Penguasa Dewa Semesta

Penguasa Dewa Semesta
Ch. 47 - Pelajaran Hidup


__ADS_3

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan, pasukan emas darah kini meningkatkan keamanan mereka dan terus berada tidak jauh dari Tang Lian berada.


Xiang Yong yang sudah selesai melihat keadaan sekitar kemudian jalan menghampiri Yao Jun, begitu juga Jendral Liong.


“Bagaimana sekarang Jun’er? Apakah kau masih ingin menjalankan misi?”


“Patriak Xiang, itu–” Kata-kata Jendral Liong terhenti setelah melihat Xiang Yong mengangkat tangannya menandakan meminta dirinya untuk diam sejenak.


Melihat Yao Jun yang hanya diam saja, Li Yuwen yang baru saja mengkonsumsi pil vitalitas sisa dari kemarin yang tidak terpakai dan di bantu oleh Tang Lian sendiri untuk mengkonsumsinya, dia kemudian membuka suara.


“Guru tidak perlu membatalkan misi ini, lagipula aku tidak mendapatkan luka berat dari pertarungan tadi ... setelah meminum pil vitalitas ini tenagaku juga sudah kembali seperti semula.”


Yao Jun terus menolak untuk melanjutkan misi setelah melihat muridnya baru saja bertarung melawan seorang pembunuh, tentu dia sekarang menjadi tidak yakin membiarkan Li Yuwen ikut bertempur bersamanya di medan perang, terlebih karena dia merasa sudah lalai dalam mengawasi muridnya itu, akhirnya Li Yuwen mencabut nyawa seorang manusia, Yao Jun juga menjadi bersalah dengan itu.


Tetapi karena di yakinkan terus menerus oleh Li Yuwen akhirnya Yao Jun hanya bisa pasrah dan memutuskan untuk melanjutkan misi yang di berikan, ‘Serahkan saja semua ini pada takdir,’ batin Yao Jun.


Setelahnya Jendral Liong berterima kasih kepada Li Yuwen karena sudah menolong Tang Lian dari seorang pembunuh, terlebih itu adalah bawahan dari Zhong Peng yang dulu menculik ibunya.


“Tidak perlu berterima kasih karena memang sudah kewajiban ku melindungi Lian yang merupakan putri kaisar,” jawab Li Yuwen santai.


Tetapi jawabnnya itu berhasil membuat wajah Tang Lian berubah warna seperti tomat dan membuat ketiga orang lain yang ada di situ terkejut.


‘Lian?’ batin mereka bersamaan.

__ADS_1


‘Wen’er ... tidakkah menurutmu itu terlalu cepat memanggil panggilan seakrab itu padahal kalian baru bertemu kemarin?’ batin Yao Jun.


‘Tuan putri ... sepertinya keberuntungan memihak anda,’ batin Jendral Liong.


Kedua orang itu memikirkan apa yang baru saja mereka dengar, sedangkan Xiang Yong hanya menggelengkan kepala melihat reaksi kedua orang yang ada di depannya.


“Karena kau tetap ingin menjalankan misi ini, besok kau bisa pergi tetapi tidak dengan hari ini.”


Xiang Yong kemudian menjelaskan alasannya menunda kepergian mereka, karena menurutnya mungkin saja masih ada pembunuh dari Organisasi Gunung 7 Dosa yang berkeliaran di sekitar sekte, itu akan membahayakan nyawa mereka berdua juga para murid yang lain nantinya.


Yao Jun kemudian bertanya kepada Li Yuwen apakah dia setuju dengan yang di katakan oleh patriak, dan tentu saja muridnya itu setuju karena merasa apa yang dikatakan oleh Xiang Yong masuk akal.


“Kalau begitu besok pagi kalian harus sudah berkumpul di gerbang sekte, aku akan memberitahukan ini kepada murid yang akan membantu kalian nanti.”


Setelah melihat Xiang Yong pergi, Jendral Liong juga mengajak Tang Lian kembali ke kediaman untuk beristirahat, karena hari ini gadis itu baru saja merasakan pengalaman yang betul-betul baru dan berbahaya. Dan sebelum beranjak pergi dari sana, Tang Lian mendekati telinga Li Yuwen untuk mengatakan sesuatu.


Kemudian Tang Lian pergi bersama Jendral Liong meninggalkan Yao Jun dan Li Yuwen di tempat itu.


“Tuan putri ... perkembanganmu dengan murid tetua Yao itu sungguh cepat, kaisar mungkin tidak akan menyangka akan hal ini.”


Jendral Liong mencoba bercanda dengan Tang Lian tetapi setelah melihat wajah gadis itu begitu dingin karena perkataannya, Jendral Liong memutuskan untuk menutup mulutnya dan tidak melanjutkan.


‘Apakah salah membiarkan pria tua ini bercanda sedikit?’ batin Jendral Liong dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


Disisi lain Yao Jun dan Li Yuwen juga sudah pergi kembali menuju kediaman mereka, setelah sampai disana Li Yuwen segera memasak makan malam karena hari sudah mulai gelap.


“Wen’er ... bagaimana perasaanmu setelah merenggut nyawa seorang manusia?”


Li Yuwen merenungkan sejenak pertanyaan dari Yao Jun sebelum menjawab , “Aku merasa biasa saja guru ... apakah aku tidak pernah bercerita kalau dulu saat tinggal di hutan aku sering membunuh makhluk hidup yang ada disana? Menurutku pria yang tadi kulawan tidak ada bedanya dengan mereka.”


Yao Jun yang mendengar jawaban Li Yuwen hanya menghembuskan napasnya, menurutnya pemikiran muridnya itu salah jadi dia mulai menasehati Li Yuwen.


“Wen’er ... hewan dan manusia tidak bisa di samakan kehidupannya, hewan memang di buru untuk di makan dagingnya, sedangkan setiap manusia memiliki hak untuk hidup.”


“Tidakkah menurut guru itu salah? Bila hewan bisa berbicara mungkin mereka juga akan mengatakan memiliki hak untuk hidup, dan bagaimana bila keadaanya di ganti? hewan membunuh manusia untuk di makan dagingnya ... tentu kita sebagai manusia tidak terima akan hal itu, begitu juga dengan hewan yang kita bunuh.”


“Itu....”


Yao Jun yang mendengarkan jawaban Li Yuwen menjadi memikirkan pemahamannya tentang hidup, Yao Jun merasa apa yang dikatakan oleh Li Yuwen sangat masuk akal, dan kini Yao Jun memutuskan untuk berbicara lebih hati-hati ketika sedang mengajari muridnya itu yang memiliki pemikiran mendalam.


–––


Saya mohon maaf karena crazy up nya hanya ada 17 bab, karena jujur saya tidak pernah menyangka hanya dalam waktu tiga hari harus menulis sebegitu cepat dan banyak. Sungguh sangat menguras tenaga, pikiran, mental, dan waktu.


Saya juga tidak yakin itu bisa di katakan sebagai crazy up karena terlalu sedikit, karena itu saya menambahkan ini untuk meminta maaf karena mungkin tidak sesuai ekspektasi.


Bila di tanya kembali kapan melakukan crazy up? Saya selaku author akan angkat tangan, karena saya tidak pernah menyangka bahwa crazy up itu sangat menyusahkan, mungkin bisa crazy up lagi ... tetapi masih sangat lama saya akan kembali melakukannya, tentu saya tidak mau merasakan hal yang sama terus berulang-ulang dalam waktu berdekatan.

__ADS_1


Kenapa itu sangat menyusahkan?


Walaupun sudah memiliki outline cerita tetapi menulis kata per kata hingga memenuhi outline di bab itu membutuhkan waktu yang lama, saya juga pernah mengatakan kalau lamanya menulis setiap bab yang ada itu memakan waktu 1-2 jam, lebih-lebih 3 hingga 4 jam ... jadi bayangkan saja menulis secepat dan sebanyak mungkin hanya dalam waktu 3 hari sedangkan kita sendiri masih memiliki pekerjaan lain, bahkan saya melakukan crazy up ini hingga tidak hadir dalam pertemuan grup ... jadi sudah cukup.


__ADS_2