Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 63 - Kutukan


__ADS_3

“Apa?! Apa yang kau inginkan?! Jangan mendekat!” Mata Iblis terus mendorong tubuhnya kebelakang karena belum bisa berdiri.


Terlihat bahwa Li Yuwen sedang menghunuskan pedangnya dan berjalan perlahan-lahan ke arah Mata Iblis sembari tertawa kecil yang bahkan dapat di dengar sangat jelas oleh Mata Iblis.


Detak jantung, keringat bercucuran, pandangan yang mulai kabur, tubuh yang bergetar hebat, dan bayangan yang terlintas dipikiran bahwa pedang itu akan menembus jantungnya. Mata Iblis kini bagaikan seorang anak kecil yang berumur 5 tahun sedang dihadapkan di depan singa yang sedang kelaparan.


“Ka–kau adalah orang dari aliran pu–putih, kau seharusnya mengikuti prinsip aliran putih!” Mata Iblis membela diri.


Bagaikan angin berlalu Li Yuwen terus saja berjalan ke arah Mata Iblis, membuat Mata Iblis mulai berteriak ke sekitar untuk memanggil orang dari aliran putih agar dirinya segera di tangkap dan di bawa pergi dari hadapan pria muda yang sedang haus darah akan dirinya itu.


“Tidak jangan mendekat! Jangan lakukan itu!”


Setelah mengatakan hal itu, selanjutnya yang keluar dari mulut Mata Iblis adalah teriakan rasa sakit akibat sebuah pedang menembus ke paha kirinya, dan pedang itu juga tertancap dalam ke tanah hingga membuat Mata Iblis tidak bisa lagi kabur.


“Apakah kau benar-benar orang dari aliran putih?!” Mata Iblis berteriak sambil menahan rasa sakit di kakinya.


Tetap mengabaikannya, Li Yuwen kemudian mengangkat tangan kanannya dan hanya sekejap mata keluar sebuah pedang dari ruang kosong yang muncul entah dari mana.


“Itu?! Kau mempunyai cincin dimensi?!” Mata Iblis terkejut.


Namun keterkejutannya itu hanya terjadi beberapa saat sebelum dia berteriak sakit akibat paha kanannya yang kini juga ditancapkan pedang.


“Nah, sekarang kau sudah mendekati ajalmu....” Li Yuwen berbicara dengan nada dingin.


Mendengar itu Mata Iblis kemudian merasa lemas dan terbaring tidak berdaya, kini dia tidak melanjutkan untuk mendorong tubuhnya kebelakang, karena bila dia melakukannya maka sama saja dia akan membuat kedua kakinya tersayat panjang hingga membuat masing-masing kakinya menjadi dua.


“Bagus, tetap tenanglah seperti itu.” Li Yuwen berbicara sembari mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Dari sana kemudian muncul dua bilah pedang panjang, Mata Iblis yang melihat itu hanya bisa tersenyum ketakutan mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya.


Tanpa basa-basi, Li Yuwen menancapkan kedua pedang itu di masing-masing tangan Mata Iblis, membuatnya kini tidak bisa melakukan apapun selain memaksa untuk melepaskan diri, dengan taruhan apa yang akan dilakukannya nanti membuat tubuhnya tersayat tidak karuan.


Tentu saja Mata Iblis tidak kabur, karena dia tahu seberusaha apapun saat dia melepaskan diri, dia hanya akan kembali tertangkap oleh pemuda gila di depannya itu, yang saat ini bisa dia lakukan adalah berteriak sekeras mungkin agar ada yang mendengarnya.


“Kau sepertinya masih punya cukup tenaga, bagaimana kalau kita tambahkan pedangnya?” Tanya Li Yuwen sebelum dia mengeluarkan lebih banyak pedang panjang dari cincin dimensi miliknya.


Ternyata selama pertempuran, Li Yuwen diam-diam mengambil pedang milik anggota bandit yang dia kalahkan, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menggunakan pedang-pedang itu sebagai sarana menyiksa Mata Iblis setelah pertempuran selesai karena dia tahu bahwa Mata Iblis akan kabur.


Satu persatu pedang tertancap di tubuh Mata Iblis, dia berteriak sekeras mungkin berharap ada pertolongan yang akan datang untuknya, bila dia hidup sekalipun, dia tidak akan mungkin bisa melupakan rasa sakit dari tancapan-tancapan pedang yang kini tertanam di tubuhnya.


“Tolong ... To–tolong aku....” Mata Iblis kini menjadi semakin lemah akibat terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


Perut, bahu, dada kanan, banyak pedang yang kini tertancap di tubuh Mata Iblis. Dia selanjutnya melirik ke sekitar melihat apakah ada orang yang datang atau tidak, namun tidak ada siapapun disana, itu membuat Mata Iblis kini pasrah dan hanya menaruh kepalanya perlahan sambil mengarahkan pandangan ke langit.


“Kenapa? Ada apa dengan sikapmu itu? Kau membuatku seperti akulah penjahatnya disini.” Li Yuwen bertanya sembari terus menancapkan pedang ke tubuh Mata Iblis.


“Sepertinya ini cukup.” Li Yuwen kini hanya memiliki satu pedang tersisa.


“To–tolong....” Mata Iblis mengeluarkan suara yang begitu pelan.


“Aku hampir lupa, mari kita tancapkan disitu juga.”


Li Yuwen mengangkat pedang itu lalu berdiri tepat di dekat kepala Mata Iblis, kini yang dilihat Mata Iblis hanyalah sebuah topeng yang sedang menatapi dirinya dengan sebuah pedang yang terarah ke dirinya.


Sebelum melakukan tusukan terakhir Li Yuwen menggumamkan sesuatu dengan pelan, namun semua gumaman itu bisa di dengar dengan jelas oleh Mata Iblis.

__ADS_1


“Kalian dulu membuat guruku mengalami hal yang serupa, kini itu tidak masalah. Karena sekarang aku sudah mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaikinya, dan kau tahu apa yang akan aku lakukan dengan kesempatan yang langit berikan ini?”


Li Yuwen mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mata Iblis lalu membuka topengnya.


Mata Iblis membuka matanya dengan lebar melihat pemandangan di balik topeng itu.


“Aku akan menjadi monster bagi dunia yang kelam ini agar bisa menciptakan dunia baru yang lebih damai dan tidak diisi oleh orang-orang seperti kalian.” Ucap Li Yuwen di depan wajah Mata Iblis sambil tersenyum.


Mengabaikan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya, keluar satu kata yang bisa di ucapkan oleh Mata Iblis dengan jelas.


“Indahnya.”


Perkataan Mata Iblis itu di akhiri dengan sebuah pedang yang menembus mulutnya, dan membuat dirinya menghembuskan napas terakhirnya seketika itu juga.


“Dengan ini satu orang sudah selesai.” Li Yuwen kembali menutup wajahnya dengan topeng.


**


Di tempat istana jauh sebelumnya.


“Dulu kau pernah bilang bukan bahwa anak itu memiliki wajah yang terkutuk?” Seekor kera bertanya ke arah pria di depannya.


“Kau benar, seluruh hal indah di semesta ini akan kalah keindahannya bila di bandingkan dengan wajahnya itu.”


“Mengapa demikian? Bukankah permata semesta yang kau simpan merupakan hal terindah di alam semesta?”


“Itu benar, tapi ada satu hal yang tidak kau pahami mengenai kutukan wajah anak itu.”

__ADS_1


“Apa itu? Kera itu menggaruk kepalanya.


“Wajah anak itu akan terus memperindah dengan sendirinya setiap detiknya, dan kau tahu apa bagian teruniknya? Dengan membunuh maka keindahan wajahnya akan meningkat lebih cepat, bahkan ditahap tertentu wajahnya sudah cukup membunuh seorang kultivator.” Pria itu bercerita sembari melihat permata warna-warni di tangannya.


__ADS_2