Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Mulai Bereaksi


__ADS_3

Bi Tias masih berdiam diri dengan pandangan menunduk ke bawah. Seperti ada guratan wajah ketakutan dan penyesalan. Aku tahu bi Tias pasti tertekan dan pasti tuan muda sedang mengancamnya.


"Tu-tuan muda menyuruh Bibi memberikan sarapan kemari dan Nona Naya makannya harus di kamar tidak boleh satu meja dengan tuan muda," jawab bi Tias yang masih gugup.


Perkataan bi Tias membuatku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang memang telah direncanakan di antara majikan dan pelayan ini.


Hatiku sangat sakit, padahal Aku sudah menganggap bi Tias sebagai sosok yang bersahabat saat Aku berada di rumah ini, tapi nyatanya bi Tias tidak lain akan tunduk pada majikannya sama seperti kak Niko.


Tiba-tiba nampan yang dibawa oleh bi Tias bergetar cukup kuat. Tangannya lah yang membuat nampan itu bergerak dan hampir saja membuat gelas yang berisi air putih itu jatuh ke lantai. Dengan cepat bi Tias menaruhnya di atas nakas. Jangan ditanya soal wajah bi Tias yang memucat tak berani menatapku.


"Kenapa tangan Bibi bergetar? Apa Bibi sakit?" tanyaku dengan tenang.


"Tidak Non, eh i-iya Bibi sedikit tidak enak badan. Kalau begitu Bibi permisi, jangan lupa dimakan sarapannya, Non!" ucap bi Tias mengingatkan.


Ah, mengingatkan? Lebih tepatnya memberi penekanan, seolah tidak terjadi apa-apa tapi nyatanya ada sesuatu dibalik sikap perhatiannya. Ya, sesuatu yang mematikan dan perlahan membuatku lupa semuanya.


Ya Allah, aku tahu bahwa manusia diciptakan dengan berbagai rupa dan watak yang berbeda dan tidak ada yang sempurna, karena itu adalah bentuk ujian yang Engkau berikan.


Begitu sakit hati ini melihat suami yang begitu kejam pada isterinya sendiri. Di mana akal sehatnya? Apa tidak ada sisi baik sedikit saja di hatinya terhadapku? Hanya karena harta bisa membuat dirinya gelap mata. Andai harta itu bisa Aku berikan semuanya pada dia, maka Aku sangat ikhlas.


Bagai buah si malakama, Aku tidak bisa memilih. Jalan satu-satunya adalah Aku hanya bisa bertahan pada keinginan almarhum tuan Halim. Tapi nyatanya malah Aku yang menjadi korban pelampiasan kemarahan serta kebencian suamiku sendiri.


"Non, maafkan Bibi ya!"


Bi Tias berbalik dan kali ini menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf untuk apa, Bi?" tanyaku yang pura-pura tidak tahu.


"Maaf jika makanan yang Bibi buat tidak enak, karena Bibi sedang sakit," ujar bi Tias berkilah.


Aku tahu bi Tias tidak sepenuhnya bersalah di sini karena dia telah diancam.


Aku hanya mengangguk perlahan dan tersenyum kepadanya kemudian bi Tias pun keluar dari kamarku.


Aku meraih makanan di nakas, dan Aku yakin ini tidak ada racunnya sama sekali karena Aku tahu obat itu hanya ditaruh ke dalam minumanku.

__ADS_1


Aku langsung memakan nasi goreng buatan bi Tias sampai habis sambil menahan air mataku yang akan jatuh.


Saat Aku kehausan, teringat dengan air minum yang sudah diisi dengan obat berbahaya itu. Aku menelisiknya dengan cermat dan ternyata benar, air minum itu berwarna sedikit agak buram tidak sejernih air yang biasa Aku minum.


"Baiklah, drama akan dimulai. Aku akan memainkan peranku dengan sangat baik, tuan muda Aras. Kau sudah merencanakan ini, maka Aku akan memainkannya untukmu," gumamku dengan sedikit senyuman tapi tetap ada rasa sedih juga kecewa.


Aku bangkit dan langsung meraih botol berisi air minum yang sengaja Aku ambil di dapur bersamaan dengan mengambil obat berbahaya itu. Beruntungnya, Allah berpihak padaku karena Aku telah mengetahui semua rencana busuk tuan muda.


Malam harinya pukul 20.00, tuan muda Aras pulang dari kantor. Dia langsung bergegas menemui bi Tias di kamar bawah khusus para pelayan.


"Bagaimana, apa Bibi sudah melakukan tugas sesuai perintahku?" tanya tuan muda penasaran.


"Sudah Tuan," jawab bi Tias dengan lemas.


"Good job, Bi. Ini baru Bi Tias yang Aras kenal," ujar tuan muda dengan bangga dan tersenyum gembira.


Betapa bahagianya tuan muda melihatku tersiksa, melihatku menderita karena ulahnya. Ya, dia belum merasakan akibatnya nanti ke depannya. Aku hanya bisa tersenyum bahagia karena Aku masih bernafas saat ini. Dan Aku tidak sendiri. Masih ada Allah yang menemaniku, menuntunku ke jalan yang akan membawaku pada tujuanku selanjutnya.


Lihat saja nanti, bagaimana tuan muda akan menjalani kehidupan yang telah dia buat sendiri. Dia pikir Aku wanita lemah? Dia pikir Aku wanita bodoh? Atau mungkin dia pikir Aku wanita yang mudah tertipu? Hahaha ... come on, Aku bukan anak kecil yang begitu polos, tuan muda. Jika dia berpikir seperti itu, maka itu salah besar.


"Non, Non Naya makan dulu, yok. Ini sudah siang loh. Dari tadi pagi Non Naya belum sarapan," ucap bi Tias yang tak henti mengusap lenganku dengan cemas.


"Non, jangan buat Bibi khawatir. Nanti Non Naya sakit," ucap bi Tias kembali dengan rasa was-was yang begitu besar.


"Apa obat itu sudah bereaksi pada Non Naya? Tolong maafkan Bibi, Non. Bibi terpaksa melakukan ini demi kebaikan Non Naya. Jika tidak maka tuan muda akan membunuh Nona secara kejam," batin bi Tias sembari menggenggam tangan kananku dengan rasa penyesalannya.


Aku pun tahu jika obat itu mulai bereaksi setelah 24 jam saat pertama kali obat itu diminum. Jika kelamaan mengkonsumsinya maka akan menjadi seperti orang gila. Oh please, Aku tidak mau seperti itu.


Huh, begitu melelahkan sekali melakukan drama yang membuatku harus benar-benar mendalami peran agar terlihat alami. Ini belum seberapa, tapi nanti bakal ada kejutan untuk si tuan muda Aras dengan peranku selanjutnya.


Tapi, saat ini Aku benar-benar lapar dan makanan yang dibawakan oleh bi Tias sungguh menggoda, mau tidak mau Aku terpaksa memakannya walau hanya sedikit Aku sisakan dengan mengacak-acak makanan itu biar bi Tias mengira Aku mulai sedikit tak waras.


Malam harinya, lagi-lagi bi Tias membawakan makan malam untukku dan kali ini Aku terpaksa melakukan drama yang sedikit membuat bi Tias kaget.


Pranggg

__ADS_1


Aku menepiskan nampan yang dibawa oleh bi Tias dalam pegangannya hingga piring dan gelas itu pecah berhamburan di lantai.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba tuan muda Aras masuk ke kamarku.


"Itu, Tuan ... Non Naya sejak pagi tadi tidak mau makan dan sekarang membuang makanan ini. Non Naya sedari pagi hanya melamun saja, tidak menjawab ucapan Bibi," ujar bi Tias menjelaskan dengan paniknya.


"Apa obat itu sudah mulai bereaksi pada Naya, Bi?" tanya tuan muda berbisik pelan.


"Mungkin saja, tapi kasihan Non Naya," ucap bi Tias lirih.


"Ya sudah, Bibi tolong bersihkan pecahan piring dan gelas itu, soal Naya biar jadi urusan saya," ujar tuan muda yang menampakan senyum kemenangan.


Perlahan tuan muda Aras mendekat ke arahku saat Aku sedang duduk di kursi rias dengan wajahku menempel di meja rias ke arah samping dengan tatapan kosong sembari menangis.


"Naya ... Naya ... are you ok?" Tanya tuan muda Aras sembari menepuk bahuku pelan.


"Hei, Naya kau mendengarku?" tanya tuan muda kembali yang kali ini dengan lembut.


Tak ada jawaban dariku, karena sengaja Aku ingin membuat tuan muda kesal dan marah.


"Naya ... look at me, are you ok?" Dengan beraninya tuan muda menyentuh wajahku dengan telapak tangannya yang besar dan begitu hangat.


Gawat, begitu mengesankan. Pria sedingin dan kejam seperti tuan muda Aras bisa membuat jantungku seakan berdetak, oh sial.


Perlahan Aku menatap mata tuan muda cukup lama. Pandangan mata kami mulai bertemu. Dan sekarang, waktu yang tepat Aku memainkan peranku di hadapannya.


"Kakak, aku merindukanmu. Kemana saja kamu?" Dengan cepat Aku memeluk tuan muda Aras begitu saja.


Deg


"Apa? Kakak?" batin tuan muda terkejut.


Hahaha, I got it


"Yeahhh, rasakan pembalasanku tuan muda. Kena kau!" batinku dengan seringai puas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2