Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Ikut ke Kantor


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Aku sedang menyiapkan sarapan, tapi suamiku itu masih saja tidur dengan nyenyak di dalam selimut tebal yang membuatnya betah di sana. Aku tidak tega untuk membangunkan dia karena Aku merasa dia benar-benar sangat lelah karena permainan semalam.


Aku tidak habis pikir jika dia belum juga bagun di jam 07.00 saat ini. Selama Aku di rumah ini, Aku belum pernah melihat dia bangun kesiangan. Aku ragu untuk membangunkannya. Jadi Aku biarkan saja dia tidur selama dia mau. Aku harap dia tidak akan marah padaku.


"Naya, Naya di mana kamuuuu?" teriak tuan muda memanggilku hingga terdengar sampai di ruang makan.


Aku bergegas berjalan menuju kamar.


"Kau sudah bangun, sayang? Kenapa berteriak, hah?" Aku duduk di sisi ranjang samping suamiku.


"Dari mana saja kamu, aku dari tadi mencarimu. Aku kesiangan, kenapa tidak membangunkan aku, hah?" tanya tuan muda di sela-sela mengucek-ngucek matanya yang masih terlihat mengantuk.


Sudah Aku duga, pasti suamiku ini akan bertanya seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya.


"Aku sedang menyiapkan sarapan. Aku juga sudah membangunkan kamu dari tadi, tapi kamu nggak mau bangun. Jadi aku tinggal saja ke dapur," ucapku menjelaskan.


"Lagian nggak mungkin jika aku memukulmu atau menyiram kamu pakai air agar kamu bangun. Nanti yang ada kamu marah sama aku," ucapku menambahkan dengan sedikit candaan.


Tuan muda menatapku dengan tatapan yang tajam dan seringai nakalnya.


"Coba saja kalau berani, aku akan menghukum kamu lebih parah dari permainan semalam," ujar tuan muda mengancam yang hatinya sangat menginginkan kembali malam itu.


"Hemm ... kalau itu mah kamu aja yang mau. Ya sudah, sekarang kamu mandi, gih!" Aku menarik tangan suamiku agar dia bangkit dari ranjang.


"Hei, hei ... bentar lagi, aku masih ingin rebahan dulu, Nay. Hah, kau ini tidak sopan sekali dengan suami sendiri," ujar tuan muda sedikit membantah.


"Cepat mandi, lalu kita sarapan!" Aku membawa suamiku masuk ke kamar mandi dengan paksa.


"Hah, dasar kau ini ... cerewet amat sih!" umpat tuan muda kesal.


Aku hanya tertawa melihat tingkah suamiku yang begitu lucu. Aku suka dengan gayanya yang tidak malu-malu lagi sehingga di antara kami tidak ada rasa canggung seperti hari-hari yang pernah kami lewati dulu.


Sembari menunggu suamiku selesai mandi, Aku bergegas merias wajahku tipis senatural mungkin dan lipstik berwarna peach yang tidak mencolok. Aku juga tak lupa memakai parfum agar memikat tuan muda karena Aku akan meminta sesuatu padanya.


Beberapa menit kemudian, tuan muda selesai dengan mandinya. Aku bangkit dari depan cermin kemudian langsung membawakan baju yang telah aku siapkan untuk suamiku.


"Sepertinya ada yang berbeda dari kamu hari ini, Nay!" tuan muda menelisik wajahku hingga penampilanku.

__ADS_1


"Hehe ... memang iya," jawabku tersenyum meringis.


"Ada apa sih?" tanya tuan muda heran sambil menatapku tiada henti.


Aku mendekat dan langsung memakaikan baju untuk suamiku sambil memberi perhatian padanya agar suasana hatinya baik dan dia bisa mengabulkan apa yang aku inginkan.


"Emm, sayang ... boleh ya aku ikut kamu ke kantor, please!" pintaku memohon sambil memeluk erat tuan muda.


"Oh, rupanya kamu serapi dan secantik ini karena ada maunya. Tidak bisa, aku mau kerja bukan mau jalan-jalan," tuan muda langsung melepaskan pelukanku darinya kemudian meraih dasi lalu memakainya.


"Sayang, tolong izinkan aku menemanimu. Aku bosan di sini. Lama-lama aku bisa stres dan gila kalau begini terus. Kamu mau aku seperti itu? Lebih baik kamu beri obat penghilang ingatan itu saja lagi padaku," Aku kesal sehingga asal bicara.


"Beneran kamu mau aku kasih obat penghilang ingatan itu lagi? Aku bisa pesan obat itu pada temanku nanti, loh!" ujar tuan muda dengan candanya.


"Suami jahat, kau tega padaku!" ujarku ketus dan marah.


Tuan muda tersenyum melihat tingkahku yang menurutnya menggemaskan.


"Katakan, selain bosan ... mengapa kamu ingin sekali ke kantor?" tanya tuan muda penasaran.


"Aku hanya ingin bersamamu dan membantumu di kantor, hanya itu!"


"Kamu takut jika aku bertemu dengan kak Niko?" tanyaku memastikan.


Tuan muda diam dan mengalihkan pandangan matanya dariku ke arah lain.


Aku mendekati tuan muda lalu memeluknya kembali untuk meyakinkannya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi aku buktikan bahwa aku mencintaimu. Tapi satu hal yang pasti, bahwa aku sudah melupakan masa laluku bersama kak Niko. Terserah kau mau percaya atau tidak," ucapku pasrah.


Tuan muda perlahan mulai membalas pelukanku dan membelai kepalaku. Itu artinya dia mempercayaiku dan mengerti apa yang aku rasakan. Kali ini tuan muda memikirkan dengan baik dan tidak ingin dikuasai oleh egoinya lagi.


"Baiklah, kamu boleh ikut ke kantor tapi kamu tidak boleh menggangguku saat aku kerja dan kamu harus jaga mata dan hati kamu selama di sana, mengerti?"


"Benarkah? Siap, tuan muda. Saya Kanaya Aurora akan melaksanakan perintah!" Aku mendongak kemudian berdiri tegap menghadapnya lalu memindai tanganku ke pelipis dengan sikap hormat pada suamiku.


Tuan muda tertawa melihat tingkahku yang menurutnya berlebihan.

__ADS_1


"Kau kira aku ini pemimpin upacara, hah? Ada-ada saja!"


"Yang penting kau tertawa dan itu membuatku bahagia, sayang!" Aku mencium pipi kanan dan kirinya bergantian.


"Kau sekarang pintar menggodaku ya?" tuan muda mencubit hidungku gemas.


"Ya dong, itu harus."


Kami pun tertawa bersama-sama.


Di kantor, tuan muda yang sibuk dengan pekerjaannya melalui laptop, sedangkan aku mengecek dan menyusun berkas laporan hanya sekedar mengurangi pekerjaannya. Dia begitu sibuk hingga dia sama sekali tidak melirikku sekalipun. Aku mulai bosan dan aku bangkit berjalan ke arah kaca yang memperlihatkan pemandangan luar kantor. Bosanku sedikit terobati.


Tak lama kemudian, datanglah kak Niko memasuki ruang kerja tuan muda Aras.


"Maaf, Tuan ...  berkas laporan yang saya kasih kemarin ke Tuan, bolehkan saya mengambilnya sekarang?" pinta kak Niko dengan sopan.


Aku mendengar apa yang kak Niko pinta. Tuan muda langsung menatapku seolah menyuruhku untuk memberikan berkas laporan yang telah kususun rapi di meja tamu.


Aku langsung berjalan ke meja tamu dan meraih berkas laporan itu lalu menuju ke arah kak Niko yang berada tepat di hadapan tuan muda.


"Ini berkas laporannya, aku sudah mengeceknya langsung dan aku yakin tidak ada yang kurang sedikit pun," ucapku menyerahkan berkas laporan itu pada kak Niko.


Kak Niko meraih berkas itu dari tanganku dengan pandangan menunduk tak berani menatap wajahku. Sedangkan tuan muda hanya memandangi kami berdua setenang mungkin.


"Saya permisi, Tuan muda!" kak Niko berlalu setelah mendapat jawaban dari tuan muda. Dia sama sekali tak melirikku.


Aku langsung menghampiri tuan muda lalu mencium pipinya agar suamiku itu tidak berpikiran yang aneh-aneh mengenaiku dan kak Niko tadi.


Cup


"Are you happy?" tanya tuan muda seolah dia menyinggung dengan kedatangan kak Niko barusan.


"Ya, aku bahagia karena bersamamu, sayang. Sudah, jangan berpikiran buruk deh. Aku hanya mencintaimu," Aku kembali menciumi pipi suamiku bertubi-tubi agar perasaannya lebih tenang.


Sementara, dari arah yang tak disangka-sangka, tiba-tiba Luis masuk begitu saja ke ruang kerja tuan muda saat kami sedang bermesraan.


"Wow amazingggg, pemandangan yang luar biasa. Aku serasa menonton film Hollywood," ucap Luis membelalakan matanya memandangiku dan suamiku tak berkedip.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2