
Sore hari, sepulang dari kantor, sengaja Aku bergelayut manja pada tuan muda, Aku begitu semangat karena Aku bisa melihat pemandangan di luar bersamanya hingga Aku tak peduli pada sang supir yang berada di antara kami berdua.
Tuan muda pun tak menolak dengan tingkahku seperti anak kecil yang begitu manja. Dia hanya menahan rasa malunya melihat ke arah spion dengan menatap supirnya tajam, menandakan untuk tidak melihat kelakuan kami di belakang dirinya.
"Pak, ambil kiri dong. Kita berhenti di sini sebentar!" pintaku dengan cepat saat melihat kedai ice cream berjualan.
"Mau apa kamu, Naya?" tanya tuan muda bingung.
"Aku mau ice cream itu. Kita ke sana yuk, sayang. Aku sudah lama nggak makan ice cream. Ayolah, please!" desakku sambil menarik-narik lengannya merengek.
Tanpa pikir panjang, akhirnya tuan muda terpaksa mengabulkan permintaanku. Aku memesan begitu banyak ice cream dengan berbagai rasa. Ada rasa cokelat, vanila, strawberry, black currant, durian, alpukat, hingga berbagai rasa buah-buahan lainnya hingga Aku mengambil 20 ice cream yang kubeli.
"Nay, kau yakin memakan semua ice cream itu?" tanya tuan muda tercengang tak percaya.
"Iyalah, malah ini terlalu sedikit. Ya sudah, tolong kau bayar ini," ucapku tenang sambil tersenyum puas.
Tuan muda hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya heran melihat tingkahku.
Setelah membayar semua ice cream yang kubeli, Aku tak akan membiarkan kesempatan ini berakhir begitu saja. Aku meminta pada tuan muda sesuatu yang sangat Aku rindukan, dan pilihanku jatuh pada bakso di pinggiran jalan yang sudah lama Aku tidak memakannya.
"Kiri, kiri, kiri ... kita berhenti di sana. Aku ingin makan bakso di tempat itu, boleh ya sayang. Selama Aku menikah denganmu Aku tidak pernah makan bakso itu lagi. Kita makan bakso di sana dulu, ya sayang!" desakku meminta dengan manja kembali hingga menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Ah, baiklah ... setelah ini kita pulang," ucap tuan muda sedikit kesal.
Akhirnya kami makan bakso tempat Aku biasa memakannya bersama kak Niko. Aku hanya merindukan baksonya bukan merindukan kenanganku makan bakso bersama kak Niko.
"Gimana, enak kan sayang?" tanyaku sembari memakan bakso.
__ADS_1
"Ya enak," ucapnya datar.
Tuan muda memakan bakso itu dengan ragu, entah dia ragu karena makan di pinggir jalan atau ragu karena kurang yakin dengan rasanya atau kebersihannya. Tapi dia sangat menikmati makannya saat memasukkan bakso yang ketiga kalinya ke dalam mulut. Aku rasa tuan muda mulai menyukainya.
"Bakso di sini itu tempat favorit aku, pokoknya enaknya pake banget deh," ujarku begitu senang.
Tuan muda tersenyum melihatku begitu bahagia. Baru kali ini dia melihat kebahagiaanku yang hanya sekedar bebas satu hari dengan membeli ice cream dan semangkuk bakso.
"Aku senang melihatmu tertawa bahagia seperti itu, Nay. Tolong maafkan aku karena egoku dan ketakutanku akan pengkhianatan yang membuatmu terkurung di rumah sepanjang hari," batin tuan muda sembari tersenyum kecil.
Hari sudah sangat sore, tuan muda melihat jam di tangannya.
"Ayo, Nay kita pulang," pinta tuan muda bergegas.
Kami masuk ke dalam mobil, dan saatnya untuk kami pulang. Aku begitu murung saat mobil sudah membelokkan arah menuju rumah dan itu sangat menyebalkan.
Lagi-lagi tuan muda menghela nafasnya sedikit kasar. Dia benar-benar pusing dengan tingkahku yang satu ini.
"Ini hampir magrib, Nay. Aku juga capek dan ingin istirahat, lain waktu saja," ucap tuan muda menolak dengan sangat sopan.
"Hemm ... kapan waktunya? Besok, satu minggu lagi, satu bulan lagi atau satu tahun lagi? Bahkan kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu," tanyaku dengan dugaan-dugaan yang mungkin hanya didengar saja oleh suamiku itu.
"Nanti, saat aku libur. Aku janji akan ajak kamu jalan-jalan dan makan malam di luar," kata tuan muda membuat janjinya.
"Kau bohong," Aku memalingkan wajahku ke arah samping jalanan.
"Akan aku usahakan mencari waktu luang hanya untuk kamu, percayalah!" ujarnya meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku tunggu waktu itu."
"Terima kasih, sayang!" tuan muda meraih tanganku lalu menciumnya.
Aku beralih pandang ke arah suamiku, dia tersenyum lalu mendekatiku kemudian merangkulku dan memasukkan kepalaku ke dalam dadanya, dia pun memelukku.
"Percayalah padaku, sungguh aku akan mengusahakan waktu luang untukmu, Nay. Kita akan pergi kemana pun kamu mau. Janjiku pasti akan aku tepati. Tolong jangan marah lagi padaku."
Tuan muda mencium puncak kepalaku bertubi-tubi sambil mengelus rambutku begitu lembut tanpa rasa malu saat sang supir melihat aksinya menciumku melalui kaca spion depan.
Aku pun tersentuh dengan ucapan suamiku, timbul rasa percaya atas apa yang dia janjikan padaku. Aku rasa dia berkata jujur dan tulus dari hatinya.
Aku merasa bahagia dan sangat bahagia bila perlakuan tuan muda selamanya seperti ini, maka aku benar-benar bisa memaafkan dia di masa lalu pada insiden kecelakaan ibu dan ayah, dan pasti aku tidak akan lagi membenci suamiku ini. Apalagi dia sudah menyesali perbuatannya dulu dan meminta maaf beberapa kali padaku.
Aku sudah terperangkap dalam cintanya. Dia yang jelas-jelas sudah memperlakukan aku dengan buruk dulu, tapi semakin lama semakin aku tahu sifatnya karena suatu hal kesalahpahaman yang sudah dia sadari tentang pernikahan kami.
Lalu kepura-puraanku menjadi seorang yang kehilangan ingatan, membuat suamiku ini peduli dan jatuh cinta padaku.
"Nay, kau percaya padaku, kan?" tanya tuan muda kembali memastikan.
"Aku percaya padamu, tapi tolong jangan buat aku kecewa," ucapku mendongak menatap wajahnya.
"Ya, pasti sayang," Tuan muda tersenyum manis sembari mengangguk beberapa kali.
Kami saling berpelukan, nyaman dan tenang kami rasakan hingga kami larut dalam buaian kemesraan, dan tanpa kami sadari sang supir sedari tadi tersenyum-senyum melihat kebahagiaan kami berdua.
Bersambung....
__ADS_1