Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 51 - Bandit Tengkorak Hitam


__ADS_3

Kemarin sengaja tidak update bab terbaru karena saya takut masih ada yang ingin bertanya tetapi tidak sempat karena batas waktu sudah habis....


Terima kasih untuk yang sudah bertanya dan selamat membaca.


–––


Wanita pemilik kedai yang sudah tenang itu lekas mengetahui bahwa kedua orang di depannya adalah seorang petapa, dia pun bersujud ke arah Yao Jun juga Li Yuwen sambil menangis meminta sebuah pertolongan.


Yao Jun yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh wanita di depannya kemudian membuatnya bangun dari sujudnya karena merasa tidak enak dengan pemandangan itu.


Setelahnya Yao Jun membujuk wanita yang menangis itu untuk tenang dan menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada desa yang dia tinggali.


“Anakku ... kumohon tolong anak perempuan ku!” Wanita itu memohon sambil memegang lengan Yao Jun.


“Ada apa dengan anakmu nyonya?” Yao Jun mencoba bertanya lebih jelas.


Berusaha menenangkan diri, wanita itu kemudian menjelaskan apa yang sudah terjadi pada desa yang di tinggalinya.


Sekitar seminggu yang lalu, desa kecil yang awalnya tenang dan damai itu kedatangan rombongan pria yang mengaku sebagai seorang pengelana.


Karena melihat para pengelana itu membawa barang-barang yang terlihat cukup unik di mata para warga, di tambah para pengelana itu menceritakan sebuah cerita yang tidak pernah para warga desa dengar sebelumnya, mereka pun membiarkan para pengelana itu untuk tinggal di desa, bahkan membuat sebuah pesta meriah di malam hari.


Namun tanpa mereka ketahui pesta di malam hari itu akan menjadi sebuah awal malapetaka yang menghancurkan kehidupan damai para warga.


Para pengelana yang sebelumnya ramah itu melepas jubah yang menutupi tubuh mereka, dan di balik jubah itu terlihat sebuah tato tengkorak berwarna hitam yang cukup menyeramkan, dan tato itu terlihat di bagian lengan kanan setiap para pengelana.


Tidak hanya itu, di balik tubuh yang di tutupi oleh jubah sebelumnya terlihat sebuah pedang di masing-masing pinggang para pengelana, sontak para warga biasa yang melihat pedang menjadi ketakutan.


Yao Jun dan Li Yuwen yang mendengar cerita itu menyadari siapa para pengelana itu.


“Bandit Tengkorak Hitam!” Yao Jun bergumam.

__ADS_1


Tidak sampai disana, wanita itu terus bercerita setiap hal yang terjadi di malam itu. Para warga pria yang di bunuh karena berusaha melindungi keluarganya, para gadis dan wanita yang di lecehkan dan di perbudak, hingga anak kecil yang cambuk semalam penuh.


Di pagi harinya semua bandit tengkorak hitam pergi meninggalkan desa itu bersama seluruh barang berharga juga para wanita dan gadis yang di perbudak semalam, dan hanya menyisakan para wanita yang mereka anggap jelek juga para anak-anak yang mereka siksa sebelumnya.


Yao Jun yang mendengar keseluruhan cerita yang ada kemudian mengepalkan tangannya dengan kuat, amarah di dalam dirinya tersulut begitu besar dan ingin segera meninggalkan desa itu untuk mencari para bandit tengkorak hitam untuk di bantai hingga tidak tersisa.


‘Di kehidupanku yang pertama kelompok bandit tengkorak hitam ini akan di bantai habis oleh kekaisaran, tetapi sepertinya lebih baik untuk di basmi dari awal agar tidak ada lagi kejadian serupa kedepan,’ batin Li Yuwen.


Merasa cukup mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Yao Jun menanyakan kepada wanita pemilik kedai itu kemana arah para bandit itu pergi.


“Bila aku tidak salah lihat, mereka pergi ke arah utara!”


Yao Jun yang mendengar itu menjadi teringat akan misinya yang juga pergi ke arah utara dimana tempat peperangan di kota Zhao terjadi.


‘Jadi kelompok tengkorak hitam lah yang akan menjadi lawan kita nanti, bagus!’ Yao Jun tersenyum lebar di balik topengnya, niat membunuhnya pun sedikit keluar dari tubuhnya.


Li Yuwen terbatuk pelan karena merasakan niat membunuh gurunya itu.


Yao Jun yang mendengarkan perkataan Li Yuwen kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Kau benar Wen’er ... aku terlalu terbawa suasana.”


Setelah selesai dengan semua yang ada, Yao Jun berpamitan kepada wanita pemilik kedai itu dan ingin segera pergi ke kota Zhao untuk membasmi kelompok tengkorak hitam.


“Tolong selamatkan putriku, aku tidak ingin putriku juga tewas seperti suamiku!”


“Siapa nama putri anda nyonya?” Yao Jun mencoba menenangkan.


“Lanlan! Nama putriku Lanlan!”


“Baiklah, tenang saja karena kami akan menyelamatkan semua tawanan yang ada.”


Yao Jun dan Li Yuwen kemudian pergi meninggalkan desa itu dan kembali menuju tempat para murid sekte berkumpul.

__ADS_1


Sesampainya disana Yao Jun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak lama setelahnya para murid sekte yang mendengar cerita itu dengan seksama kemudian tersulut emosi sama seperti Yao Jun, mereka pun meminta Yao Jun untuk kembali melakukan perjalanan secepat mungkin karena tidak tahan dengan apa yang kelompok tengkorak hitam lakukan.


Perjalanan pun berlanjut namun beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya, ditambah jam perjalanan yang sebelumnya enam jam kini bertambah menjadi sepuluh jam berlari terus menerus tanpa henti.


**


“Tuan besar, para kelompok bandit tengkorak hitam terus menyerang garis pertahanan terakhir kita!”


“Tuan besar kita harus segera mengungsikan para wanita dan anak-anak pergi keluar kota, kita tidak boleh terus menetap disini!”


Terlihat beberapa orang yang mengenakan zirah seorang prajurit berbicara ke arah seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi yang memiliki ukiran berbentuk naga.


Karena terus di desak untuk mengungsikan para warga, pria yang di panggil tuan besar itu kemudian membuka suara.


“Baiklah, beberapa dari kalian segera ungsikan para warga biasa menuju keluar kota sejauh mungkin, dan pastikan pergerakan kalian tidak di ketahui oleh kelompok tengkorak hitam!”


“Baik!” Jawab beberapa prajurit yang ada disana.


Melihat rekannya sudah keluar dari ruangan, salah seorang prajurit bertanya kepada pria yang di sebut tuan besar itu.


“Tuan besar, apakah bala bantuan benar-benar akan datang?”


“Aku ... aku tidak tahu, tetapi kita percayakan saja apa yang di katakan oleh prajurit emas darah beberapa hari yang lalu.”


Di tengah-tengah perbincangan itu, terdengar suara ketukan pintu, dan tidak lama kemudian seorang wanita cantik yang terlihat berumur tiga puluhan tahun memasuki ruangan dan berjalan ke arah tuan besar.


“Suamiku apa yang akan kita lakukan?”


“Xu’er apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak ikut mengungsi bersama yang lain?”


Pria yang tengah duduk itu kemudian berdiri melihat wanita yang baru masuk itu adalah orang yang sangat dia kenali, wanita itu adalah istrinya.

__ADS_1


“Kenapa? Apakah aku tidak boleh tetap tinggal bersamamu disini?” Wanita itu membalas.


__ADS_2