
Sungguh Aku tidak tenang dan pikiranku tak karuan, apalagi sekarang tuan muda tidak mengizinkan Aku kembali ke luar dari kamar hanya sekedar ke ruang tengah untuk menonton TV. Aku takut jika tuan muda kembali membuat Aku menderita.
Aku tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali. Aku tak ingin tuan muda memberiku obat depresi dan penghilang ingatan itu lagi. Aku sudah lelah dan tak ingin berurusan memainkan peranku untuk membohongi suamiku.
Tanpa berpikir panjang, Aku bergegas mengambil ponsel yang diberi Luis di tempat yang paling aman Aku sembunyikan agar tak ketahuan oleh suamiku.
Pukul 15.00, Aku membuka layar ponsel itu dan ternyata ada puluhan panggilan masuk dari Luis dan juga beberapa pesan singkat dari Luis. Lantas Aku membuka salah satu pesan dari Luis.
Aku membuka pesan yang paling terakhir Luis kirimkan. Ternyata Luis ingin berbicara penting padaku dan menyuruhku untuk menghubunginya sekarang juga.
Dari pesan itulah, Aku hendak menghubungi Luis. Dengan rasa was-was dan ketakutan menyelimuti hati dan pikiranku. Takut bila pengawal yang berjaga depan pintu kamarku mencoba untuk menguping pembicaraanku. Jadi Aku putuskan untuk berbicara di dalam kamar mandi dan berharap tuan muda tidak pulang lebih awal.
Panggilan pun terhubung.
"Hallo cantik, akhirnya kamu meneleponku juga. Aku khawatir sama kamu. Kamu nggak diapa-apain sama Aras, kan?"
"Hei, pertanyaan apa itu Luis? Nggak usah basa-basi deh, cepat katakan ada hal penting apa? Aku nggak bisa lama-lama. Aku takut suamiku pulang nanti."
"Jadi Aras masih merahasiakan foto itu darimu?"
"Foto apa maksud kamu?"
"Saat Aras berangkat untuk pulang ke Jakarta, aku sudah memberitahu Aras tentang kita di restoran tempo hari."
"Apa? Jadi itu ulah kamu? Pantas saja suamiku mengabaikanku sejak dia pulang dari Italia. Keterlaluan kamu, Luis. Kau jahat padaku. Aku membencimu."
"Untuk apa ditutupi, lama kelamaan akan terbongkar juga semuanya, cantik. Tenang saja ada aku yang akan membantumu."
"Dasar sialan kau, Luis. Apa kau juga mengatakan rahasiaku tentang kebohonganku yang berpura-pura kehilangan ingatan?"
"Hoho, rupanya kau takut. Bagaimana jika aku mengatakannya juga pada si Aras tentang itu? Hahaha."
"Sialan kau Luis. Aku membencimu!"
__ADS_1
Brakkk
Tiba-tiba pintu kamar mandi didorong kasar oleh tuan muda Aras. Gawat, ini benar-benar gawat. Tuan muda ternyata pulang ke rumah lebih cepat dari dugaanku.
Aku gemetar ketakutan, mataku berkaca-kaca, sedangkan ponsel yang Aku pegang pun masih menyala dan tak sempat Aku matikan panggilannya. Habislah Aku oleh suamiku.
Saat ini tuan muda Aras menatapku tajam dan mukanya tampak merah padam. Dia mendekatiku perlahan sedangkan Aku mundur untuk menghindarinya. Tapi sialnya, langkahku terhenti saat tubuhku tak bisa lagi bergerak karena sudah berada di sudut dinding paling ujung.
Kepalaku tertunduk ketakutan tak berani menatap wajah tuan muda. Aku bodoh, padahal jelas-jelas suamiku itu fokus pada ponsel yang Aku sembunyikan di belakang tubuhku, tapi Aku masih saja memegang erat ponsel itu. Sungguh Aku sangat takut.
"Berikan ponselnya," pinta tuan muda sembari menyodorkan tangannya ke arahku.
"Berikan ponsel itu, Naya!" pinta tuan muda kembali dengan suara menekan.
Aku menggeleng tak ingin memberikan ponsel itu tapi nyatanya malah tuan muda mendekat ke arahku dan mengunci tubuhku.
"Nay, kau itu bukan lawanku karena kau seorang wanita. Jadi berikan ponsel itu sekarang," bisik tuan muda seolah memberi ancaman.
Kemudian, dengan cara paksa tuan muda merampas ponsel di tanganku yang memang sedari tadi tuan muda datang ke kamarku, panggilan telepon itu masih menyala. Tuan muda pun akhirnya memulai pembicaraan terlebih dulu pada Luis.
"Karena istri kamu cantik. Aku suka sekali yang cantik-cantik seperti Naya."
"Sialan kau, beraninya bermain di belakangku. Tunjukkan dirimu, jangan jadi pengecut yang bisa menggoda istri orang."
"Jelas dong, pasti saya akan datang menemuimu. Aku juga tidak sabar ingin memberikan kejutan yang luar biasa padamu, Aras Ahmet."
"Ok, buktikan kalau begitu. Saya tunggu kehadiran anda."
"Baiklah, dengan senang hati. Sampai jumpa nanti dengan sebuah kejutan yang tak terlupakan dariku."
Panggilan pun terputus.
Kini hanya ada kami berdua, Aku dan tuan muda Aras. Setelah mengakhiri pembicaraannya bersama Luis, tuan muda tidak hentinya menatapku tajam seakan penuh tanya. Aku hanya tertunduk dan menangis. Aku sangat takut jika tuan muda melakukan hal buruk padaku.
__ADS_1
"Bisa kau jelaskan dari mana kau mengenal pria itu, Naya?" tanya tuan muda dengan tenang.
Aku hanya diam tidak berani untuk menjawab pertanyaannya.
"Nay, saya paling benci mengulang-ulang pertanyaan. Jadi saya bertanya satu kali lagi padamu, bisa kau jelaskan kenapa kau bisa kenal dengan pria itu?" tanya tuan muda kembali yang kali ini menarik daguku dan didongakkannya ke arah wajahnya.
Aku masih saja bungkam, takut menatap tuan muda hingga Aku menutup mataku sambil menangis.
"Jawab Naya, jawabbbb. Bukan tangisan yang ingin saya dengar tapi jawabanmu itu, mengerti tidakkk?" teriak tuan muda sembari menekan daguku hingga Aku merasa sakit.
Brakkk
Tuan muda membanting ponsel pemberian dari Luis begitu keras hingga ponsel itu pecah berkeping-keping.
"Maafkan aku. Pria itu yang tiba-tiba menghampiriku saat aku duduk di taman belakang, dia mengancamku dan memaksaku. Lantas aku terpaksa pergi ke restoran bersamanya tanpa meminta izin darimu. Tolong maafkan aku," ucapku menjelaskan dan masih menangis di hadapannya.
"Kau mengkhianatiku, membohongiku dan kau tidak menjalankan amanah dariku, kau istri pembangkang, Naya!" bentak tuan muda dengan amarahnya.
"Tidak, aku tidak pernah mengkhianatimu. Sungguh, percaya padaku. Tolong maafkan aku," bantahku sambil menangis dan memohon pada suamiku.
"Banyak kesalahan yang kamu lakukan padaku Naya, aku tidak akan memafkanmu, aku marah padamu. Kau menipuku, bahkan kau dari awal tidak pernah kehilangan ingatan sama sekali. Sungguh hebat peranmu Naya," tuan muda menepis daguku kasar dengan kekesalannya.
"Lalu apa bedanya dengan kamu? Kau suami jahat yang memberikan obat itu untuk membuatku depresi dan kehilangan ingatan. Jika aku menghindari keburukan itu, apa yang salah dari diriku, hah? Makanya sebisa mungkin aku memainkan peranku sebagai orang yang lupa ingatan di hadapanmu. Kau yang membuatku menderita. Kenapa kau menyalahkanku padahal kau yang memulai semuanya."
Aku protes dengan suara lengkingan yang cukup keras dan mempertanyakan kesalahannya tapi malah membuat tuan muda mengepalkan kedua tangannya dengan marah.
Aku lupa jika Aku sedang berhadapan dengan tuan muda Aras yang mempunyai sifat buruk diawal pertemuanku dengannya. Mungkin saat ini waktu yang tidak tepat jika Aku membantahnya dan memakinya.
"Kau bisa marah sekarang, cih!"
Tuan muda memegang tangan kananku dan menarikku keluar dari kamar mandi setelah itu tubuhku dijatuhkan ke atas ranjang dengan sangat kuat hingga kepalaku sedikit pusing.
"Akhhhh, a-apa yang kau lakukan?" tanyaku ketakutan.
__ADS_1
Tuan muda mendekatiku di ranjang dengan seringai jahatnya.
Bersambung....