
Karena kaget dengan serangan tiba-tiba yang di arahkan padanya, Li Yuwen menghindarinya dengan susah payah, terlihat sebuah sobekan di bagian leher baju yang Li Yuwen kenakan.
‘Sepertinya gadis ini serius ingin memotong leherku,’ ucap Li Yuwen sambil memegang lehernya.
“Tunggu nona, aku tidak ada maksud jahat melihatmu berlatih pedang ... aku hanya takjub dengan gerakan pedang yang kau lakukan, itu cukup halus dan indah.”
Bukan menjadi tenang setelah mendengar penjelasan yang Li Yuwen sampaikan, Tang Lian semakin menjadi dan maju menyerang Li Yuwen dengan pedangnya.
“Seperti aku akan percaya saja dari perkataan orang dengan niat jahat sepertimu, terlebih itu keluar dari mulut orang yang memakai topeng!” seru Tang Lian lantang.
Sekitar satu tahun yang lalu di istana kekaisaran, Tang Lian sedang berlatih pedang di tempat biasa dia berlatih, tempat itu cukup sepi dari orang-orang yang ada di istana.
Tidak ada prajurit, kasim, ataupun dayang istana yang melewati tempatnya berlatih, alasan Tang Lian memilih tempat itu sebagai tempatnya berlatih karena tidak ingin orang lain melihat keadaanya yang seperti baru saja Li Yuwen lihat.
Namun suatu hari, seorang prajurit muda di istana tidak sengaja melewati tempat itu dan melihat Tang Lian yang berlatih dengan bajunya yang memperlihatkan lekukan tubuhnya akibat keringat dari latihannya.
Dengan paras yang cantik juga tubuh yang bagus, tidak mungkin seorang pria muda seperti prajurit itu tidak memikirkan hal yang jahat pada Tang Lian, dan setelah memeriksa sekitar dan yakin tidak ada orang lain, prajurit muda itu menyerang Tang Lian dengan maksud membuatnya pingsan.
Karena tingkat praktiknya lebih lemah dari prajurit muda itu, Tang Lian kalah hanya dalam puluhan jurus setelah menyadari serangan tiba-tiba yang diarahkan padanya
Akibat kelelahan dari latihannya juga serangan yang baru saja di terimanya, Tang Lian yang kehabisan Qi juga tenaganya terjatuh dan tidak bisa bergerak karena terlalu lelah.
Merasa Tang Lian sudah tidak bisa melawan lagi prajurit itu tidak memikirkan hal lain dan cepat melepas baju zirahnya kemudian mendekati Tang Lian, bermaksud ingin melakukan hal jahat padanya.
Setelah prajurit itu memegang kedua tangan Tang Lian dia segera melancarkan aksinya, namun karena Tang Lian yang meronta-ronta dia mengalami sedikit kesusahan.
__ADS_1
Karena sudah tidak sabar, dia mengalirkan sedikit Qi di jarinya lalu menusuk meridian Tang Lian, membuat Tang Lian tidak bisa bergerak ataupun mengeluarkan suaranya.
Sesudahnya dia kembali melancarkan aksinya, namun tidak sempat melakukannya langit berkata lain. Sebuah pukulan keras dengan dialiri Qi yang cukup besar mendarat di pipinya, membuat tubuhnya terpental sejauh lebih dari 20 meter.
Tang Lian yang menutup matanya kala itu kemudian membuka matanya karena merasa sudah tidak ada lagi yang memegang tangannya, dan menemukan seorang pria muda yang terlihat berumur 15 tahun.
‘Yu’gege?!’ batin Tang Lian.
Orang itu adalah Tang Yu, kakak laki-laki dari Tang Lian dan merupakan calon penerus kaisar dari Tang Jianying.
“Pangeran Yu?!” ucap prajurit itu setelah melihat orang yang memukulnya.
Pukulan yang baru saja dilepaskan oleh Tang Yu membuat suara yang cukup keras akibat prajurit yang di pukulnya menabrak banyak benda di belakangnya, dan suara itu terdengar oleh Tang Jianying yang baru saja ingin mengunjungi putrinya.
‘Lian’er!’ Tang Jianying berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi miliknya.
Prajurit muda yang menyadari kedatangan Tang Jianying menjadi ketakutan dan segera berlari cepat bermaksud meninggalkan istana, namun hanya satu atau dua langkah dia berlari Tang Jianying sudah berdiri di depannya.
“Tebuslah dosa mu!” ucap Tang Jianying dengan nada dingin.
Kurang dari satu tarikan napas, seluruh bagian atas tubuh prajurit itu hancur lebur sekaligus mengeluarkan semburan banyak darah yang kemudian menghiasi tempatnya berpijak, prajurit itu pun tewas seketika dan hanya meninggalkan dua kaki miliknya.
Sejak saat itu Tang Jianying mengeluarkan perintah untuk semua orang di istana agar tidak ada satupun yang mendekati area Tang Lian berlatih. Hanya kaisar, permaisuri, juga pangeran yang boleh memasuki area itu. Dan bila ada orang lain yang memasukinya akan dieksekusi di tempat, bahkan jika dia seorang wanita sekalipun.
Sedangkan Tang Lian yang merasakan semua kejadian yang baru saja di alaminya, menjadi trauma dan sangat membenci pria yang mesum, perasaan itu pun berlanjut hingga sekarang.
__ADS_1
**
Serangan demi serangan Tang Lian yang di arahkannya pada Li Yuwen dapat dihindari dengan mudah, Tang Lian menjadi bingung karena belum pernah serangan miliknya dapat dihindari semudah itu oleh orang-orang yang berada di tingkat praktik yang sama dengannya, terlebih dia tidak merasakan sedikit pun Qi di tubuh Li Yuwen.
Dalam waktu singkat puluhan serangan sudah di lancarkan oleh Tang Lian namun tidak ada satupun yang berhasil mendarat di tubuh Li Yuwen, membuat Tang Lian kesal karenanya, terlebih orang di depannya menghindari sekaligus memberikan saran padanya.
“Lawan aku dengan serius!”
Li Yuwen kaget karena gadis di depannya tiba-tiba berteriak ke arahnya, dia pun melompat mundur dan kembali berbicara.
“Seranganmu kaku dan terlalu lebar, tidak heran nona tidak bisa mendaratkan satupun serangan padaku....”
“Jangan meremehkan kemampuanku!” Tang Lian semakin kesal.
Li Yuwen yang mendengar itu kemudian menggelengkan kepalanya, “Baiklah ... apa boleh buat.” Li Yuwen berjalan dan mengambil sebuah tongkat kayu kecil sepanjang sebuah pedang biasa, kemudian memegangnya layaknya sebuah pedang.
Tang Lian yang melihatnya berdecak kesal, “Kau ingin melawanku dengan sebuah tongkat kayu biasa? Mau sampai kapan kau meremehkan ku?!”
“Kita tidak tahu bila belum di coba bukan?”
Tang Lian kembali maju menyerang Li Yuwen dengan pedangnya, dan dalam waktu singkat puluhan serangan yang lain dia arahkan pada Li Yuwen. Namun berbeda dari sebelumnya, setiap serangan tidak dihindari oleh Li Yuwen melainkan di tepisnya menggunakan tongkat kayu yang dia pegang.
‘Bagaimana bisa?’ batin Tang Lian.
Melihat Tang Lian yang kebingungan Li Yuwen memutar balik arah pertarungan, dia yang sebelumnya bertahan kini mulai menyerang balik. Berbeda dari Tang Lian, setiap serangan yang dilepaskan oleh Li Yuwen berhasil mendarat di bagian tubuh Tang Lian dengan pelan.
__ADS_1
**
Disisi lain di tempat kediaman Yao Jun berada, “Wen’er ... kemana kau pergi? apakah kau tidak kasihan dengan gurumu yang sedang kelaparan menunggu disini?” ucap Yao Jun dengan nada lirih.