Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 24 - Salah Paham II


__ADS_3

“Kemana muridku ini pergi? Seharusnya dia sudah sampai dari tadi....”


Yao Jun menatap langit malam dari jendela sambil mengelus dagunya, kemudian tak lama setelahnya terdengar suara ketukan pintu di gerbang kediamannya.


“Siapa yang berkunjung malam-malam begini? Tidak biasanya ada yang seperti ini.”


Yao Jun kemudian berjalan keluar menuju gerbang kediamannya dengan hati-hati sambil membawa sebuah pedang kayu di pinggangnya, dan setelah mencapai gerbang Yao Jun membuka pintu itu dengan perlahan dan menemukan seorang pria yang membawa sebuah benda cukup besar di tangannya.


**


Serangan demi serangan yang Li Yuwen berikan selalu berhasil mendarat di beberapa bagian tubuh Tang Lian dengan pelan, namun tidak sembarangan arah serangan yang di berikan oleh Li Yuwen, setiap serangan yang ada selalu mendarat di bagian titik vital Tang Lian.


Tidak hanya memainkan tongkat dan memukulkannya ke arah Tang Lian, Li Yuwen melakukan serangan sekaligus memberikan saran kepada Tang Lian.


“Celah mu terlalu lebar ... gerakanmu terlalu kaku....”


Setiap kekurangan yang dilakukan oleh Tang Lian selalu di sebutkan oleh Li Yuwen, tentu Tang Lian menjadi kesal karenanya walaupun pemahamannya meningkat drastis setelah dia lekas mempraktikkan saran yang di katakan Li Yuwen.


Pertukaran itu terjadi terus hingga lebih dari seratus serangan, namun belum ada tanda bahwa Tang Lian akan mengubah alur pertarungan, hingga akhirnya Tang Lian melompat mundur untuk mengambil jarak dari Li Yuwen.


“Kau membuatku tidak memiliki pilihan lain,” ucap Tang Lian sebelum mengalirkan Qi miliknya ke pedang yang dia pegang.


Tang Lian kemudian melirik ke arah wajah Li Yuwen untuk melihat reaksi yang akan di tunjukkannya. Namun berbeda dari perkiraannya Li Yuwen hanya tersenyum melihat yang dia lakukan, senyuman itu di ketahuinya saat melihat tepi bibir Li Yuwen yang sedikit terlihat keluar dari topengnya.


Tang Lian berdecak kesal, “Terima ini orang mesum,” ucap Tang Lian sekaligus berlari cepat ke arah Li Yuwen.


Hanya dalam dua tarikan napas Tang Lian sudah berada di depan Li Yuwen, karena Li Yuwen hanya diam saja Tang Lian kemudian melakukan tebasan yang cukup cepat disertai Qi di pedangnya ke arah leher Li Yuwen.

__ADS_1


Saat pedangnya hanya kurang 3 inci dari leher Li Yuwen, Tang Lian mengalami kebingungan dengan Li Yuwen yang tidak menghindar dari tebasan pedang miliknya, namun cepat menghilangkan kebingungan itu dan lanjut melepas serangannya.


Merasa pedangnya akan menembus leher Li Yuwen, Tang Lian menutup matanya karena dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, atau lebih tepatnya memotong kepala orang lain. Namun setelah ayunan pedangnya mencapai leher Li Yuwen, terdengar suara besi bagai cermin yang pecah.


Karena heran dengan suara itu Tang Lian kembali membuka matanya dan melihat hal mengejutkan sedang terjadi di depannya, kepala Li Yuwen masih berada di tempatnya bahkan dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berpijak, yang lebih mengejutkan lagi adalah pedangnya yang pecah menjadi serpihan-serpihan kecil dan terjatuh di tanah.


“Bagimana ... bagaimana bisa?” Tang Lian kebingungan.


Kebingungan Tang Lian kemudian terpecah setelah sebuah sentilan jari mengenai tepat di keningnya, Tang Lian pun merasa sedikit sakit karenanya.


Li Yuwen kemudian menghembuskan napasnya, “Nona ... apakah kau tidak pernah diajarkan bila senjata biasa akan rusak dan rapuh bila dialiri oleh Qi? Bila itu orang lain maka besar kemungkinan nyawamu akan melayang.”


Tang Lian yang mendengar itu segera menyadari kesalahannya dan menjadi malu karenanya, tidak dia sangka hanya karena merasa terpojok seperti itu dia akan melakukan kesalahan yang begitu jelas, bila lawannya bukan Li Yuwen maka besar kemungkinan dia akan tewas setelah melakukannya.


Li Yuwen yang melihat Tang Lian sedang merenungkan kesalahannya kemudian melihat ke atas, “Gawat ... aku terlalu lama disini.”


“Nona, sebaiknya kau mengikuti saran yang ku katakan agar tidak ada kekurangan dalam gerakanmu ... juga jangan sembarangan mengatakan orang lain adalah orang mesum, karena aku tidak tertarik dengan seorang gadis muda yang tidak berpengalaman.” Li Yuwen pun berlari cepat meninggalkan Tang Lian sendirian.


Walaupun berbicara seperti itu Li Yuwen sebenarnya hanya membual, karena di kehidupan sebelumnya bahkan dia tidak pernah menikah ataupun memiliki pasangan hingga akhir hayatnya, menurutnya itu hanya membuang-buang waktunya saja dalam membalas dendamnya.


Tang Lian tidak terlalu fokus mendengarkan perkataan pertama yang Li Yuwen ucapkan, namun dia mendengar jelas perkataan yang kedua, ‘Gadis tidak berpengalaman?’ batin Tang Lian.


“Dasar bodoh!” teriak Tang Lian lantang.


Tang Lian kemudian berniat untuk kembali berlatih pedang, namun kali ini dia melakukan semua yang Li Yuwen sarankan dari awal, dan beberapa saat kemudian secara mengejutkan kemampuan Tang Lian meningkat drastis ke tingkat yang tidak dia rencanakan sebelumnya.


Banyak gerakan tidak perlu yang hilang setelah mengikuti saran yang Li Yuwen katakan, membuat Tang Lian menduga bahwa Li Yuwen adalah seorang senior yang membuat dirinya awet muda dengan Qi, dan itu dia duga karena mendengar suara Li Yuwen yang terdengar masih muda.

__ADS_1


“Siapa senior itu? Apakah dia salah satu tetua disini? Mungkin aku bisa melihatnya kembali besok di ujian penerimaan murid yang patriak Xiang katakan.”


**


Li Yuwen yang berlari cepat kemudian tiba di kediamannya, dan segera masuk karena merasa cukup lama membiarkan gurunya sendirian tanpa makan malam.


“Guru, aku kembali!” seru Li Yuwen.


Karena tidak mendengar jawaban apapun Li Yuwen lanjut berjalan memasuki kediaman, dan setelah di dalam Li Yuwen kaget mendapati gurunya yang tanpa mengenakan topeng sedang terbaring di lantai dengan sebuah noda merah di tepi bibirnya.


Melihat itu Li Yuwen segera berlari mendekati gurunya kemudian mengangkat kepalanya dari lantai dan menyandarkannya di tangan.


“Guru apa yang terjadi denganmu?” Li Yuwen bertanya khawatir.


Yao Jun yang merasa kepalanya sedang diangkat kemudian membuka matanya dan melihat Li Yuwen yang sedang menyandarkannya di tangan, lalu Yao Jun membuka suara.


“Wen–Wen’er?! Apakah itu kau?” Yao Jun bertanya dengan nada lirih.


“Guru ... katakan apa yang terjadi denganmu?”


“Wen’er ... Wen’er ... gurumu sudah ... tidak sang—” Kata-kata Yao Jun terhenti setelah Li Yuwen melihatnya bersendawa.


Li Yuwen yang melihat Yao Jun bersendawa kemudian mencium bau arak keluar dari mulut gurunya itu, dan segera memahami apa yang terjadi.


“Guru ... jangan bilang kalau kau baru saja minum arak?!”


“Muridku, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” jawab Yao Jun cepat.

__ADS_1


__ADS_2