
Hari demi hari telah kami lewati, hingga empat bulan pernikahan kami, hubunganku dengan tuan muda semakin membaik dan bertambah dekat. Tuan muda telah mengisi hari-hariku dengan bahagia. Aku pun sedikit demi sedikit mulai melupakan kak Niko.
Aku tak habis pikir perubahan tuan muda Aras begitu menarik perhatianku. Kebaikannya, keramahannya dan perhatiannya telah ada saat Aku memainkan peranku yang kehilangan ingatan. Dari sanalah tuan muda memberikan kenyamanan saat Aku berada di dekatnya.
Sosok tuan muda yang dingin, jahat dan kejam tidak lagi dia lakukan padaku. Tapi Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dia berlaku baik padaku. Apakah memang dia sudah menganggapku istrinya atau karena ada alasan tersembunyi yang tidak Aku ketahui. Aku berharap perubahan baik sikap tuan muda Aras benar-benar membawa kebahagian untukku di masa depan.
"Bi, apa obat yang pernah saya berikan ke Bibi untuk Naya masih Bibi simpan?" tanya tuan muda Aras saat Bi Tias menyuguhkan kopi di ruang makan.
"Emm ... masih kok, Tuan!" jawab bi Tias ragu.
"Kapan Bibi terakhir kasih obat itu ke minuman Naya?"
"Emm ... a-anu Tuan," gugup bi Tias.
"Jawab saja, jangan takut gitu dong, Bi."
Tuan muda menatap bi Tias tanpa henti.
"Sa-saat Tuan membuat jus apel waktu itu, Bibi nggak pernah lagi kasih obat ke non Naya," jawab bi Tias sedikit takut.
"Itu berarti sudah lama sekali," tuan muda berpikir sembari memangku dagunya di tangan kirinya.
"Memangnya ada apa, Tuan?"
Bi Tias memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Aneh, sejak saat itu juga saya tidak memberikan obat depresi atau penghilang ingatan pada Naya," ucap tuan muda dengan heran.
Sontak bi Tias kaget.
"Jadi tujuan Tuan selalu membawa sarapan ke non Naya itu apa, Tuan?" bi Tias sangat ingin tahu.
__ADS_1
"Saya hanya memberikan Naya obat tidur ke dalam jus apel itu, agar Naya tidak mencoba bunuh diri lagi," jelas tuan muda.
"Jadi selama ini Tuan tidak memberikan obat berbahaya itu pada non Naya lagi?" tanya bi Tias menatap tuan muda seakan tidak percaya.
Tuan muda hanya mengangguk.
"Syukurlah," ujar bi Tias lega.
Tuan muda mengerutkan keningnya heran.
"Loh kok bersyukur sih, Bi? Justru saya bingung dengan sikap Naya akhir-akhir ini. Saya tahu betul jika Naya waktu itu sangat membenci saya dan meminta saya untuk melepaskannya. Tapi sekarang sikap Naya begitu lembut dan perhatian pada saya."
"Saya takut jika obat depresi dan penghilang ingatan itu sudah sepenuhnya membuat Naya lupa jati dirinya," ucap tuan muda begitu khawatir.
Bi Tias mencerna apa yang dikatakan oleh tuannya itu, dan seketika bi Tias bengong dan mulai tampak cemas.
"Ya Tuhan, Bibi baru menyadarinya, Tuan. Jika seperti itu maka sangat berbahaya bagi nona Naya, Tuan. Kasihan dia jika memorinya di masa lalu tidak bisa dia ingat bersama kedua orang tuanya," bi Tias benar-benar panik.
Tuan muda menyeringai jahat saat mendengar perkataan bi Tias tentang masa lalu seorang Kanaya Aurora.
Tuan muda begitu senang dengan perubahan sikapku yang begitu membaik akhir-akhir ini, tidak seperti dulu saat Aku membencinya pertama kali akibat ulahnya, dan juga sekarang tuan muda tidak ingin membiarkan Aku jatuh kepelukan orang lain.
"Bi, tolong awasi Naya setiap saat. Saya takut jika terjadi sesuatu padanya yang tidak kita ketahui," pinta tuan muda Aras yang telah bangkit dari duduknya.
"Panggilkan Naya , saya mau berangkat ke kantor sekarang!" perintah tuan muda pada bi Tias.
"Baik Tuan."
Tuan muda berjalan menuju halaman depan rumah di mana sang supir memarkirkan mobil milik tuan muda. Sedangkan bi Tias langsung bergegas memanggilku di kamar.
Tuan muda berdiri di samping mobilnya sembari membenarkan dasinya lewat kaca mobil. Saat itu Aku yang sudah berada di dekatnya pun muncul dari arah pantulan kaca mobil tersebut. Aku pun tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Kok udah berangkat aja, sih? Ini masih terlalu pagi untuk kamu ke kantor," ucapku yang langsung memeluk tuan muda dari belakang.
"Karena ada rapat dadakan dan rekan bisnis saya satu jam lagi akan datang ke kantor, jadi saya nggak mau telat," tuan muda berbalik ke hadapanku.
"Kamu baik-baik di rumah, ya. Kalau kamu pusing atau perlu sesuatu, panggil bi Tias atau pelayan yang lainnya, mengerti?" tuan muda meraih wajahku sambil menatap dalam.
"Ok, siap Bos!"
Aku tersenyum sambil mengedipkan mataku sebelah ke arahnya dengan senyuman.
Cup
Tuan muda mengecup keningku dan mengelus kepalaku dengan lembut.
Itulah hari-hari yang selama beberapa bulan terakhir ini kami jalani. Begitu indah dan sangat bahagia. Aku mulai benar-benar menyukai sosok pria ini, tuan muda Aras.
Perubahan antara Aku dan tuan muda sangat di warnai kebahagian. Banyak dari orang-orang sekitar yang sangat menyukai kehangatan sikap tuan muda, terlebih lagi bi Tias yang sangat bersyukur bahwa tuan muda Aras yang dulu telah kembali ceria.
"Bibi senang melihat keharmonisan kalian berdua, Nak. Tetaplah ceria seperti dulu lagi. Kamu beruntung mendapatkan wanita baik seperti non Naya. Tuan Halim tidak salah memilihkan istri untuk kamu, Aras. Semoga kebahagian selalu menyertai kalian selamanya," gumam bi Tias yang sedari tadi memandangi ke arah kami berdua dari balik jendela rumah.
Di tempat lain, di dalam sebuah apartemen yang cukup elit, seorang pria yang sedang menghisap rokoknya menatap tajam ke arah dua anak buahnya yang berdiri di depannya.
"Kalian tahu, jika aku tidak suka dengan pekerjaan yang sia-sia. Jadi aku tidak ingin rencanaku gagal kali ini. Aku ingin lihat sejauh mana Aras bertahan dengan istrinya itu," ucapnya pada dua anak buahnya yang masih tertunduk hormat.
"Kasihan sekali Naya, dia gadis yang terjebak dengan masa lalu seorang Aras Ahmet, malang sekali nasib Naya."
"Tugas kalian berdua, awasi terus pergerakan Aras sampai dia pergi dari Jakarta. Untuk tugas lainnya, Aku sudah meminta bantuan sahabatku di Italia untuk mengurus sisanya," perintah pria itu kepada dua anak buahnya untuk memata-matai Aras, seakan dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Aras.
"Baik Bos, akan kami laksanakan!" jawab dua anak buahnya dengan tunduk dan patuh.
Seringai nakal terbit di wajah pria itu dengan penuh tawa saat dua anak buahnya meninggalkan dia sendirian.
__ADS_1
"Aku tidak sabar ingin berjumpa kembali denganmu Aras Ahmet, hahaha!" tawanya tanpa henti.
Bersambung....