Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Malam Indah tak Terlupakan


__ADS_3

Keesokan paginya, tuan muda telah bersiap-siap hendak berangkat ke kantor, Aku selalu menemaninya sampai pakaian dan dasi pun telah rapi berada di tubuhnya. Ingin sekali Aku mengatakan sesuatu padanya, lebih tepatnya meminta sesuatu padanya. Aku benar-benar tergiur untuk membawakan makan siang ke kantornya lagi.


Aku ingin sekali menemani suamiku di kantornya, hitung-hitung mengusir rasa bosan yang setiap hari bersarang di rumah besar ini. Tapi Aku bingung bagaimana Aku mengatakannya pada suamiku itu. Aku bisa menebak pasti dia tidak mengizinkan Aku kembali keluar dari rumah dan menemuinya di kantor membawa makan siang, apalagi saat ini kak Niko telah kembali ke Jakarta. Hah, menyebalkan sekali.


"Nay, Naya ... ayo turun, kita sarapan. Ngapain kamu melamun saja dari tadi?" tuan muda memecahkan pemikiran yang ada di otakku.


"Eh, i-iya baiklah!" sahutku gugup.


Tapi sebelum tuan muda ke luar dari kamar, Aku dengan cepat memanggilnya.


"Sayang," Aku menghentikan langkahnya.


Tuan muda pun berbalik dan menatapku.


"Ada apa?" tanya tuan muda sembari melihat jam di tangannya sekilas.


"Emm ... tidak apa-apa. Aku hanya ingin turun berdampingan denganmu," Aku langsung menghampirinya lalu menggandeng lengan tuan muda.


Tuan muda pun tersenyum dengan lebar dan kami berjalan beriringan menuruni tangga.


Padahal niat hati ingin memintanya supaya Aku datang ke kantornya untuk menemaninya di sana, tapi nyatanya Aku tidak berani mengatakan itu padanya. Tidak mengapa, mungkin di hari lain saja saat Aku berani mengatakan padanya.


Setelah kepergian tuan muda ke kantor, suasana di rumah begitu sunyi dan Aku kembali pada beberapa hal dimana Aku merasa sepi, sendirian hanya duduk, nonton TV dan makan. Sangat-sangat membosankan.


Hingga akhirnya sore hari, sebelum tuan muda pulang dari kantor, Aku menyempatkan diri untuk berdandan yang cantik, memoleskan sedikit bedak ke wajahku dan tak lupa memberi warna merah pada bibirku agar terlihat mempesona di mata suamiku. Aku pun menyambut suamiku dengan suka cita.


Lalu malam hari selepas isya, tuan muda melanjutkan pekerjaannya duduk di sofa dengan laptop di hadapannya, sedangkan Aku kembali berdandan sangat cantik yang kali ini Aku memberanikan diri untuk pertama kalinya Aku memakai lingeri berwarna hitam yang tipis dan seksi.


Malam ini Aku bertekad untuk meluluhkan hati suamiku yang dingin itu agar Aku mendapatkan hak ku. Aku tidak bisa diam saja, walaupun Aku terpaksa harus menggodanya terlebih dulu. Aku harap suamiku itu peka dengan apa yang aku lakukan.


"Sayang, apa pekerjaanmu itu harus diselesaikan malam ini juga?" tanyaku yang langsung duduk bersampingan dengannya dan lagi-lagi Aku bergelayut manja di lengannya.

__ADS_1


Tuan muda merespon dengan dengungan saja, karena menurutnya Aku sudah biasa bergelayut manja seperti ini dengannya. Dia tidak menyadari penampilanku saat ini. Aku merasa kesal padanya. Dia sama sekali tak memperhatikanku.


"Sayang!" sapaku keras agar perhatian tuan muda tertuju padaku.


"Sebentar, Nay ... ini dikit lagi selesai, kok!" nyatanya tuan muda masih sibuk dengan kerjaannya tanpa menatapku.


Aku begitu kesal hingga Aku menaruh kepalaku ke atas paha tuan muda dengan wajah menghadap ke perutnya kemudian Aku memeluknya.


"Bisakah kau menyudahi pekerjaanmu itu, sayang?" pintaku dengan manja.


"Nay, kenapa kau begitu manja dan...," ucap tuan muda menggantung saat dia mulai beralih ke arahku dan melihatku memakai baju seksi yang tipis.


"Kau ... a-ada apa denganmu, Nay?" tanya tuan muda gugup sedikit bergejolak.


"Aku akan tidur dengan posisi seperti ini, jangan melarangku dan jangan menggangguku," Aku mulai memejamkan mataku dan membiarkan tubuhku berada di dekatnya.


Tuan muda hanya diam dan menelan ludah saat tubuhku terlihat cukup jelas dibalik lingeri yang kupakai, apalagi lingeri itu pendek diatas lutut yang memperlihatkan kulit mulus pahaku. Aku sengaja melakukannya supaya tuan muda tergoda. Sekarang Aku hanya menunggu bagaimana reaksi dari suamiku ini.


  


"Aghhh, sial ... bagaimana aku bisa menyelesaikan pekerjaanku jika Naya tidak melepaskan pelukannya. Ya Tuhan, inikah godaan agar aku melakukan kewajibanku padanya?" batin tuan muda merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana.


Dengan cepat tuan muda menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Aku yang sedari tadi berpura-pura tidur merasakan sakit karena posisi tubuhku yang tidak nyaman membuatku bergerak-gerak sehingga tuan muda menyadari itu.


"Kau sengaja menggodaku, Nay!" batin tuan muda mengulum senyumnya.


Tuan muda mulai berpikir dan kali ini dia tidak akan membiarkan kesempatannya berakhir penyesalan.


"Baiklah, karena kau sudah membuatku tergoda, jadi malam ini aku akan menghabisi kamu, Naya!" batin tuan muda tiada henti sambil tersenyum nakal.


Bergegas tuan muda mematikan layar laptopnya dan menutupnya, lalu dengan berani dia membelai rambutku juga wajahku lembut, tapi saat dia menatap bagian pahaku yang terbuka, tiba-tiba tuan muda tidak melanjutkan aksi tangannya yang nakal, karena suamiku tidak akan bisa menikmatinya sendirian. 

__ADS_1


Tuan muda pun mengangkat tubuhku dan menaruhku di ranjang, lalu mencium keningku dan wajahku beberapa kali, Aku merasakan geli dan ingin rasanya Aku membuka mata, tapi Aku takut jika suamiku ini malah menghentikan aksinya.


"Ah, dasar payah," batinku mengumpat.


Tapi tuan muda tidak tinggal diam, dia tahu bahwa Aku menahan geli. Tuan muda sengaja melakukan itu agar Aku membuka mataku tapi nyatanya Aku masih memejamkan mataku. Tuan muda pun menjadi tak sabar dan kesal.


"Buka matamu, Nay. Aku tahu kamu hanya pura-pura tidur," pinta tuan muda menyuruhku membuka mata.


"Bagaimana aku akan melakukannya jika kau terpejam dan diam seperti boneka? Itu tidak akan menguntungkan," ucap tuan muda sedikit menyinggung.


Dengan cepat Aku membuka mataku agar suamiku ini tidak marah ataupun kesal.


"Maafkan aku, sayang!" Aku tersenyum menatapnya dengan malu-malu.


"Makanya jangan berani menggodaku dengan cara yang aneh. Katakan saja apa mau kamu padaku, sebisaku akan mengabulkannya," ujar tuan muda menelisik wajahku juga tubuhku tak berkedip.


"Katakan apa yang kau inginkan, Nay?" tanya tuan muda lagi.


"Emm ... aku, aku ingin...," Aku cukup malu untuk mengatakannya hingga Aku menggantungkan ucapanku.


Karena terlalu lama Aku menjawab, seringai nakal terbit diwajah tuan muda hingga kemudian dia membungkan bibirku dengan ciumannya.


"Hmmp," Aku kaget dan pasrah mengikuti gerakan mulut yang dimainkan suamiku.


Hingga kemudian dia melepaskan ciuman itu sejenak untuk kami mengatur nafas.


"Kita habiskan malam ini berdua dengan indah, sayang!" bisik tuan muda di telingaku dengan nafasnya yang menggebu.


Tuan muda mulai melakukan aksinya padaku, dia melakukannya dengan penuh gairah dan kasih sayang. Dan malam ini adalah malam pertama penyatuan kami yang selama ini kami nanti setelah banyak rintangan yang kami lewati sebelumnya. Malam ini adalah bukti cinta kami yang sesungguhnya tanpa ada rasa kebencian di masa lalu. Dan akhirnya kami menciptakan malam yang indah yang tak akan pernah terlupakan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2