
Tuan muda Aras menggaruk-garuk kepalanya yang tidak sakit. Dia kebingungan dan cemas saat menghadapai orang yang mulai tidak waras sepertiku.
Lalu apa yang akan dikatakan oleh tuan muda ini? Ayo bicaralah. Aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Aku menahan tawa sambil menatap matanya yang tidak berhenti berputar kesana kemari.
Baiklah, Aku akan menghitungnya sampai tiga. Jika dia masih tidak mau bicara juga, maka Aku akan melakukan aksi peranku yang lebih parah dari ini.
Satu ... dua ... tiii...," belum sempat Aku menyelesaikan berhitungku, tiba-tiba tuan muda itu angkat bicara juga.
"Karena kamu sedang sakit dan kamu harus istirahat total, makanya biar tidak ada gangguan, untuk sementara kita tidur terpisah," jawaban tuan muda yang sangat-sangat tidak masuk akal. Oh my God.
"Sakit? Memangnya aku apa sih, sayang? Aku baik-baik saja, kok!" bantahku tidak terima dan rasanya Aku ingin memukul kepala tuan muda ini.
"Se-jak ke-dua orang tua kamu me-ninggal, kamu cukup histeris dan selalu ingin menyendiri bahkan tidak ingin saya sen-tuh, dan akhirnya ya ... seperti sekarang ini," ucap tuan muda terbata-bata yang sangat pandai bersilat lidah. Wah, luar biasa.
Satu kata yang paling menarik yang Aku dengar dari tuan muda barusan, yaitu 'tidak ingin disentuh' dan sekarang Aku akan menggunakan kesempatan itu menjadi senjata ampuh atas perkataannya sendiri. Yeah, kau memberiku kata kunci yang menarik, Tuan muda. Hahaha.
"Benarkah itu?" tanyaku singkat.
Tuan muda Aras hanya menjawab dengan anggukan ragunya pelan beberapa kali.
"Sekarang, aku kan udah nggak sakit lagi. Jadi malam ini kita tidur bareng, ya Kak. Kita tidur berdua di sini," pintaku sambil merangkul lengan tuan muda Aras.
Deg
"Apa? Tidur di sini sama Naya? Oh shittt ... kenapa jadi ribet gini, sih. Alasan apa lagi yang akan saya katakan padanya? Kenapa saya jadi penurut banget sama Naya? Aghhh...!" batin tuan muda penuh kekesalan. Dia masih kebingungan dan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kok diam sih, sayang?" tanyaku membangunkan lamunan tuan muda.
__ADS_1
"Eh, tapi baju saya di kamar sebelah," ujar tuan muda cepat.
Saat tuan muda memasuki kamarku, dia memang baru pulang dari kantornya, sehingga dia merasa ingin mandi dan cepat-cepat berganti pakaian.
"Biar aku yang ambil dan siapin baju kamu. Sekarang kamu mandi di sini saja," Aku pun hendak keluar kamarku tapi Aku pun langsung meminta kembali pada tuan muda.
"Sudah, sana cepat mandi. Ngapain Kakak berdiri saja, atau mau mandi bareng aku?" ucapku menggoda tuan muda sekaligus menakutinya.
"Eh, eh, nggak usah ... biar saya sendiri saja," dijawabnya dengan cepat.
Tuan muda langsung berjalan menuju kamar mandi sedangkan Aku harus pergi ke kamarnya tuan muda untuk mengambil pakaiannya. Tak henti Aku menahan geli saat melihat ekspresi tuan muda yang Aku jahili.
Ini belum seberapa, kejahilanku nggak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh tuan muda yang ingin membuatku lupa ingatan dan depresi.
Setelah baju tidur yang Aku sudah siapkan untuk suamiku, Aku pun duduk di sisi ranjang sembari menunggunya keluar dari kamar mandi.
"Sini biar aku keringkan rambutmu," Aku meraih tangan tuan muda dan membiarkannya duduk di sisi ranjang.
Tuan muda hanya mengikuti apa yang Aku mau, lalu Aku pun menjahilinya kembali sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Sayang, sekarang otot kamu lebih besar dari kemarin?" tanyaku sembari menyentuh lengannya yang berotot.
"Emm ... saya lebih sering fitness sekarang," jawabnya sedikit kaku.
Tak lama kemudian, Aku mendekatkan tubuhku lebih dekat ke arah tuan muda.
"Aku suka, karena kamu terlihat macho dan seksi," bisikku ke telingga tuan muda sambil menyentuh pelan perut sixpack dia dengan jari telunjukku yang Aku mainkan di sana.
__ADS_1
Wow, sungguh indahnya makluk ciptaan Tuhan ini. Bentuk tubuhnya yang berotot dan perut sixpack yang tuan muda punya sungguh menggoda diriku. Ditambah wajah tampannya yang sangat menawan membuatku tak lepas memandanginya terus-terusan.
Oh no, ini membuatku pusing, membuatku mabuk kepayang. Bisa-bisanya Aku mengambil kesempatan kembali. Kalau begini terus, maka yang mendapat keuntungan adalah tuan muda Aras yang kejam ini. Ah dasar payahnya Aku. Otakku sudah mulai error.
"Sial, wanita ini begitu agresif. Apa begini kelakuan Naya dengan Niko saat pacaran dulu? Bagaimana jika malam ini Naya meminta saya melakukan hubungan suami istri? Oh tidak mungkin. No no no never," batin tuan muda sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sumpah, ingin rasanya saya mencekik leher si Naya ini. Sungguh ini tidak nyaman. Jika dibiarkan maka akan kebablasan. Dasar wanita menakutkan!" batin tuan muda lagi sambil menggerutu lalu bangkit berdiri.
Tanganku sedikit terhempas akibat gerakan dari tuan muda Aras.
"Saya pakai baju dulu," ucapnya sambil meraih baju tidur yang telah kusiapkan di kasur di samping Aku duduk lalu dia kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
Untung saja tuan muda menyadari dan bergerak cepat, kalau tidak bisa-bisa Aku kebablasan memainkan jari-jariku ini ke tempat yang lebih sensitif di tubuhnya. Oh begitu nakalnya jari-jariku ini dengan berani menyentuh tubuh pria kejam itu.
Dikatakan malu, iya Aku malu. Terserah dia mau mikir apaan, lagian Aku juga istrinya. Pokoknya, Aku harus memainkan drama ini untuk memberi pelajaran padanya yang berani melukai diriku.
Aku menaiki kasur dan mengambil posisi berbaring di sana. Jujur, Aku sedikit tegang dan gugup saat ini. Aku harap kali ini Aku bisa menahan diriku, jangan sampai lancang lagi. Aku berperan sebagai wanita yang hilang ingatan, jadi mana mungkin Aku melakukan hal diluar batas lebih dari berpelukan.
"Kak, kemarilah. Ayo kita tidur. Aku lelah," pintaku pada tuan muda sembari menepuk-nepuk tanganku di samping kanan tempatku berbaring.
"Oh ya, bukankah kau belum makan? Saya panggilkan bi Tias dulu untuk membawakan makanan untukmu," ujarnya mencari alasan.
"Aku nggak lapar. Aku hanya mau kamu, sayang!" kataku sambil mengedipkan mata ke arah tuan muda.
Perlahan tuan muda Aras mendekat dengan ragu-ragu dan berdiam diri di tepi ranjang. Dengan cepat, Aku langsung menarik tangan tuan muda Aras sangat kuat sehingga dia terjatuh di atas kasur dalam posisi tuan muda yang jatuh tepat di atas tubuhku.
"Astaga, wanita ini manusia atau siluman, sih? Begitu agresif dan mengerikan. Saya harap Naya tidak meminta yang aneh-aneh. Dasar sialll," batin tuan muda mengumpat dan salah tingkah.
__ADS_1
Bersambung....