Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Peran Istri yang Baik


__ADS_3

Setelah selesai makan, kini giliran jus alpukat yang menarik perhatianku. Hemm, bisa-bisanya si Aras itu membodohiku. Jelas-jelas Aku tahu di dalamnya mengandung obat yang tersembunyi, hanya warnanya saja membuatnya tak nampak, coba saja kalau ini air mineral, pasti warnanya keruh.


Aku pun membuang jus alpukatnya kemudian Aku hanya meminum air mineral yang memang sudah Aku sediakan sendiri dari dapur.


Selagi masih banyak waktu, Aku harus mempersiapkan diriku untuk peran yang akan kumainkan besok pagi. Ya, karena obat itu butuh beberapa jam untuk reaksi yang dikeluarkan oleh orang yang meminumnya. Jadi Aku harus pandai-pandai berakting agar dikiranya Aku benar menghabiskan jus yang dia buat.


Keesokan pagi, seperti biasa tuan muda masuk ke dalam kamarku dan membangunkan Aku.


"Naya ... Naya bangun," tuan muda menggoyang-goyangkan tubuhku.


Aku perlahan membuka mataku lalu bangkit duduk dan langsung beralih menatapnya dalam pandangan kosong.


"Nay, are you ok?" dia bertanya sambil memicingkan matanya.


Tatapan mataku masih saja kosong. Ya, inilah saatnya Aku ingin melihat bagaimana tuan muda memperlakukan diriku yang seolah-olah Aku kehilangan ingatan menurut dia.


"Aku dimana? Aku siapa?" tanyaku dengan berpura-pura linglung sembari melirik sekeliling kamar.


"Kamu di rumah dan ini kamar kamu. Nama kamu Naya," jawab tuan muda.


"Kamu siapa?" tanyaku kembali.


"Saya ... saya suami kamu," jawab tuan muda sedikit ragu.


Aku memegang kepalaku seolah Aku mengingat-ingat tentang jati diriku.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa Aku melupakan semuanya? Namaku, keluargaku bahkan suamiku sendiri, hiks... hiks...," Aku pura-pura menangis dengan kencang.


Tuan muda meraih kedua tanganku kemudian memelukku dan menenangkan diriku.


"Ssttt ... jangan memaksakan untuk mengingat semuanya. Ini hanya sementara, nanti kamu akan mengingat kembali, kok."


Wow, luar biasa sekali tuan muda ini. Ucapannya dan perhatiannya seakan sempurna di mata wanita. Begitu hangat dan nyaman saat di dalam pelukannya. Entah apa yang Aku rasakan, tapi Aku sangat menyukai perilaku tuan muda saat ini.


Tapi ini hanya sebuah drama, dan mungkin tuan muda pun melakukan yang sama seperti diriku.


"Tapi Aku istri yang tidak berguna dan selalu menyusahkan kamu," Aku kembali berpura-pura menyalahkan diri sendiri di hadapan tuan muda.


"Tidak, kamu itu istri yang baik dan selalu menuruti perintah suami. Makanya saya suka sama kamu," ucap tuan muda yang perlahan melepaskan pelukannya dariku.


"Benarkah?" tanyaku.

__ADS_1


Tuan muda hanya mengangguk dan tersenyum manis padaku.


"Sekarang, saya ingin kamu menandatangani surat ini?" dia menyodorkan satu lembar kertas dari tas kerjanya kepadaku.


"Ini apa?"


"Surat penting yang harus kamu tanda tangani."


Sekilas Aku melihat dari isi surat itu yang berisi tentang saham yang akan dikelola olehnya. Sedangkan itu adalah saham bagianku. I got it.


Jadi itu maksudnya, tuan muda sengaja membuatku kehilangan ingatan karena dia ingin menguasai saham yang telah diberikan oleh tuan Halim padaku. Tuan muda benar-benar tidak rela sahamnya jatuh ke tanganku. Jelas ini penipuan.


Sangat disayangkan, padahal jika tuan muda memintanya baik-baik pasti Aku akan memberikan seluruh saham itu padanya. Karena memang Aku tidak pantas mendapatkan kekayaan dari keluarga Ahmet.


"Nay, ini kamu tanda tangani di sini sekarang!" tuan muda menyerahkan sebuah pena bertinta hitam kepadaku.


Dengan cepat Aku meraih pena itu dari tangannya dan hendak menandatangani surat itu. Tapi tunggu dulu ... bukankah Aku sedang kehilangan ingatan? Lalu bagaimana Aku menandatanganinya? Huft, untung saja Aku langsung kepikiran. Jika tidak maka tuan muda akan curiga padaku.


"Aku tidak ingat bagaimana tanda tanganku," ujarku padanya.


"Ini ... kamu bisa menirunya bukan?" Tuan muda langsung memberikan contoh tanda tanganku dari berkas pernikahan kami.


Aku hanya mengangguk pelan dan mulai berpura-pura meniru tanda tanganku sendiri.


"Terima kasih, ya. Sekarang kamu istirahat dan kalau perlu sesuatu panggil saja pelayan. Saya pergi ke kantor dulu," Tuan muda mengelus rambutku dengan lembut kemudian bangkit dan melangkah pegi dari kamarku dengan membawa kertas yang telah kutandatangani tadi.


Begitu lembut perlakuannya kepadaku begitu juga dengan suaranya yang sangat halus, tidak seperti pertama kali Aku brtemu dengannya. Hemm, apa karena Aku yang kehilangan ingatan ini membuatnya berlaku sopan padaku? Bisa jadi, sih.


Rasanya Aku rela jika harus kehilangan ingatan asalkan tuan muda Aras berlaku lembut, sopan dan perhatian padaku. Tapi, ah tidak ... tidak ... Aku tidak akan pernah memberinya celah di hatiku. Lagi pula hati ini masih milik kak Niko.


Sejenak Aku merasa bosan di kamar, dan sebelum tuan muda pergi ke kantornya, ada baiknya Aku akan menjalankan peranku sebagai istri yang baik. Let's go!


"Tunggu!" Aku menahan langkah tuan muda saat hendak naik ke mobilnya.


"Naya, kenapa kamu keluar dari kamar?" tanya dia dengan panik.


"Aku mau mengantar kamu sampai depan sini, kok. Aku kan istri kamu jadi wajib untuk mengantar suaminya yang berangkat kerja sampai depan pintu rumah."


"Lagian aku bosan di kamar, nggak apa-apa kan?"


Aku bertanya sambil menatapnya dengan muka memelas.

__ADS_1


"Oh, i-iya ... baiklah, tapi kamu nanti istirahat di kamar jangan kemana-mana, ya!" jawabnya bingung hingga akhirnya tuan muda lagi-lagi menyuruhku untuk selalu berada di kamar.


"Hemm, heran deh selalu saja bicara begitu," batinku kesal.


Aku mengangguk dan tersenyum ramah padanya padahal hatiku terasa muak.


Dia berbalik kembali melangkahkan kakinya hendak masuk ke mobil, tapi Aku langsung menarik tangan kanannya dengan cepat dan menciumnya sebagai tanda bakti seorang istri kepada suaminya.


"Kenapa begitu?" tanya tuan muda heran.


"Seorang istri harus mencium tangan suaminya ketika hendak pergi bekerja," kataku membuatnya salah tingkah.


"Emm ... ya, sa-saya berangkat sekarang," gugupnya hingga dia pamit pergi.


"Tunggu dulu!"


Aku menahan kembali tangan suamiku itu.


"Ada apa lagi, Nay?" tanyanya kesal.


"Kamu lupa, jika setiap suami hendak pergi bekerja itu sang suami harus mencium kening istrinya atau ... mencium bibir istrinya karena disinilah letak sumber ketenangan dan memberi semangat untuk suami," ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.


Ingin sekali Aku tertawa saat membuat wajah tuan muda Aras menegang atas permintaan konyolku.


"Ah sial lagi-lagi senjata makan tuan, saya harus berperan sebagai suami yang baik pada gadis ini, menyebalkan!" batin tuan muda kesal.


Tuan muda mendekat padaku lalu dengan terpaksa dia mengecup keningku dengan kaku.


Cup


Wah, ternyata tuan muda benar melakukannya.


Tuan muda menatapku kembali kemudian melirik bibirku sekilas lalu mendekat perlahan. Stop, no bibir. Aku nggak mau itu terjadi.


"Sial, padahal Aku hanya bercanda saja tentang itu. Oh, no no noooo!" batinku sambil memejamkan mata.


"Saya berangkat sekarang, masuklah ke kamarmu!" bisik tuan muda di telingaku.


Seketika Aku membuka mataku perlahan.


Syukurlah, Aku lega mendengarnya. Setidaknya memang suamiku ini bukan orang yang mesum.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati di jalan!" ucapku mengangguk dan tersenyum puas.


Bersambung....


__ADS_2