
Li Yuwen berjalan ke salah satu pohon dan memetik buah Apel Besi yang menggantung, kemudian ia duduk bersila dan bersiap memakan Apel Besi di tangannya.
Walaupun memiliki nama Apel Besi, tetapi kekerasan buahnya sama saja seperti apel biasa.
“Tidak perlu terburu-buru ... Aku hanya akan memakan Apel Besi sedikit demi sedikit. Karena tubuhku yang sekarang tidak pernah mengkonsumsi Tanamam Spiritual, jadi aku akan membuatnya terbiasa lebih dulu.”
Li Yuwen mulai memakan Apel Besi di tangannya, itu dia awali dengan gigitan yang sangat kecil. Gigitan yang Li Yuwen lakukan hanya mengambil bagian Apel Besi sebesar kuku orang dewasa.
Namun walau hanya sebesar kuku orang dewasa, efek yang di timbulkan cukup besar, cukup hingga membuat Li Yuwen terkejut dengan ledakan Qi yang di keluarkan.
Li Yuwen mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat banyaknya Qi yang memenuhi dirinya melebihi yang bisa tubuhnya tampung.
Li Yuwen tidak diam saja dengan Qi yang melimpah di tubuhnya, ia dengan sigap mengedarkan seluruh Qi nya ke tulang miliknya dan mulai menempa.
Berkat teknik khusus cara menempa tulang dari Kitab Dewa Semesta, Li Yuwen bisa mengatasi seluruh ledakan Qi yang baru saja terjadi di tubuhnya. Walaupun begitu, tetap terlihat darah mengalir di tepi bibirnya, 2 jam pun berlalu.
“Kualitas Tanaman Spiritual tingkat tinggi memang bukan omong kosong belaka ... gigitan kecil darinya bahkan sudah membuatku sedikit kewalahan walau sudah menggunakan teknik dari Kitab Dewa Semesta, sepertinya aku harus menggigitnya lebih kecil,” ujar Li Yuwen dengan wajah yang takjub.
“Sepertinya untuk mencapai tujuanku akan membutuhkan waktu cukup lama ... Ini mengingatkanku akan suatu pepatah, Perjalanan Seribu Mil Bermula Dari Satu Langkah.”
***
Sebulan sudah berlalu sejak Li Yuwen menjalani kehidupannya yang kedua, Li Yuwen juga sudah menempa tulangnya menggunakan Apel Besi selama sebulan.
Li Yuwen tidak hanya berdiam di reruntuhan kuno, sesekali ia keluar untuk mengambil buah-buahan dan air minum, juga tak melupakan untuk mandi.
Namun walau sebulan sudah berlalu , belum terlihat tanda-tanda ia akan mencapai Tulang Tembaga.
“Sudah sebulan sejak aku mulai menempa tulangku ... namun aku belum melihat tanda-tanda akan mencapai kualitas Tulang Tembaga, bahkan Apel Besi yang ku konsumsi sudah hampir mencapai seperempatnya.”
__ADS_1
Li Yuwen kembali menempa tulangnya dengan Apel besi hingga 1 bulan lainnya berlalu. Namun berbeda dari sebelumnya, terdengar suara seperti tulang yang remuk dari dalam tubuh Li Yuwen, menandakan bahwa ia telah mencapai kualitas Tulang Tembaga.
“Akhirnya ... setelah mengkonsumsi lebih dari seperempat Apel Besi, aku mencapai kualitas Tulang Tembaga. Dan hanya membutuhkan waktu 2 bulan saja... Di kehidupanku yang pertama aku membutuhkan waktu 6 bulan untuk mencapai kualitas Tulang Tembaga, ini tidak buruk,” gumam Li Yuwen dengan senyum bangga di wajahnya.
“Sekarang aku harus menyempurnakan 4 Fondasi ku. Akan ku mulai dari Kulit, Otot, Organ, lalu yang terakhir Tulang.”
Li Yuwen berjalan mendekati Rumput Besi yang ada di dekatnya dan memutiknya, cara penggunaan Rumput Besi berbeda dengan Apel Besi. Bila Apel Besi di makan, Rumput Besi hanya di serap Qi dan khasiatnya dari luar tubuh.
Tidak semudah Apel Besi, Rumput Besi memiliki Racun Qi di dalamnya, jadi Li Yuwen lebih berhati-hati dalam menyerap Qi dari Rumput Besi karena bisa saja dia akan ikut menyerap Racun Qi yang ada. Terlebih dia tidak memiliki obat untuk menawar racunnya.
Racun Qi adalah racun yang di miliki oleh setiap Tanaman Spiritual namun ada juga yang tidak, contohnya adalah Apel Besi. Racun Qi memang tidak akan membunuh kultivator, tetapi efeknya menimbulkan seseorang akan susah untuk meningkatkan praktik miliknya.
Oleh sebab itu seorang kultivator tidak akan mengkonsumsi Tanaman Spiritual atau pil dengan berlebihan, karena membersihkannya akan cukup merepotkan.
Racun Qi bisa di tawar dengan pil khusus tingkat menengah, namun masih ada cara lain untuk menawarnya, yaitu dengan menggunakan Qi. Cara ini bisa di lakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain.
Li Yuwen mulai menyerap Qi Rumput Besi yang ada di tangannya, membutuhkan waktu cukup lama untuk menyerap seluruh Qi dari Rumput Besi.
***
Di suatu kedai makan kota kecil, masuk seorang pria dengan topeng yang terbuat dari besi dan di pinggangnya tersarung sebilah pedang.
Kulit pria itu putih, rambutnya panjang serta halus dan memiliki warna hitam bagaikan langit malam. Di kedua mata topeng itu terlihat sepasang mata dengan tatapan yang tajam dan terlihat berwarna sama seperti rambutnya.
Melihat itu semua sudah bisa di simpulkan bahwa pria bertopeng itu pasti memiliki paras yang tampan.
Setelah memasuki kedai, pria itu duduk di salah satu meja yang kosong dan pelayan datang menghampirinya.
“Ingin pesan apa tuan?” tanya sang pelayan.
__ADS_1
“Apakah ada rekomendasi makanan yang enak?” balas pria bertopeng.
“Kedai kami memiliki sate kambing serta arak-arak madu paling enak yang ada di kota ini, biayanya 2 koin perak.”
Pria bertopeng itu lalu menyerahkan 2 koin perak dari kantongnya kepada pelayan di depannya, pelayan itu menerima koin tersebut dan segera berjalan menuju dapur.
“Apakah kau sudah dengar ceritanya?”
“Cerita apa?”
Terlihat 2 pelanggan yang ada di kedai sedang bergosip.
“Menurut cerita yang ku dengar, 3 hari yang lalu di Hutan Seribu Monster muncul seekor Monster Iblis Serigala Malam yang menyerang desa kecil di dekat hutan itu, dan menurut kabar tidak ada warga desa yang hidup setelah penyerangan terjadi.”
Pria bertopeng mendengarkan cerita orang-orang yang bergosip dan terlihat senyum di balik topengnya.
“Akhirnya aku menemukannya.”
Tak lama setelah itu pelayan yang tadi pergi datang kembali dengan sebuah piring dan gelas di tangannya.
“Silahkan dinikmati tuan.”
Melihat pesanannya datang pria bertopeng membuka sedikit topengnya, dan hanya terlihat bagian mulutnya saja yang terbuka.
Semua orang keheranan dengan yang di lakukannya dan mulai membicarakannya , tapi ia tidak memperdulikan orang-orang yang membicarakan dirinya dan tetap memakan pesanannya dengan lahap.
Seusai makan pria itu bangkit dari tempatnya dan pergi ke arah pintu keluar, dia melihat sekeliling sebelum akhirnya mulai berjalan ke arah hutan yang baru saja di bicarakan oleh orang-orang yang ada di dalam kedai.
***
__ADS_1
Di sebuah danau yang cukup luas, terlihat seorang pria berambut panjang emas dan mata berwarna biru permata sedang berdiri termenung di tepi danau.
“Akhirnya hari ini tiba.”