
“Baiklah.” Li Yuwen kemudian berjalan mendekati pohon yang ada di halaman dan mematahkan tiga ranting yang cukup panjang menyamai pedang lalu menyerahkan dua dari ranting itu kepada Zhang Hao dan juga Qiao Wei.
“Ambil itu dan gunakan layaknya sebuah pedang, kalian berdua majulah dan lawan aku tapi tanpa menggunakan Qi, hanya murni menggunakan teknik berpedang juga kekuatan fisik.”
Merasa sedang di remehkan, Zhang Hao maju lebih dulu menyerang Li Yuwen menggunakan ranting di tangan, dan sampai jaraknya sudah cukup dekat Zhang Hao melepaskan sebuah tusukan ke arah dada Li Yuwen, namun tanpa sempat dia bereaksi Li Yuwen sudah berdiri di belakangnya.
“Ap—” Kata-kata Zhang Hao terhenti karena merasakan tiga tusukan di ketiga titik vitalnya, ‘Seberapa cepat gerakannya tadi itu?’ batin Zhang Hao.
Zhang Hao yang masih sedikit kesakitan kemudian melihat ke arah Qiao Wei yang hanya berdiri diam di tempat sembari memandangi wajah Li Yuwen.
“Weiwei apa yang kau lamunkan? Bantu aku mengalahkannya!”
Panggilan Zhang Hao itu berhasil menyadarkan lamunan Qiao Wei dan gadis itu pun maju menyerang Li Yuwen yang sedang membelakanginya di depan dengan sebuah tusukan dari rantingnya.
Namun sebelum rantingnya menyentuh tubuh Li Yuwen, Li Yuwen menggerakkan tubuhnya ke samping yang kemudian memegang tangan kanan Qiao Wei yang sedang memegang ranting.
Berikutnya Li Yuwen menarik tangan itu dan membanting tubuh Qiao Wei kedepan dengan halus hingga Qiao Wei sendiri tidak merasakan sakit darinya.
“Eh?” ucap Qiao Wei yang bingung karena tiba-tiba terbaring di tanah.
“Gerakanmu terlalu lebar, juga ... jangan libatkan perasaan saat sedang bertarung karena itu akan merenggut nyawamu....” ucap Li Yuwen yang masih memegang tangan Qiao Wei.
Melihat tangannya di sentuh oleh Li Yuwen jantung Qiao Wei berdegup lebih kencang dari hanya menatapnya saat sedang bertarung menggunakan topeng.
“Kena kau!” teriak Zhang Hao yang melihat sebuah celah pada diri Li Yuwen, namun kejadian selanjutnya sedikit mengejutkan.
Li Yuwen yang melihat Zhang Hao berlari mendekatinya kemudian membuka suara, “Selain tidak menggunakan perasaan, pastikan selalu mengawasi sekitar saat sedang bertarung ... karena bisa saja ada serangan dadakan ataupun perangkap.”
Zhang Hao yang sudah dekat dengan Li Yuwen kemudian mendengar perkataannya itu, dan tanpa dia sadari sebuah benda terjatuh di atas kepalanya.
“Ranting?” tanya Zhang Hao setelah mengambil benda yang terjatuh di atas kepalanya.
__ADS_1
“Bila itu pedang, mungkin nyawamu sudah melayang....” Li Yuwen memberikan nasihat.
Setelahnya Li Yuwen meminta mereka menyudahi pertarungan itu karena dia masih ada kesibukan yang harus di kerjakan, mengerti akan itu mereka berdua kemudian pergi keluar dari kediaman.
Bukannya kesal karena baru saja di kalahkan, Zhang Hao merasa mendapatkan sesuatu yang cukup berharga dari pertukaran singkat itu, begitu juga dengan Qiao Wei walaupun tadi dia terlalu banyak memikirkan wajah asli di balik topeng milik Li Yuwen.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Yao Jun karena melihat tiga ranting yang ada di halaman.
“Cucu tetua pertama dan ketiga datang kemari untuk saling bertukar petunjuk denganku.”
Yao Jun menjadi terkejut mendengar itu, “Apa kau melawan mereka berdua bersamaan?”
“Iya.” jawab Li Yuwen singkat
Mendengar jawaban itu Yao Jun sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, dia menjadi penasaran dengan batas dari kejeniusan muridnya itu yang bahkan bisa mengalahkan dua murid jenius bersamaan.
Hari pun berganti, Li Yuwen dan Yao Jun yang sudah selesai berkemas berjalan menuju kediaman patriak karena akan membahas apa yang akan mereka lakukan nanti, walaupun saat tiba disana hanya Yao Jun lah yang ikut pembahasan, sedangkan Li Yuwen diminta oleh Tang Lian untuk berlatih bersamanya.
Tang Lian lalu menginjak kaki Jendral Liong dan raut wajah pria sepuh itu kemudian terlihat menahan jeritan rasa sakit.
Tang Lian dan Li Yuwen kemudian berjalan menuju tempat mereka kemarin berlatih bersama, kini Tang Lian memberanikan diri untuk berbicara.
“Murid tetua Yao, bagiamana aku bisa memanggilmu?”
‘Murid tetua Yao?’ batin Li Yuwen, kemudian Li Yuwen menjawab pertanyaan itu, “Tidak perlu kaku seperti itu tuan putri, anda bisa memanggil namaku senyaman yang anda mau.”
Tang Lian kemudian menganggukkan kepalanya, “Kalau begitu aku akan memanggilmu Yuwen ... tapi kau juga jangan terlalu formal kepadaku.”
“Lalu bagaimana aku harus memanggil tuan putri?”
“Panggil saja aku Lian.”
__ADS_1
“Baiklah....” Li Yuwen berpikir sejenak mungkin dia adalah orang pertama selain keluarga terdekat Tang Lian yang di perbolehkan oleh Tang Lian sendiri untuk memanggil nama depannya dengan sukarela, terlebih dia adalah seorang putri kaisar.
‘Mungkin ini sebuah keberuntungan.’ Li Yuwen tertawa kecil.
Setelahnya mereka berdua pun berlatih bersama, walaupun berhasil membalas kekalahannya tetapi tetap saja ilmu bela diri Li Yuwen jauh di atas Tang Lian, bila disuruh bertarung tanpa Qi juga senjata pusaka Tang Lian yakin hasil dari pertarungan kemarin akan sama seperti pertarungan di pertemuan pertama mereka.
Selang beberapa waktu datang seorang pria yang berpakaian seperti seorang pelayan menghampiri mereka untuk menyampaikan pesan.
“Apakah anda murid tetua Yao? Beliau memanggil anda di dalam kediaman patriak.” ucap pria itu.
“Guru memanggilku? Baiklah aku akan segera kesana!”
Namun disaat Li Yuwen hanya bersampingan dengan pelayan itu, Li Yuwen melepaskan sebuah tendangan yang kuat ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan!?” Tang Lian kaget karena Li Yuwen menyerang manusia biasa.
Tetapi tidak sesuai dugaan, pria berpakaian pelayan itu berhasil menahan serangan Li Yuwen menggunakan kedua tangannya.
‘Apakah penyamaran ku di ketahui olehnya? Tetapi secepat itu? Bagaimana bisa....” batin pria itu.
Tidak hanya diam saja, Li Yuwen menambahkan kekuatan fisiknya pada tendangannya itu, membuat pria itu terpental mundur, Tangannya yang menahan tendangan itupun sedikit gemetar.
‘Sial ... kekuatan fisik bocah ini kuat juga.’
Melihat hal tidak biasa sedang terjadi di depan matanya, Tang Lian mencoba bertanya kepada Li Yuwen.
“Lian ... dengan niat membunuh yang di sembunyikannya itu, siapapun tidak akan percaya dia datang dengan maksud baik, terlebih di kediaman patriak tidak ada pelayan sama sekali.”
Pria itu berdecak kesal, “Sepertinya aku terlalu ceroboh, tapi tidak apa-apa karena misimu akan segera terpenuhi....” ucap pria itu sebelum menarik pakaian miliknya dan terganti dengan sebuah jubah yang memiliki lambang gunung berwarna merah, lalu dia memasangkan topeng di wajahnya yang diambil dari sakunya.
“Lambang itu! Organisasi Gunung 7 Dosa! Itu artinya....” Li Yuwen kemudian mengalihkan pandangannya pada Tang Lian.
__ADS_1