
Tuan muda berjalan menuju halaman depan rumah dengan langkahnya yang tenang tetapi auranya begitu dingin dan tatapan matanya begitu tajam.
Tapi tak disangka, saat tuan muda Aras melangkah hendak melewati pintu depan, tiba-tiba saja Luis yang memakai kaca mata hitamnya muncul di hadapan tuan muda Aras.
"Hi, Aras ... how are you? Long time no see, Brother!" sapa Luis yang langsung memeluk tuan muda begitu saja.
Karena tuan muda merasa tidak mengenal Luis, lantas dengan kasar dia melepaskan pelukan itu dari Luis.
"Jangan sok akrab dengan saya, karena saya tidak mengenal anda," ujar tuan muda ketus.
"Wow, kau tidak ingat denganku? Coba deh lihat baik-baik diriku, wajahku, mataku dan...," ucap Luis yang mencoba membuat Aras mengingatnya tapi ucapannya tiba-tiba dipotong oleh tuan muda.
"Tidak usah banyak bicara. Katakan apa mau kamu sebenarnya, hah? Berani-beraninya kamu menyusup rumah ini dan mengajak istri saya keluar tanpa izin dari suaminya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya tuan muda dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Oh iya, Naya ... dimana Naya?" Luis baru mengingat Naya saat tuan muda menyinggung nama Naya.
Tanpa ditawari oleh tuan muda, Luis dengan cepat langsung memasuki kediaman Ahmet dengan menerobos masuk melewati tuan muda Aras begitu saja. Sontak tuan muda terkejut dengan tingkah Luis yang tidak punya tata krama.
"Hei, berhenti ... kau tidak berhak memasuki rumahku," teriak tuan muda menghampiri Luis.
Luis tidak mempedulikan ucapan tuan muda, dia malah semakin menjadi berteriak menyebut nama Naya.
"Naya, Naya, dimana kamu? Naya, keluarlah, aku datang menemuimu!" teriak Luis dengan lantang.
"Sialan kau Luissss!" tuan muda menjerit dan hendak menarik baju Luis.
Tiba-tiba dua anak buah Luis yang berbadan kekar dengan cepat menahan tubuh tuan muda.
"Lepaskan, kalian tidak berhak membuat kekacauan di rumah ini," tuan muda berontak dengan keras tapi apa daya kekuatan dua anak buah Luis dua kali lipat dari tuan muda.
Luis pun menghampiri tuan muda dengan senyum mengembang, lalu berbicara pada tuan muda.
"Aras, jika kau menyalahkan Naya maka itu tidak benar. Naya tidak bersalah dalam hal ini. Urusanku itu adalah sama kamu, kau paham?"
"Saya tidak mengenalmu, bagaimana mungkin saya mempunyai urusan denganmu," sangkal tuan muda kesal.
"Ok, akan aku beritahu. Tapi sebelumnya dimana si cantik Naya, hah? Aku ingin melihatnya," ucap Luis tersenyum ke arah tuan muda.
__ADS_1
"Keterlaluan kau Luissss!" pekik tuan muda yang tubuhnya masih di tahan oleh dua anak buah Luis.
Sedangkan Luis berjalan sembari memanggil-manggil nama Naya.
"Naya, Naya, dimana kamu cantik!" Luis memanggil dengan suara lantang dan keras.
Aku pun mendengar suara Luis yang memanggil-manggil namaku berkali-kali dengan jelas. Suara itu semakin dekat ke arah ruangan di mana tempat aku sekarang berada. Sontak Aku pun memanggil nama Luis pula.
"Luis, Luis, kau di sini?" Aku memanggil Luis sembari menggedor-gedor pintu.
"Luis aku di sini," Aku pun masih menggedor-gedor pintu cukup keras agar Luis mendengar.
Luis pun dengan cepat mendekati pintu ruangan yang Aku gedor-gedor tadi.
"Naya, kau di dalam?" tanya Luis.
"Ya, aku di sini. Kenapa kau datang? Apa yang kau lakukan di rumah ini? Pergilah dari sini, Luis!" pintaku menyuruh Luis untuk pergi agar tak ada keributan di kediaman Ahmet.
"Aku akan menyelamatkan kamu dari Aras. Aku akan mengeluarkan kamu dari sana," Luis mencoba membuka pintu ruangan itu tapi tak bisa dan akhirnya Luis mencoba mendobrak pintu itu dengan tubuhnya.
Bukkk bukkk
Dengan langkah cepat, tuan muda menghampiri Luis dan memukul wajah Luis dengan keras hingga Luis terjatuh di lantai.
"Berani sekali kau mencoba mengeluarkan istriku dari sana, hah?"
"Kau mengurung Naya di dalam. Kau selalu menyiksa Naya. Makanya aku menolong Naya. Apa aku salah?" ucap Luis mempertanyakan.
"Tapi Naya istri saya dan saya lah yang berhak atas Naya. Sedangkan kamu hanya orang asing dan orang ketiga diantara hubungan saya dengan Naya," tegas tuan muda menekan.
"Orang asing? Cih, kau selalu menganggapku orang asing," gumam Luis dengan mukanya yang ditekuk masam.
Luis masih bertekad untuk mencoba menolongku dari dalam ruangan gelap itu, tapi tuan muda menghentikan gerakan Luis.
"Menjauhlah dan pergilah dari siniiiii," bentak tuan muda berteriak.
"Dion, telepon polisi sekarang. Sebelum saya mengotori rumah ini dengan banyak darah," perintah tuan muda pada Dion yang harus dipatuhi.
__ADS_1
"Baik Tuan," sahut Dion.
Baru saja Dion hendak meraih ponsel di saku jasnya, tiba-tiba semua anak buah Luis yang berada di dalam rumah itu mengeluarkan pistol yang diarahkan ke tuan muda dan Dion. Sontak kedua orang itu kaget.
"Jadi ini rencanamu yang ingin membunuh saya, hah? Kau melakukan cara licik seperti ini pada saya. Siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuanmu mengusik hidup saya?" tuan muda menggepalkan tangannya yang siap untuk memukul Luis, tapi Dion menahannya.
"Tuan, tenang jangan gegabah!" bisik Dion pelan sambil memegang tangan tuan muda.
Luis mendekat ke arah tuan muda Aras lalu menadahkan tangan kanannya seakan meminta sesuatu.
"Berikan kunci ruangan itu padaku. Kita keluarkan Naya dulu dari dalam. Aku akan beri kejutan untukmu yang telah lama aku pendam selama ini. Tapi ingat, jangan coba-coba melapor polisi, atau aku tidak akan segan-segan untuk membawa Naya menjauh darimu," ucap Luis mengancam.
"Sialan kau!" gumam tuan muda menahan amarah.
Karena tuan muda hanya diam saja, maka Luis berinisiatif mengambil kunci pintu itu di saku jas tuan muda tanpa izin darinya. Dan benar saja, setelah mendapatkan kunci pintu itu, Luis pun tersenyum lalu dengan segera membuka pintu ruangan itu dan memasukinya.
"Naya, are you ok?" tanya Luis cemas sambil meraih wajahku.
"Luis, kau ... emm aku baik-baik saja. Bagaimana bisa kau membukanya?" tanyaku heran dan tak sadar jika Luis meraih wajahku.
Tuan muda langsung masuk ke ruangan itu lalu melepas paksa tangan Luis dari wajahku. Sontak Aku kaget dan merasa takut dengan kehadiran suamiku.
"Jangan sentuh istri saya," tuan muda langsung menarik tanganku hingga tubuhku dekat dengannya.
Aku hanya menunduk patuh pada suamiku.
"Ok, Naya memang milikmu. Tapi Naya tidak beruntung memiliki suami sepertimu yang keras kepala, arogan dan penyiksa. Sungguh malang nasibmu Naya," umpat Luis menyeringai pahit di depan tuan muda dan melirik diriku sekilas.
"Tahu apa kamu tentang hidup saya. Memangnya kamu siapa, hah? Pergilah dari sini, sebelum saya membunuhmu sekarang jugaaaa!" teriak tuan muda yang langsung melepaskan tanganku lalu beralih mencengkram kerah baju Luis hingga sedikit tercekik.
Luis hanya mendecih pelan sambil menyunggingkan senyumnya seolah mengejek.
"Baiklah, kau mau tahu siapa aku? Dengarkan baik-baik tuan muda Aras terhormat. Aku adalah Luis Vettori, sekaligus putra dari Laura Bellucci," ucap Luis dengan pelan karena menahan cengkraman tuan muda sambil menaikan sebelah sudut bibirnya.
Tuan muda kaget mendengar nama yang tak asing baginya di akhir ucapan Luis. Mata tuan muda membulat dan memerah, sekilas dia mengingat-ingat wajah Luis.
"Kau...," ucap tuan muda hingga rahangnya mengeras.
__ADS_1
Tuan muda menambah mempererat cengkraman pada kerah baju Luis seakan tuan muda ingin membunuh Luis.
Bersambung....