
“Lian berhati-hati lah, orang ini menginginkan nyawamu....”
“Kalau begitu kita hanya perlu mengalahkannya,” ucap Tang Lian sebelum mengeluarkan senjata pusaka miliknya dari cincin dimensi.
Pria dari Gunung 7 Dosa itu melihat apa yang di lakukan oleh Tang Lian, “Cincin dimensi? Bagus-bagus, tidak sia-sia aku mengajukan diri untuk membunuh dirimu putri ... setelah membunuhmu akan kuambil cincin itu dari jarimu!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Tang Lian maju ke arahnya dan bersiap untuk menyerang.
“Lian jangan gegabah!” teriak Li Yuwen.
Penyusup ini kemudian mengeluarkan aura pembunuh miliknya lalu diarahkan kepada Tang Lian dan Li Yuwen, aura pembunuh itu cukup mencekam hingga membuat Tang Lian yang sudah maju menyerangnya menjadi membeku di tempat.
“Jangan terlalu sombong,” ucap penyusup itu sebelum menghunuskan pedang miliknya yang tersimpan di balik jubahnya dan maju menyerang.
‘Ini berbahaya!’ batin Li Yuwen.
Tang Lian yang masih membeku di tempatnya mulai merasakan takut karena niat membunuh penyusup di depannya sungguh besar terhadapnya, dia sendiri tidak pernah bertarung hingga mempertaruhkan nyawa tentu saja dia tidak memiliki pengalaman bila harus menghadapi seorang pembunuh yang sudah melalu banyak misi pertarungan.
Tang Lian sudah menggunakan aura miliknya untuk mengurangi tekanan mencekam dari aura pembunuh orang itu namun tidak menimbulkan efek sama sekali, melihat penyusup itu semakin dekat dengan niat membunuhnya tubuh Tang Lian pun mulai bergetar takut, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam situasi seperti itu.
Saat jarak mereka semakin dekat penyusup itu tertawa jahat ke arah Tang Lian, tubuh gadis itu tentu menjadi semakin bergetar hingga terduduk karena kakiknya yang tidak memiliki tenaga untuk menahannya tetap berdiri, hingga waktu yang cukup singkat Tang Lian mulai mengingat seluruh keluarganya.
Di tengah-tengah mengingat keluarganya Tang Lian juga mengingat salah satu perkataan dari Jendral Liong, “Tuan putri, bila seseorang akan meninggal dunia biasanya dia akan mulai mengingat orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya meninggalkan dunia untuk selamanya.”
__ADS_1
Tanpa Tang Lian sadari sebuah air bening mengalir dari mata kirinya dan membasahi pipi gadis itu, ‘Ayah ... apakah ini adalah akhir hidupku?’ batin Tang Lian.
Berbeda dari setiap kesalahan yang Tang Jianying lakukan pada putrinya, dia juga selalu melindungi Tang Lian bila putrinya itu dalam bahaya, karena hal itu juga yang membuat Tang Lian kagum dengan ayahnya dan menjadikannya sebagai panutan untuk menjadi lebih kuat.
Sebuah tebasan pedang pun dilepaskan ke arah tubuh Tang Lian dengan cepat, sedangkan Tang Lian sendiri yang melihat itu mulai menutup kedua matanya pasrah menunggu serangan itu mengenainya, namun hanya setelah matanya tertutup Tang Lian mendengar suara benturan yang cukup keras.
Disaat Tang Lian kembali membuka matanya, Li Yuwen sudah berdiri di depannya dengan orang yang ingin membunuhnya terpental jauh dan menghempas tembok yang ada jauh di belakangnya.
Dari tepi topeng yang dipakai pria itu terlihat sebuah darah segar mengalir turun, menyadari mukutnya mengeluarkan darah penyusup itu terpacu emosi.
“Kau bocah kurang ajar!” ucapnya sebelum kembali meneruskan, “Bagus, kalau kau sebegitu inginnya pergi ke neraka juga maka aku akan mengantarkanmu bersama putri kaisar itu juga menuju kematian.”
“Katakan itu saat kau berhasil mengambil nyawa salah satu dari kami.”
“Kurang ajar!” penyusup itu segera berlari ke arah Li Yuwen dengan pedangnya.
Tidak jarang juga orang itu mengubah arah serangnya menuju Tang Lian yang masih duduk di tempat sebelumnya menyaksikan mereka berdua bertarung, Li Yuwen pun harus bekerja lebih keras karena melawan juga melindungi disaat yang bersamaan.
‘Cukup susah menahan serangan kultivator di tingkat raja kelas 1 ini sembari melindungi orang lain, aku harus mencari cara,’ batin Li Yuwen.
Setelahnya Li Yuwen berpikir dengan cepat di dalam kepalanya mencari titik lemah orang yang ada di depannya, dan hanya dalam waktu singkat Li Yuwen tersenyum karena sudah mengetahui jawabannya.
Li Yuwen yang terus bertukar serangan dengannya kemudian memberikan satu serangan yang cukup kuat kearahnya dan membuat orang itu termundur beberapa langkah sedangkan pedang Li Yuwen terlempar jauh ke atas.
__ADS_1
Pria itu kemudian tersenyum, “Bocah ... tamat riwayatmu,” ucap orang itu sebelum kembali maju menyerang Li Yuwen dengan pedangnya.
Kini arah pertarungan menjadi berat sebelah dengan Li Yuwen yang melakukan serangan tapak dan tendangan sekaligus terus berusaha menghindari tebasan pedang yang mengarah ke tubuhnya.
Disaat sebuah serangan hampir mengenai lehernya, sebuah celah terlihat di diri Li Yuwen dan pria itu pun tidak menyia-nyiakan hal itu lalu segera memberikan sebuah tendangan yang cukup keras dan sudah dialiri Qi.
“Gawat!” ucap Li Yuwen sebelum mengubah kedua posisi tangannya menyilang di depan perutnya.
Tendangan itu pun tertahan oleh tangan Li Yuwen namun dirinya tetap terpental mundur karenanya, darah segar pun mengalir dari tepi bibir Li Yuwen dan terlihat keluar dari bawah topengnya.
“Tenang saja karena serangan selanjutnya bukan hanya tendangan, tetapi tebasan pedang yang akan memotong lehermu!” teriak orang itu sembari tertawa.
Li Yuwen yang mendengar itu kemudian tertawa kecil, “Lian ... disaat sedang bertarung, selalu pastikan melihat keadaan sekitar ... karena kita tidak akan tahu bila saja ada serangan dadakan ataupun jebakan yang mungkin merenggut nyawa.”
Tang Lian yang mendengar itu kemudian bingung dengan maksud Li Yuwen, namun setelah Li Yuwen memintanya untuk melihat ke atas gadis itu pun mengetahui maksudnya.
Sedangkan disisi lain, orang itu melihat Li Yuwen yang sedang tertawa kecil kemudian menanyakannya, “Apa yang kau tertawakan? Apakah kau menjadi tidak waras karena tendangan tadi?”
Li Yuwen pun menjawabnya dengan singkat, “Aku sedang menertawakanmu ... bodoh,” jawab Li Yuwen sebelum terlihat sebuah benang tipis di tangannya yang kemudian di tariknya dengan cepat ke bawah.
Orang itu yang melihat sebuah benang di tangan Li Yuwen segera mencari titik ujungnya, dan tidak lama kemudian dia menemukan sebuah pedang melesat dengan cepat ke arahnya dari atas.
Dia pun segera menghindari pedang itu namun, karena menyadarinya terlalu terlambat pedang yang melesat cepat itu berhasil memotong lengan kirinya.
__ADS_1
Sebuah jeritan kesakitan pun keluar dari mulutnya, sedangkan Tang Lian yang menyaksikan terpotongnya lengan pria itu hanya menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Lian ... ingatlah apa yang tadi aku katakan, karena itu mungkin akan menyelamatkan lenganmu.”