Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Titipan dari Tuan Halim untuk Naya


__ADS_3

Seharian ini Aku menantikan kabar dari kak Niko, tapi masih saja belum ada kabar darinya. Beberapa kali Aku mengirim pesan padanya tapi tetap belum ada balasan. Aku kesal padanya. Memangnya ada pekerjaan apa sehingga membuat kak Niko sibuk seperti itu dan mengabaikan Aku?


Baru kemarin tuan muda Aras balik ke Jakarta, tapi kenapa tiba-tiba harus kembali lagi ke Turki? Apalagi kali ini tuan muda Aras mengajak kak Niko ke sana. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Aku benar-benar khawatir pada kak Niko, hanya pada dia. Bukan pada si Aras itu.


Aku tak hentinya melihat ponsel hingga ratusan kali berharap ada notif dari kak Niko, tapi hasilnya nihil. Aku cemas dan pikiran buruk mulai menghantuiku. Aku semakin kesal saat Aku menghubungi kak Niko malah nomor ponselnya tidak aktif. Sungguh kak Niko sudah melupakan Aku.


Tiga hari kemudian, barulah ada pesan masuk di ponselku yang ternyata itu berasal dari kak Niko. Aku pun dengan cepat membuka pesan dari kak Niko.


"Sayang, maaf baru balas pesanmu. Percayalah, Kakak di sini sibuk bekerja. Jika pekerjaan di sini selesai, Kakak akan segera pulang ke Jakarta. Jaga diri baik-baik, ya. I love you," isi pesan dari kak Niko kepadaku.


Uh, dasar menyebalkan. Kak Niko tidak memberi tahu kapan dia pulang ke Jakarta. Entah berapa lama lagi pekerjaan dia selesai di Istanbul. Aku pun sangat merindukannya, dan Aku langsung membuka galeri foto kak Niko, Aku menatap wajahnya lalu merutukinya dengan kesal.


Satu minggu kemudian, akhirnya Kak Niko menghubungiku. Aku sangat senang karena mendengar suaranya yang telah lama Aku rindukan. Tapi di saat Aku menjawab panggilan telepon dari kak Niko, suaranya terdengar seperti orang yang sedang bersedih. Aku menjadi cemas dan takut bila sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Naya, ada berita duka yang mau Kakak sampaikan," ujar kak Niko dengan perlahan.


"Ma-maksud Kakak apa?"


"Tuan Halim Ahmet meninggal dunia hari ini, Kakak sudah memberi tahu seluruh direksi di perusahaan Haras Company di Jakarta. Mungkin Kakak pulang ke Jakarta seminggu lagi, karena Kakak mau mengurus sesuatu yang penting di sini. Jadi maaf jika sementara waktu Kakak nggak kasih kabar ke kamu," ucap kak Niko menjelaskan.


"Aku turut berduka. Kepergian Tuan Halim terlalu cepat. Kenapa ini bisa terjadi, Kak?" tanyaku yang tak tahu lagi apa yang harus Aku katakan. Aku cukup kaget mendengar meninggalnya tuan Halim.


"Nanti kita bicara lagi, ya. Kakak akan menyiapkan pemakaman Tuan Halim segera. Sampai nanti, Kakak merindukanmu!" ujar kak Niko dengan sedikit terburu-buru.


"Aku juga merin....," belum sempat Aku membalas ucapannya tiba-tiba saja kak Niko mematikan panggilan telepon secara sepihak.


Tut tut tut


Aku kesal karena lagi-lagi kak Niko mengabaikanku. Tapi Aku harus memaklumi karena situasi di sana sedang berkabung.

__ADS_1


Satu minggu kemudian, yang Aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kak Niko sudah berada di Indonesia dan sekarang berada di kantor Haras Company. Aku pun menghampirinya di lobi depan tapi sekilas Aku melihat seorang lelaki duduk di dekat kak Niko dengan memasang wajah dingin dan tajam. Lantas Aku mengurungkan niatku karena di sana ada si Aras bermuka dingin dan juga satu orang lelaki lain yang tak aku ketahui siapa dia. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius.


Setengah jam kemudian, tiba-tiba kak Niko datang ke ruang kerjaku dan sontak Aku pun bangkit dari kursi dan berjalan ke arah kak Niko lalu memeluknya.


"Kak, Aku merindukanmu. Kau jahat tidak mengabariku pulang hari ini," ucapku pada kak Niko yang dia juga membalas pelukanku.


"Maaf, biar kejutan," ujar kak Niko sedikit tersenyum kaku.


"Ekhem...," suara tuan muda Aras membuat Aku melepaskan pelukanku pada kak Niko.


"Maaf Tuan, mari silahkan duduk!" ujar kak Niko pada tuan muda Aras.


Aku sempat kaget karena tiba-tiba saja seorang CEO seperti tuan muda Aras bisa duduk di ruang kerja bawahannya. Aku bingung sebenarnya ada apa ini? Apalagi ada lelaki asing yang tadi Aku lihat di lobi bersama tuan muda Aras dan kak Niko. Apa ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan di sini? Tapi kenapa bukan di ruang kerja tuan muda saja?


Mataku beralih pada kak Niko yang juga menatapku. Kemudian kak Niko mendekat ke arahku.


"Ada sesuatu yang akan disampaikan oleh pak Agus. Dia adalah pengacara tuan Halim, dan kamu diwajibkan ada dalam pembicaran ini," bisik kak Niko ke telingaku.


"Pak Agus, ini adalah Kanaya Aurora," ujar kak Niko memperkenalkan Aku pada pak Agus.


Aku pun langsung berjabat tangan dengan pak Agus dan membalas senyumannya yang diberikannya padaku. Lalu Aku pun duduk di samping kak Niko.


"Sebelumnya saya akan memberikan surat untuk Nona Naya yang telah dititipkan oleh tuan Halim pada saya untuk diberikan ke Nona Naya," Pak Agus menyerahkan amplop putih yang berisikan surat padaku, lalu Aku menerimanya.


"Surat apa itu? Kenapa Naya mendapat surat dari Papa?" tanya tuan muda Aras bingung dengan mengerutkan keningnya.


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Sesuai perintah dari tuan Halim, surat wasiat ini akan saya bacakan bila Nona Naya sudah membaca sebuah surat yang diberikan oleh beliau," ujar pak Agus menjelaskan.


"Surat wasiat? Ke-kenapa Aku ikut serta bersama kalian di sini?" tanyaku dengan penasaran.

__ADS_1


"Ini sudah menjadi permintaan tuan Halim, Nona. Jadi tolong buka dan bacalah surat itu segera, agar saya bisa membaca surat wasiat dari tuan Halim sekarang," pak Agus memperingatkan Aku untuk membaca surat beramplop putih ditanganku.


"Cepat buka dan bacalah surat itu, biar semuanya cepat selesai," pinta tuan muda Aras terlihat kesal.


Aku menatap ke arah kak Niko yang mengangguk perlahan padaku seakan memintaku untuk membacakan surat yang masih Aku pegang.


"Ba-baiklah," ujarku gugup sembari melirik ekspresi wajah tuan muda Aras yang sedikit menakutkan.


Semua mata semua orang disekitarku menatapku seolah tak sabar dengan isi surat yang telah tuan Halim berikan padaku.


Dengan cepat Aku membuka amplop berisi surat itu lalu dengan sedikit gemetar Aku membaca perlahan membaca surat itu mulai dari tiap kata maupun kalimat tiap barisnya. Pada awalnya Aku membacanya dengan tenang, namun semakin surat itu menjelaskan ke intinya semakin Aku mengerti kenapa tuan Halim Ahmet memberikan surat ini padaku dan terlebih dulu menyuruhku untuk membacanya.


Aku tersentak kaget dan tak tahu apa yang harus Aku lakukan sekarang. Aku lemas dan terdiam setelah membaca surat itu. Tiga lelaki yang berada di dekatku masih menatapku untuk menungguku mengatakan apa yang tertulis pada surat pemberian sepeninggalan almarhum tuan Halim.


"Apa isi surat itu?" tanya tuan muda Aras tidak sabaran.


Aku terdiam sejenak, mataku sudah berkaca-kaca dan tak sanggup untuk mengatakan pada mereka semua.


"Ini pasti salah, surat ini tidak benar. Pasti tuan Halim salah menuliskan surat ini untukku. Aku nggak akan memenuhi isi surat ini. Sampai kapanpun aku nggak akan menerima permintaan tuan Halim!" Aku bangkit berdiri, lalu Aku menatap ketiga lelaki di hadapanku.


"Apa yang kau maksud Naya? Apa yang salah dari surat itu?" tanya tuan muda Aras menatap tajam ke arahku.


"Pokoknya Aku tidak akan menyetujuinya. Sungguh ini konyol," ucapku dengan suasana hatiku yang semakin buruk.


"Jaga ucapan kamu, Naya. Jangan sembarangan kalau ngomong!" ujar tuan Aras yang tak terima dengan perkataanku, matanya seakan ingin menerkamku.


Aku tidak terima semua ini, saat Aku membaca surat itu, Aku benar-benar syok dan rasanya jantungku berhenti berdetak. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima permintaan tuan Halim. Orangnya sudah berada di dunia lain tetapi masih saja memaksakan kehendaknya padaku.


Karena Aku sudah muak dengan apa yang terjadi saat ini, Aku putuskan untuk pergi meninggalkan mereka begitu saja dengan membawa surat yang tadi telah kubaca.

__ADS_1


"Mau ke mana kamu, Naya? Hei ... Jangan pergi, Nayaaa!" teriak tuan muda Aras dengan kesal dan hendak menyusulku.


Bersambung....


__ADS_2