Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 12 - Mengangkat Seorang Murid


__ADS_3

Bila Melihat Kesalahan dalam tulisan baik berupa dialog ataupun narasi, silahkan tulis di kolom komentar dan author akan memperbaikinya.


Dan jika terdapat beberapa masukan ataupun saran baik itu berupa gaya bahasa, tanda baca, dan lain-lain. Kalian juga bisa menyampaikannya di kolom komentar agar author bisa membuat chapter kedepan menjadi lebih baik.


Terima Kasih. (^ω^ )


***


Pria paruh baya yang sedang pingsan kemudian bangun dari pingsannya, hal pertama yang ia lihat setelah bangun adalah menemukan dirinya sedang di kelilingi oleh dua orang pria.


“Kalian! ini ... kenapa tubuhku terikat?” ujarnya bingung.


Seolah tidak memperdulikan kebingungannya, Yao Jun berjongkok di depannya kemudian menancapkan sebuah ranting yang sudah di aliri Qi ke arah pahanya.


Sontak pria paruh baya itu menjerit kesakitan.


‘Ini ... guru masih kejam terhadap orang jahat seperti sebelumnya,’ batin Li Yuwen sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.


“Jangan menangis seperti anak kecil, sekarang katakan apa tujuan kalian mengejarku?”


“Ka-kau ... jangan harap bisa mengambil informasi dariku,” balas pria paruh baya itu sembari berusaha menggigit sesuatu di balik giginya.


“Kau!”


Belum sempat Yao Jun menghentikannya tetapi pria paruh baya di depannya sudah tak bernyawa, membuat Yao Jun mendengus kesal.


Disisi lain, suatu tempat di gunung mati yang tidak terlihat sedikitpun hewan atau tanaman yang hidup, terlihat seorang pria paruh baya dengan wajah yang buruk rupa di sertai bisul juga bintik-bintik di wajahnya sedang berada di sebuah ruangan.


Pria paruh baya itu tidak sendirian, terlihat seorang pria muda mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruangan miliknya.


“Hormat kepada tetua,” ucap pria muda itu setelah memasuki ruangan.


“Bagaimana situasinya?”


“Lapor tetua, kelompok yang kita kirim untuk mengambil Inti Monster Serigala Malam sudah tewas tidak tersisa.”


Mendengar laporan itu tetua yang dimaksud menghempaskan kakinya ke lantai, membuat retakan serta guncangan yang besar di seluruh ruangan.

__ADS_1


“Kurang ajar! ... siapa yang berani membunuh orang yang aku kirim?”


“Menurut laporan terakhir yang kita terima, mereka sedang mengikuti kultivator Giok Kematian yang juga mencari Serigala Malam.”


Pria paruh baya itu kemudian berhenti sejenak sebelum mengeluarkan tekanan yang besar dari tubuhnya.


Seluruh ruangan bergetar bahkan terdapat beberapa puing bangunan yang retak berjatuhan dari atas ruangan, pria muda di depannya juga bersujud ketakutan karena tidak bisa menahan tekanannya.


“Giok Kematian ... berani sekali kau mengambil barang yang paling ku butuhkan saat ini, kita lihat saja bagimana kau akan bertahan.”


Pria paruh baya itu kemudian memerintahkan pria muda di depannya untuk mengirim lebih banyak orang untuk merebut Inti Monster Serigala Malam dari tangan Yao Jun.


“Cepat rebut kembali Inti Monster itu! Tidak mudah untuk menemukan Serigala Malam yang lain.”


“BAIK!” pria muda itu kemudian berlari cepat meningalkan ruangan.


***


“Sial.” Terliat Yao Jun masih kesal.


Li Yuwen yang melihat itu lalu menenangkan Yao Jun dari kekesalannya.


Li Yuwen menggelengkan kepalanya, “Seperti yang sebelumnya saya katakan ... tidak perlu alasan untuk menolong orang lain, saya hanya berniat menolong dan tidak mengharapkan apapun.”


“Tapi—” Yao Jun menghentikan kata-katanya.


“Baiklah aku mengerti ... namun bila ada yang kau inginkan katakan saja padaku.”


“tentu,” balas Li Yuwen singkat.


Li Yuwen dan Yao Jun pun pergi meningalkan mayat pria paruh baya itu sendirian di pohon tanpa memberikan penguburan yang layak padanya.


Mereka berdua kembali ketempat sebelumnya dan mulai berbincang-bincang, Yao Jun banyak menceritakan tentang dirinya karena tidak memiliki pembahasan yang lain untuk seorang anak berumur 15 tahun.


Namun pandangannya berubah setelah ia menanyakan kenapa Li Yuwen tinggal di Hutan Seribu Monster.


Li Yuwen menjawab rasa penasaran Yao Jun dengan menceritakan kisahnya saat kota kelahirannya diserang, juga cerita kematian orang tuanya setelahnya.

__ADS_1


Li Yuwen juga bercerita karena tidak memiliki tempat tinggal lagi dia memutuskan untuk menetap di Hutan Seribu Monster selama tiga tahun.


Yao Jun mendengarkan cerita Li Yuwen dengan serius, tidak jarang terlihat raut wajahnya menjadi marah juga sedih.


Berbeda dengan Yao Jun, Li Yuwen menceritakan kisahnya dengan tenang dan terlihat tanpa emosi, itu juga membuat Yao Jun sedikit bingung.


Cerita Li Yuwen berakhir saat bertemu dengan Yao Jun yang pingsan saat bertarung.


Bagi Yao Jun yang juga mengalami hal sama seperti Li Yuwen, bukanlah hal yang mudah untuk melupakan rasa kesedihan dari kematian kedua orang tua, butuh bertahun-tahun untuk melepaskan kesedihan seperti itu.


Yao Jun sendiri bahkan membutuhkan waktu lebih dari 8 tahun untuk merelakan kematian orang tuanya serta kakak perempuannya yang tewas mengenaskan.


Namun kesedihan itu tidak tampak di wajah Li Yuwen, terlihat sudah melewati hal itu selama bertahun-tahun lamanya, membuat Yao Jun takjub dengan sikap dewasa yang dia miliki.


Cerita mereka berlarut-larut dari siang hingga menjelang malam, Yao Jun semakin di buat takjub oleh sikap dewasa Li Yuwen di umurnya yang baru 15 tahun, juga cerita bagaimana dirinya bertahan selama tiga tahun di Hutan Seribu Monster.


Selesai bercerita Yao Jun memantapkan pikiran juga hatinya sebelum berkata, “Li Yuwen, maukah kau menjadi muridku?”


***


“Bagaimana situasinya?” ucap seseorang yang terlihat beribawa dengan mahkota.


“Hormat kepada kaisar, situasi di berbagai tempat di Kekaisaran Tang cukup berantakan ... kelompok aliran hitam terlihat melakukan banyak pergerakan untuk menaklukkan kota-kota kecil yang jauh dari pusat.” balas seorang pria yang menggunakan pakaian kasim.


Orang yang menggunakan mahkota adalah seorang kaisar dari Kekaisaran Tang, Tang Jianying namanya.


“Bagaimana dengan 5 keluarga besar? Apakah mereka sudah turun tangan untuk meredakan kekacauan di Kekaisaran Tang?”


“Belum kaisar,” Jawab sang kasim singkat.


Mendengar laporan itu membuat Tang Jianying mengerutkan alisnya, dia tidak menyangka situasi yang di ramalkan olehnya mungkin akan terjadi bila aliran hitam di biarkan begitu saja.


“Dasar sekumpulan rubah tua ... mereka pasti mengharapkan imbalan yang tidak sedikit untuk membantu.”


“Ada apa ayah?” terlihat seorang gadis memasuki ruangan.


Gadis itu terlihat berumur 15 tahun dengan rambut panjang berwarna hitam lembut dan mata berwarna biru laut khas keluarga kekaisaran, kulitnya juga terlihat putih dan lembut di sertai tubuh yang ramping dan bagus, menunjukkan dia adalah wanita yang sangat cantik untuk gadis seusianya.

__ADS_1


“Hormat kepada putri,” kata sang kasim menyambut gadis yang baru memasuki ruangan.


Mendengar penghormatan yang dilakukan oleh sang kasim sudah bisa di simpulkan bahwa gadis itu adalah seorang putri kekaisaran.


__ADS_2