Butuh beberapa saat sampai asap dan debu itu hilang, dan dari sana terlihat bahwa Yao Jun dan Mata Iblis sedang terbaring di tanah dengan darah dan luka yang menghiasi tubuh.
Melihat pemimpin mereka terbaring tidak bergerak seperti itu, membuat para bandit tengkorak hitam lemas tidak berdaya, namun berbeda dengan para aliran putih yang menjadi senang karena pemimpin musuh sudah di kalahkan.
Karena rasa senang itu, para prajurit Zhao Lang kemudian terus membantai setiap bandit yang ada, begitu juga dengan murid sekte.
Hanya beberapa jam setelahnya pertempuran itu akhirnya berhasil di menangkan oleh pihak aliran putih walaupun dengan kerugian yang cukup banyak dari kubu Zhao Lang.
–––
Arc 1 sudah habis, saya akan hiatus sementara untuk mempersiapkan outline cerita Arc ke 2 nanti, juga sekaligus merehatkan otak.
__ADS_1
Sekian, terima kasih.