Peranku Bersama Tuan Muda

Peranku Bersama Tuan Muda
Meminta dalam Kemarahan


__ADS_3

Seperti malam kemarin, setelah sehari dia kembali dari Italia, tuan muda perlahan mendekatiku dengan senyuman indahnya. Dia membelai wajahku, membelai rambutku dengan kelembutan. Dan tatapan matanya tak pernah lepas dari memandangiku seperti menghipnotis diriku agar Aku tenang dan tidak menangis lagi.


Dan saat ini, dia kembali menelisik wajahku dan turun ke bibirku yang seakan tuan muda ingin menciumnya. Aku menahan dadanya agar dia tidak mencium bibirku karena mungkin tuan muda akan memangsa bibirku tiada ampun kali ini. Aku tidak ingin bibirku berdarah lagi karena ulahnya.


"Kau sudah tidak suka bila aku mencium kamu?" tanya tuan muda cukup tenang.


"Bi-bibirku masih terasa sakit," jawabku pelan dan sedikit ada keraguan.


"Aku tidak akan membuat bibir ini berdarah lagi. Aku akan menciumnya dengan sangat pelan, percayalah!" tuan muda meyakinkan ucapannya padaku lalu mengelus bibirku berkali-kali dengan lembut.


Aku hanya diam tak berani berkata-kata saat wajahnya yang kulihat begitu menyeramkan.


Tuan muda menatap wajahku dalam, kemudian mulai mencium bibirku dengan lembut dan benar-benar sangat lembut. Entah apa yang akan direncanakan oleh suamiku ini, Aku tidak tahu. Aku berharap ucapannya bisa dipercaya dan dia tidak menyakitiku lagi


Aku hanya memejamkan mataku, bukannya menikmati ciuman itu melainkan Aku sangatlah ketakutan jika tuan muda mengingkari janjinya. Aku takut ciuman itu berubah menjadi bencana karena kemarahannya yang dia pendam.


"Jangan tegang, sayang. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!" ujar tuan muda meyakinkanku kembali.


Dan benar, memang tuan muda melakukannya dengan lembut dan pelan. Tapi saat dia sudah puas dengan bibirku, kini pandangan matanya jatuh pada dadaku. Dia berhenti sejenak seolah berpikir sesuatu.


Tak lama kemudian, tuan muda mulai menyentuh bajuku dan perlahan membuka kancing baju atasku setelah itu membuka kancing baju kedua dan seterusnya. Matanya masih terpaku melihatku sambil melakukan aksinya. Saat membuka kancing bajuku yang terakhir, Aku langsung menghentikan aksinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku sambil memegang kedua tangannya.


"Apalagi yang akan kulakukan selain melakukan kewajibanku sebagai seorang suami. Selama ini aku hanya melakukan dasarnya saja dan kali ini aku akan melakukannya dengan sempurna hingga ke intinya," ucap tuan muda penuh penegasan.


Aku kaget oleh ucapan tuan muda Aras. Memang selama ini kami belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri, di samping itu juga Aku tak ingin memintanya duluan pada suamiku yang jelas-jelas masih ada sesuatu rahasia yang tersimpan olehnya. Mungkin karena itu juga dia masih meragukan kesetiaanku.

__ADS_1


"Aku ingin melaksanakan tugasku dan sekaligus aku ingin mewujudkan apa yang disebutkan di dalam surat wasiat papa. Kamu tahu itu kan, sayang?" ucap tuan muda bertanya sambil membelai rambutku.


Aku hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan dari suamiku itu.


"Aku sekarang tidak peduli soal warisan dan saham yang papa berikan padamu. Aku akui memang aku marah dan kecewa. Tapi satu hal yang harus kamu penuhi untukku," ujar tuan muda sembari meminta sesuatu padaku di akhir kalimatnya.


"Apa itu?" tanyaku dengan cemas.


"Saatnya kita untuk mempunyai anak, mempunyai keturunan. Aku menginginkan pewaris di keluarga Ahmet," bisik tuan muda lembut seolah menggodaku dengan bujukkannya.


Aku tersentak kaget, diam menatap matanya yang menatapku juga hingga mencium wajahku juga bibirku berkali-kali.


Aku senang jika tuan muda meminta haknya padaku apalagi meminta seorang anak dariku. Itu pun juga sudah aku tunggu-tunggu darinya. Tapi saat ini adalah waktu yang tidak tepat karena Aku yakin tuan muda menginginkannya bukan dari hatinya tapi dari kemarahannya dan kekecewaannya padaku.


Ini tidak benar, maka sebisa mungkin Aku harus menghentikan aksi tuan muda sebelum dia menyesalinya.


"Apa kau tidak ingin mempunyai anak dariku? Mana janjimu yang akan setia hidup bersamaku? Jadi benar jika kau memang berniat meninggalkanku demi pria yang bernama Luis itu? Apa Luis itu mantanmu atau pria yang menyukaimu dulu saat kamu kuliah di Luar Negeri, hah? Katakan yang sebenarnya padaku, Naya?" tanya tuan muda tak hentinya menuduhku dengan matanya membulat penuh kesal.


"Mengapa kau tidak percaya padaku? Aku ini istrimu, kau tidak pantas menuduhku sebelum kau mengetahui kebenarannya. Apa yang kau lihat bukan berarti selalu benar. Aku kecewa padamu," ucapku menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.


"Kecewa? Jangan bilang kecewa di depanku karena aku lah yang lebih kecewa dan terluka dalam masalah ini, Naya!" tuan muda membentakku cukup keras.


"Akan aku buktikan bahwa aku tidak pernah mengkhianatimu. Sebenarnya Luis datang ke Jakarta karena mempunyai urusan denganmu. Aku adalah alat yang hanya dimanfaatkan oleh dia untuk membuatmu marah. Percayalah padaku!" Aku berusaha untuk meyakinkan tuan muda agar dia percaya padaku.


"Jangan membuat alasan agar aku mengampunimu, Naya. Pikiranku sedang kacau saat ini, mengerti?"


Tuan muda malah semakin kesal dan menyerangku. Dia tidak percaya padaku. Dia semakin menjadi. Dia merobek pakaianku. Aku sangat ketakutan dengan kelakuannya saat ini.

__ADS_1


Plakkk


Akhirnya dengan terpaksa Aku menampar wajah suamiku cukup keras. Matanya memerah dan mengepalkan tangan kanannya seakan dia ingin membalasku.


"Ma-maaf, a-aku tidak sengaja. A-aku hanya tidak ingin kau melampiaskan amarahmu dengan meminta hakmu padaku saat ini. Sungguh ini tidak benar," kataku dengan gugup sambil menenangkannya.


"Aku tidak peduli bagaimana kondisiku saat ini, yang aku inginkan adalah melakukan kewajibanku sekarang!" ujarnya dengan suara menekan.


Aku menjadi semakin takut dibuatnya. Tuan muda pun tak mengindahkan ucapanku. Dia malah menarik tubuhku agar Aku duduk di hadapannya dan dia bisa leluasa menjamahku. Aku pun tak mau kalah dan akhirnya Aku berontak keras.


"Hentikan, kau menyakitiku. Please, hentikan!" Aku menangis dan meminta permohonan padanya.


"Naya, hentikan tangisanmu. Jangan buat aku marah!" bentaknya dengan kasar.


Aku langsung memeluknya dan berusaha membujuk suamiku agar dia tidak melakukan perbuatannya tanpa dia sadari akibatnya nanti.


"Aku mohon, jangan sakiti aku lagi. Aku sangat lelah. Aku mohon ... aku mohon," ucapku sambil menangis terisak dan memeluknya dengan erat kali ini.


Dan benar saja, lama-kelamaan tuan muda sedikit luluh. Nafasnya yang memburu kencang, sekarang sudah mulai tenang. Sepertinya dia tidak tega melihatku menangis dan kesakitan.


Akhirnya tuan muda melepaskan pelukanku begitu saja.


"Sana, pergilah mandi. Makan malam biar bi Tias yang bawakan ke kamar ini. Aku akan pergi sebentar. Jangan ke luar kamar sebelum aku perintahkan!"


Tuan muda bangkit berdiri dan melangkah pergi dari kamar dengan membawa kemarahannya sehingga membanting pintu dengan keras.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2