Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Berakhirnya Hubungan


__ADS_3

Setelah kabur dari anak buah tuan muda, Aku pergi ke hotel untuk tinggal di sana sementara. Aku ingin menjauhi tuan muda Aras hingga Aku tidak masuk kerja. Aku sengaja mematikan ponselku supaya tidak ada gangguan yang merusak ketenanganku. Aku ingin menenangkan hati dan pikiranku di saat situasi yang buruk ini.


Aku tidak habis pikir, kenapa tuan Halim masih saja menyulitkan diriku bahkan di saat menjelang kematiannya. Banyak yang tidak Aku ketahui tentang dia, apalagi dia telah mengadopsiku dan memberikan sebagian harta warisannya padaku tanpa sepengetahuanku.


Dan yang paling Aku benci yaitu tuan Halim memintaku untuk menikahi anaknya, tuan muda Aras. Bagaimana Aku mengatasinya? Bahkan tuan muda Aras tidak akan tinggal diam, dia akan terus mencariku untuk menjadikanku istrinya dengan alasan surat wasiat papanya.


Tamatlah riwayatku, cepat atau lambat tuan muda Aras pasti akan segera menemukanku. Arghhh, kenapa ini harus terjadi padaku? Apa salahku sehingga hidupku tidak berjalan sesuai harapanku?


Keesokan hari, di kantor Haras Company pukul 13.00 siang. Tuan muda Aras berdiri sambil marah-marah pada kak Niko.


"Kau sengaja menyembunyikan Naya, kan? Saya tahu kamu nggak akan rela melepaskan Naya untuk menikah dengan saya. Baiklah, sekarang juga saya akan menyuruh anak buah saya dan pengawal saya mencari Naya. Kau akan tahu sendiri akibatnya, Niko!" tuduh tuan muda Aras sekaligus ancaman buat kak Niko yang tidak berhasil menemukanku.


"Saya tidak menyembunyikan Naya, Tuan. Tolong jangan keras padanya, Naya itu anak yatim piatu, kasihan dia jika Tuan memperlakukannya dengan kasar. Tolong percayakan pada saya kali ini, saya akan mencari Naya sampai ketemu. Saya janji, Tuan!" ujar kak Niko cemas dan mencoba membujuk tuan muda untuk percaya padanya.


Tuan muda mendengus kesal dan akhirnya menyetujui permintaan kak Niko kembali.


"Kesempatanmu hanya sekali, saya tunggu kabar Naya sampai 24 jam. Jika tidak, maka saya sendiri akan turun tangan!" ucap tuan muda dengan tegas dan tak bisa dibantah.


"Baik Tuan!" ucap kak Niko dan bergegas pergi dari hadapan tuan muda.


Di saat terdesak seperti ini, Aku sangat membutuhkan kak Niko. Bohong jika Aku tak merindukan pria itu. Aku ingin mengatakan bahwa hanya dia yang Aku inginkan sekarang dan di masa depan.


Dengan pikiran yang tenang, Aku mulai menghidupkan kembali ponselku untuk menghubungi kak Niko agar dia menemaniku sekaligus membicarakan sesuatu dengannya tentang hubungan kami berdua.


Tak lama kemudian, bel berbunyi dari depan pintu kamar hotel yang Aku tempati. Aku yakin itu pasti orang yang sangat Aku rindukan. Dan benar saja, kak Niko telah datang.

__ADS_1


"Kakak, Aku merindukanmu!" Aku langsung memeluk kak Niko.


"Kamu baik-baik saja, kan Naya? Kenapa kamu tidak pulang? Kakak mencemaskanmu jika terjadi hal yang buruk diluar bagaimana? Tolong jangan kabur lagi. Kamu harus menghadapi masalah kamu dengan bijak. Bukankah kamu wanita yang pemberani dan kuat?" ucap kak Niko cemas lalu membalas pelukanku dan mencoba menyemangati diriku.


Aku perlahan melepaskan pelukan dan beralih menggenggam kedua tangan kak Niko lalu berkata kepadanya.


"Kak, ayo kita menikah saja. Aku nggak mau ada orang yang merusak kebahagiaan kita. Please, nikahi Aku kak!" pintaku langsung pada kak Niko.


Biasanya, kebanyakan para pria yang meminta hal seperti itu tapi ini malah diriku yang seorang wanita. Betapa malunya diriku, apalagi Aku dan kak Niko menjalani hubungan yang masih dianggap baru.


"Kau akan menikah ... tapi bukan dengan kakak, melainkan dengan tuan muda Aras. Kau akan bahagia bersamanya, Naya!" ujar kak Niko setenang mungkin dan tersenyum padahal Aku tahu dia terpaksa melakukannya.


Aku menghempaskan genggaman tanganku pada kak Niko, lalu Aku berbalik dan berjalan di dekat ranjang. Aku benar-benar marah saat mendengar kak Niko dengan mudahnya menyerahkanku pada tuan mudanya itu.


Atau kak Niko dipaksa oleh tuan muda Aras untuk meninggalkanku lalu bernegosiasi dan menyuap kak Niko dengan uang? Oh, itu tidak mungkin terjadi, karena kak Niko bukan pria yang mudah tergiur dengan uang, harta dan tahta apalagi menyangkut harga dirinya.


"Kamu jahat, Kak. Tega-teganya kamu menyuruhku untuk menikahi pria pembunuh itu. Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah sudi menjadi istrinya. Aku menyesal telah memintamu datang kemari, Kak. Lebih baik Aku menghilang dari Jakarta," Aku pun bergegas meraih tas dan hendak melangkah pergi dari kamar.


"Jangan bertindak bodoh, Naya. Kemanapun kamu berada, tuan muda Aras pasti bisa menemukanmu. Kau lupa siapa tuan muda Aras? Tolong kembalilah dan menikahlah dengan dia," Kak Niko menarik lenganku lalu memintaku kembali untuk menikah dengan tuan mudanya.


"Aku tidak mau. Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu. Aku hanya mencintaimu, Kak. Hiks... hiks... hiks...," ucapku dengan pengakuanku sambil menangis menatap kak Niko.


Tiba-tiba kak Niko menarik lenganku hingga menempel di tubuhnya. Dia memelukku dengan erat dan mencium puncak kepalaku bertubi-tubi.


"Maafkan Kakak, Nay. Hubungan kita harus berakhir sampai di sini," ujar kak Niko lirih sehingga membuat tangisanku bertambah kencang dalam dekapannya.

__ADS_1


"Kau sangat jahat, Kak!" Aku menangis terisak.


Hatiku begitu sakit saat kak Niko memutuskan hubungan kami. Aku membuka sedikit celah dan memukul-mukul dada bidang kekar kak Niko, tapi dia tak mempedulikannya. Bagaimana tidak, kak Niko merasa bersalah karena tak bisa mempertahankan Aku untuk selalu di sisinya.


Dengan banyak pertimbangan, akhirnya kak Niko membawaku kembali ke rumah. Semalaman dia menjagaku hingga Aku tertidur. Pandangannya tak lepas dari diriku. Kali ini Aku benar-benar dijaga ketat oleh kak Niko. Aku heran, begitu tunduknya kak Niko pada tuan muda Aras sampai-sampai dia rela menyerahkan aku pada si Aras itu.


"Tuan ... saya sudah membawa Naya sesuai janji saya. Naya sedang tidur sekarang dan saya akan menjaganya hingga anda datang ke sini."


Kesempatan kak Niko keluar dari kamarku di saat Aku terlelap lalu menghubungi tuan muda Aras memberitahukan keberadaanku yang telah kembali di kediamanku.


Ya sudahlah, Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah jika memang takdirku harus menikah dengan pria yang paling Aku benci di dunia ini, tuan muda Aras.


Esok pagi, saat Aku menyisir rambutku di depan cermin, sesosok pria tiba-tiba saja menghentikan aktivitasku dengan suaranya yang berkhas.


"Bersiap-siaplah, saya tunggu di mobil, 20 menit saya rasa cukup untuk mengemasi semua pakaianmu!" lelaki itu memasuki kamarku begitu saja tanpa izin.


Aku beralih menatap wajahnya dari depan cermin.


"Tapi...."


"Jangan membantah dan jangan banyak tanya. Bergegaslah sekarang!!" Suaranya yang dingin memberi perintah tanpa adanya penolakan.


Seketika Aku menjadi takut. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan padaku? Aku seolah adalah robot yang di setting untuk menjalankan perintahnya. Dan sekarang habislah Aku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2