
Hari-hari berlalu semenjak tuan muda di Italia, tak pernah sehari pun dia melupakan Aku. Dia selalu menghubungiku setiap hari, terkadang pagi, siang, sore hingga menjelang tidur. Sungguh tuan muda memang pria yang sangat perhatian dan Aku akui bahwa dia layak menjadi suami masa depanku.
Hampir satu minggu berlalu, kini saatnya tuan muda berkemas untuk pulang ke Jakarta. Dia begitu bersemangat untuk kepulangannya kali ini ke kota yang banyak kenangan buruk di masa kecilnya dulu bersama sang ibu.
Padahal tuan muda sudah tidak ingin tinggal di Indonesia lagi, tapi takdir berkata lain, berkat almarhum tuan Halim yang meminta tuan muda menikahiku. Sejak saat itulah tuan muda dituntut untuk bertahan dan menjalankan amanah dari sang papa.
Dari sinilah kisah rumah tanggaku dan tuan muda berawal dari benci hingga peran yang aku mainkan bersama tuan muda membawa kami pada cinta yang sesungguhnya, walau kami belum mengungkapkannya secara langsung.
Pagi itu, tuan muda tersenyum-senyum sendiri mengingat diriku yang membuat dia juga mengingat janjinya yang telah dia katakan padaku saat dia berangkat ke Italia. Ya, apalagi jika bukan tentang masa lalunya.
"Saya merindukanmu Naya, sangat merindukanmu. Saya semakin yakin bahwa kamu memang ditakdirkan untuk saya. Tidak salah jika papa memilihmu sebagai istri," gumam tuan muda sambil membayangi wajah diriku.
"Saya telah membuatmu menderita, membuatmu kehilangan ingatan dan depresi karena ulah saya. Maafkan saya karena melakukan itu semua padamu, Naya."
"Saya janji akan mengatakan semua masa lalu saya bahkan kebohongan saya tentang obat berbahaya yang saya berikan ke kamu, Nay."
"Saya akan mengatakan semuanya setelah sampai di Jakarta nanti. Semoga kamu bisa menerima penjelasan dari saya, Naya!" tuan muda tersenyum dengan pikiran positifnya sembari berjalan keluar dari kamar hotel yang dia tempati.
Sebelum berangkat ke bandara, tuan muda mampir sebentar ke sebuah mall untuk membelikan sesuatu oleh-oleh ke Jakarta. Tapi baru tiga langkah tuan muda memasuki mall di sana, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan dengan nomor yang tidak dia kenal.
Sebuah foto yang tampil di layar ponsel tuan muda saat dia membuka pesan tersebut. Matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras dan tatapan matanya di arah foto itu begitu tajam dan penuh amarah.
"Naya, bagaimana bisa dia keluar dari rumah yang dijaga ketat oleh para pengawal. Dengan siapa dia pergi? Siapa pria itu? Naya, saya sangat percaya padamu, tapi kamu malah mengabaikan perintahku dan akhirnya kamu mengkhianati saya. Keterlaluan kamu, Nay!" batin tuan muda dengan matanya yang memerah dan seketika suasana hatinya buruk hingga dia berbalik melangkahkan kakinya keluar dari mall.
Tuan muda langsung menaiki mobil taksi yang telah menantinya sedari tadi sejak keluar dari hotel yang akan membawanya ke bandara pula. Niat memberikan hadiah untuk kepulangannya ke Jakarta pun kandas. Tuan muda begitu kecewa dan marah.
Setelah memasuki mobil dan sang sopir mengendarai mobilnya ke bandara, saat itu pula tuan muda mendapatkan panggilan masuk dari nomor yang tadi mengiriminya foto ke nomor ponselnya.
"Hallo, siapa kamu? Bisa-bisanya kamu mengirim foto palsu? Itu pasti editan, kan?"
"Hei, santai Bro. Jangan marah gitu dong. Aku hanya ingin berkenalan dengan wanita cantik itu saja, hahaha!"
"Kenapa kamu bisa keluar bersama dengan istri saya? Katakan jangan tertawa!"
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Pokoknya apapun yang aku lakukan bisa membuat istri kamu itu pergi dari rumah kamu bahkan selamanya, Aras Ahmet."
"Jangan pernah menyentuh istri saya. Kalau kamu macam-macam saya akan membunuhmu."
"Lakukan saja apa mau kamu. Kau tinggal buktikan saja ucapanmu. Lagi pula istri kamu ini bisa saja aku culik kapanpun aku mau, hahaha!"
"Hei, kau ... siapa kamu sebenanya?"
"Kau akan tahu siapa aku setelah kamu kembali dari Italia. Aku tunggu kedatanganmu, Aras. Sampai jumpa."
Panggilan pun terputus.
"Ah, sial. Siapa pria itu? Berani-beraninya dia mencari masalah denganku?" ucap tuan muda Aras dengan kesal.
"Naya, kau telah mengecewakan saya. Kau tidak mengatakan apapun saat saya di Italia, padahal saya selalu menghubungimu setiap hari."
"Jika kau ketahuan punya hubungan dengan pria lain, kali ini saya tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia, Naya!" gumam tuan muda Aras dengan kemarahan.
Tuan muda mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya mulai kacau kemana-mana.
"I-iya baik, Tuan!" jawab sang sopir sedikit ketakutan.
Malam yang sangat larut, di Jakarta. Sembari Aku menunggu kepulangan tuan muda Aras, Aku bertekad untuk terjaga malam ini sambil memainkan ponsel pemberian dari Luis, tapi Aku tak bisa terlalu lama memainkannya dikarenakan Aku harus menyembunyikan ponsel itu dari tuan muda. Takut jika ketahuan tuan muda. Lantas Aku menyimpannya dengan hati-hati.
Hari semakin larut dan lama-lama Aku terlelap begitu saja. Tapi sialnya, pukul 02.00 malam dini hari tiba-tiba saja Luis masuk ke kamarku diam-diam dan membangunkan Aku.
"Hei cantik, bangunlah!" Luis menggoyang-goyang tubuhku tapi Aku masih saja terlelap.
"Hei cantik, ayo bangun. Suamimu sebentar lagi pulang!" kali ini suara Luis terdengar jelas di telingaku.
"Dia sudah pulang? Di mana suamiku?" Dengan cepat Aku bergegas bangkit dan merapikan bajuku serta rambutku yang berantakan.
"Calm down, dia masih dalam perjalanan, cantik!" ujar Luis yang baru Aku sadari kehadirannya.
__ADS_1
Aku beralih menatap Luis, dia duduk di tepi ranjang.
"Kau, sejak kapan kau masuk ke kamarku? Kenapa berani sekali kau masuk tanpa izin? Aku yakin kau ini pencuri," ucapku panik dan sangat cemas.
"Sssttt, pelankan suaramu. Nanti orang-orang penghuni rumah ini mendengar suara melengkingmu itu," Luis menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
Aku menepis tangan Luis dengan kasar.
"Jangan sentuh Aku. Pergilah dari sini. Suamiku akan segera pulang!" pintaku dan berharap dia pergi.
"Biarkan saja aku di sini, karena aku akan memberikan kejutan pada Aras."
Bukannya pergi, Luis malah semakin menjadi. Dia kembali ke ranjang dan bergulingan di kasur itu.
"Hei, kau mau cari mati? Kau ingin aku dihabisi oleh suamiku? Please, pergilah dari sini. Kalau tidak, dia akan menghancurkanku beserta rumah ini."
Aku menarik tangan Luis, tapi malah tanganku ditarik kembali oleh Luis dan Aku pun jatuh di atas tubuh Luis.
Tin tin tin
Suara klakson mobil yang baru saja memasuki halaman rumah. Terdengar sangat jelas dan tidak asing lagi bagiku, bahwa itu suara mobil tuan muda Aras.
"Lepaskan aku Luis. Suamiku sudah kembali. Gara-gara kau, aku tidak bisa menyambut suamiku pulang. Tapi tolong, lepaskan aku dan pergilah dari sini. Suamiku sebentar lagi akan naik ke kamar ini. Aku takut jika dia salah paham," pintaku memohon pada Luis, berharap dia melepaskanku.
Derap langkah jejak kaki terdengar samar-samar di telingaku. Aku begitu cemas dan takut, hingga Aku pasrah dengan keadaan saat ini.
"Aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dan suamiku. Tapi tolong jangan libatkan aku dalam masalah kalian. Please, tolong pergilahhhh!"
Aku menangis dan berharap Luis bisa berbelas kasih padaku. Dan tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu kamar.
Tot tok tok
__ADS_1
Bersambung....